
Oleh: Aulia Rahmah
(Kelompok Penulis Peduli Umat)
Linimasanews.id—Beberapa kasus pembunuhan secara sadis terjadi belakangan ini. Kasus pembunuhan dilakukan oleh AAP (20) terhadap PSK berinisial RA (23) di Kec. Kuta, Badung, Bali. Tersangka memasukkan jasad korban ke dalam koper lalu membuangnya di Jalan Panjang, Kel. Jimbaran. Pembunuhan secara sadis oleh tersangka dengan memasukkan korban ke dalam koper juga terjadi di Jalan Inspeksi Kalimalang, Cikarang, Kab. Bekasi. Pembunuhan dan mutilasi juga dilakukan oleh seorang suami di Rancah, Ciamis, Jawa Barat terhadap istrinya (cnnIndonesia.com, 5/5/2024).
Inilah potret masyarakat sekuler yang jauh dari nilai-nilai agama. Sebuah hubungan terjalin hanya demi memuaskan kebutuhan yang bersifat jasadiyah (jasmani) dan materi semata. Seorang wanita menjual kehormatannya hanya demi memburu harta yang tidak seberapa berharga. Seorang Laki-laki hidung belang, demi memuaskan naluri seksualnya rela mengorbankan kesehatannya, dengan berganti-ganti pasangan.
Seorang suami istri pun demikian, hubungan pernikahan, yang di dalam Islam terkategori bentuk ibadah yang terlama (seumur hidup), akan sirna keharmonisannya ketika kepuasan jasmani dan materi sudah tidak di dapat. Istri mudah protes ke suami yang sedang down usahanya. Suami jadi ringan tangan memukul istrinya karena bosan dengan celotehannya. Dan seabrek permasalahan yang menggerus hubungan karena motif kepuasan jasmani dan materi sudah tidak ada lagi. Bahkan hubungan ini berakhir dengan pembunuhan yang menghilangkan rasa kemanusiaan dan kasih sayang.
Seseorang yang mengambil pandangan hidup materialistis, menjadikan materi sebagai standar kebahagiaan sehingga tujuan hidupnya adalah untuk meraih materi sebanyak-banyaknya. Tanpa memikirkan cara yang benar dalam meraihnya, masyarakat sekuler menganut liberalisme yang menghalalkan segala cara. Akibatnya, pemaksaan kehendak terjadi, emosi negatif tak terbendung. Ditambah bujuk rayu setan yang suka menyesatkan, tangan manusia menjadi ringan untuk berbuat kriminalitas.
Maraknya kasus kriminalitas belakangan ini terjadi karena output pendidikan sekuler kapitalisme. Tanpa agama, terbukti membuka celah bagi seseorang untuk berbuat kriminalitas. Makin kuat status sosial dan penguasaan pada materi (uang), seseorang makin tamak dan makin memaksakan kehendak dalam memenuhi kebutuhan nalurinya. Ditambah sistem sanksi negara yang ringan dan tak menjerakan, membuat kasus kriminalitas dan pembunuhan sulit dibendung. Makin ke sini, kasus serupa makin banyak terjadi. Pasalnya, kegagalan negara dalam membasmi kejahatan, berdampak kejahatan serupa akan marak. Karena perbuatan seseorang yang telah viral akan menjadi contoh solusi bagi banyak orang.
Islam menetapkan bahwa tujuan hidup manusia bukan semata untuk meraih kebahagiaan duniawi (jasmani dan materi). Lebih dari itu, Allah memberi jalan bagi manusia agar saat mencari kebahagiaan dan kepuasaan hidup tidak hanya pada hal-hal yang bersifat materi dan jasmani saja. Namun, juga kepuasaan dan kebahagiaan yang bersifat ruhiyah (hubungan antara manusia dengan Tuhannya), akhlak, dan kemanusiaan. Inilah yang dinamakan dengan ibadah.
Saat seseorang menjadikan ibadah sebagai tujuan hidupnya dan melakukan peribadatan sesuai aturan yang benar dari Allah Swt., seseorang tak hanya meraih kebahagiaan dan kepuasaan materi dan jasmani saja, tetapi sekaligus meraih cinta dari Allah dan Rasul-Nya, dan semua makhluknya. Dampak lainnya, Allah akan mengenalkan kebahagiaan itu hingga di kehidupan kekal, yakni surga-Nya.
Kesadaran akan tujuan hidup yang benar diperoleh dari penerapan sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam. Dengan mempelajari Islam secara utuh akan membentuk pola pikir dan pola sikap seseorang menjadi islami. Seseorang, dalam memenuhi kebutuhannya, akan mencari jalan yang benar. Misalnya, ketika lapar, Islam mengajarkan untuk mencari rezeki dari jalan yang halal, makan dengan makanan yang halal dan thayyib, menggunakan tangan kanan, membaca basmalah, mengambil makanan yang terdekat, dsb.
Begitupula saat memenuhi kebutuhan naluri seksual, seseorang yang telah terdidik dengan Islam akan mengambil perbuatan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad saw. yakni dengan menikah. Jika belum mampu menikah, dengan berpuasa dan menahan pandangan, juga menjaga pergaulan antara lawan jenis.
Seorang suami dan istri pun tidak mudah mengeluh dan protes dengan kekurangan pasangannya. Mereka akan bersabar dan berikhtiar semaksimal mungkin, tanpa terpikir untuk berbuat nista, pelanggaran, apalagi kriminalitas dan pembunuhan. Karena kondisi apa pun bagi orang beriman akan menjadi baik jika dikembalikan kepada tujuan hidup untuk ibadah. Ketika lapang bersyukur, ketika rezeki sempit akan bersabar. Mereka menyadari bahwa kesempitan hidup dunia bukanlah apa-apa, yang patut dikhawatirkan adalah kesempitan hidup saat kembali kepada Allah kelak di hari akhir.
Output pendidikan Islam akan mewujudkan manusia saleh yang dapat menjaga dirinya dari tindak kejahatan. Setiap individu menjadikan ibadah sebagai prioritas hidupnya. Mereka menyadari bahwa hidup bukanlah di dunia ini saja, sehingga meraih kepuasan yang bersifat materi dan jasmani saja, bukanlah prioritas. Ada tujuan hidup yang benar yakni untuk ibadah. Dengan memurnikan ibadah, semua kepuasan baik materi, jasmani, ruhiyah, akhlak, dan kemanusiaan akan terpenuhi.
Dari pribadi yang saleh, terbentuk keluarga islami yang harmonis. Dari keluarga islami, akan terbentuk masyarakat yang islami. Didukung penerapan syariat lslam kaffah oleh negara, dan para penegak hukum yang bertakwa, berbagai tindak kriminalitas akan mudah ditumpas. Ibadah menjadi prioritas, derajat manusia mulia sesuai janji Allah, menjadi khalifah karena tunduk dan patuh pada aturan-Nya. Wallahu a’lam bishawab.


