
Suara Pembaca
Dikutip dari detik.com (8/7/2024). Harga minyak goreng curah di Sumut terpantau terus melambung di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Bahkan para pedagang pasar di Medan kini kesulitan mendapatkan pasokan. “Susah sekarang dapat stoknya, lebih suka pembeli beli Minyakita atau minyak bermerk,” ungkap pedagang Pasar Raya MMTC Dina.
Berdasarkan data Disperindag ESDM Sumut, Senin (8/7/2024), harga minyak goreng curah tertinggi berada di Kabupaten Tapanuli Utara mencapai Rp14 ribu per liter, kemudian disusul oleh Kabupaten Nias Utara seharga Rp17.500, dan Asahan seharga Rp17 ribu per liter.
Minyak goreng merupakan bahan pokok yang banyak di gunakan masyarakat, namun kenaikan harga minyak goreng yang terus berulang akan berakibat pada semakin sulitnya kehidupan masyarakat, terutama pada kaum ibu- ibu. Mereka harus menambah kocek demi mendapatkan minyak goreng untuk pemenuhan dapur mereka.
Para pedagang kecil juga akan terkena dampaknya karna naiknya harga jual yang mengakibatkan sepinya pembeli, dan pastinya mereka akan mengalami kerugian yang cukup tinggi. Hal ini tentu menambah beban rakyat dan menambah angka kemiskinan, dan berujung pada kelaparan dan berpotensi menambah angka kriminalitas.
Sebagai penghasil atau produsen kelapa sawit terbesar di dunia, mengapa negeri ini mengalami lonjakan harga minyak goreng yang begitu tinggi? Inilah bukti rusaknya sistem ekonomi kapitalisme (meraih untuk sebanyak-banyaknya) negara hanya berfungsi sebagai regulator bukan sebagai pelayan rakyat yang berperan dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat.
Konsep kapitalisme menjadikan negara harus menyerahkan urusan pangan termasuk minyak goreng kepada kelompok swasta. Berbeda jauh bila sistem Islam yang diterapkan. Islam mewajibkan negara bertanggung jawab penuh atas jaminan terpenuhinya kebutuhan pangan (termasuk stabilitas harga), sandang dan juga papan serta kebutuhan dasar berupa kesehatan, pendidikan dan juga keamanan setiap individu masyarakat.
Tanggung jawab ini tidak hanya kepada masyarakat saja, tetapi juga di hadapan Allah Swt. Seperti hadis Rasulullah saw., “Imam (pemimpin negara) adalah raa’i (pengurusan rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Bukhari)
Hanya sistem Islam satu-satunya solusi setiap permasalahan umat, dan dipastikan umat akan merasakan kesejahteraan.
Saniati


