
Oleh. Irohima
“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya ….” (QS Al-Baqarah: 286)
Linimasanews.id—Penggalan ayat Al-Qur’an tersebut sudah lebih dari cukup menjadi pembelajaran bagi kita bahwa seberat dan sesulit apa pun ujian hidup yang kita hadapi akan dapat diatasi. Seyogianya, keyakinan inilah yang harus kita tanamkan dalam jiwa kita. Sehingga, dalam menjalani hidup kita mampu untuk senantiasa bersabar, tawakal, ikhtiar, serta senantiasa berdoa kepada Allah agar dilindungi dan dijaga serta diberi petunjuk dalam upaya menyelesaikan permasalahan hidup.
Namun sayangnya, masih banyak orang yang tak memiliki keyakinan ini. Mereka justru tenggelam dalam persoalan yang menyebabkan depresi, putus asa, dan pada akhirnya memilih bunuh diri. Kasus bunuh diri sedang marak terjadi, jika sebelumnya kasus bunuh diri umumnya ramai terjadi di luar negeri, kini kasus tersebut tengah menghantui negeri.
Menurut data, terdapat 287 kasus bunuh diri yang tercatat dari awal Januari hingga Maret 2024 dan kasus terbanyak terjadi di Jawa Tengah. Sementara itu di sisi lain provinsi Bali kini tengah menjadi sorotan, karena angka suicide rate atau tingkat bunuh diri di Bali menjadi paling tinggi se-Indonesia. Angka suicide rate dihitung berdasarkan jumlah kasus bunuh diri yang dibandingkan dengan jumlah penduduk. Dalam hal ini Pusat Informasi Kriminal Indonesia (Pusiknas) mengungkap bahwa laporan kasus bunuh diri di Bali, angkanya telah mencapai 3,07 di sepanjang tahun 2023.
Angka ini jauh melampaui angka suicide rate yang dimiliki DI Yogyakarta yakni sebesar 1,58 dan Bengkulu dengan angka suicide rate sebesar 1,53. Dan provinsi yang memiliki angka suicide rate terendah seluruh Indonesia adalah Aceh yang hanya sebesar 0,02. Menurut Dokter Spesialis kejiwaan RSUP Prof Ngoerah, Anak Ayu Sri Wahyuni, penyebab tingginya kasus bunuh diri di Bali adalah faktor biologis dan psikososial (CNNIndonesia.com, 2/7/2024).
Bunuh diri adalah sebuah aksi untuk mengakhiri hidup diri sendiri, yang biasanya disebabkan oleh depresi atau gangguan kejiwaan. Seiring berjalannya waktu kasus bunuh diri mengalami tren perubahan. Jika dulu kasus bunuh diri terjadi pada orang-orang dewasa, saat ini bunuh diri sering dilakukan oleh anak-anak muda. Meski mengalami tren perubahan dalam pelaku bunuh diri, namun faktor penyebab orang melakukan bunuh diri tak banyak yang berubah.
Hal-hal yang terkait dengan tekanan hidup selalu menjadi pemicunya. Saat ini, pemicu bunuh diri kian beragam seperti kesulitan ekonomi, terlilit pinjol, menjadi korban bullying, sakit kronis yang tak kunjung sembuh, hingga masalah percintaan yang gagal dan lain sebagainya telah membuat banyak orang mengalami gangguan mental. Sehingga, tanpa berpikir jernih, mereka dengan mudahnya memutuskan untuk mengakhiri hidup.
Fenomena kasus bunuh diri yang marak menunjukkan bahwa Indonesia sedang darurat kesehatan mental. Seseorang yang bermental lemah akan mengambil jalan pintas seperti bunuh diri ketika dihadapkan pada persoalan yang rumit karena secara biologis dan psikologis merasa tidak berdaya dan merasa hidupnya tidak berarti apa-apa. Mereka yang kesehatan mentalnya terganggu cenderung mudah menyerah, mudah stress, dan depresi.
Selain faktor biologis dan psikologis, sejatinya, sistem sekuler kapitalisme adalah penyebab utama timbulnya penyakit kesehatan mental pada generasi. Sistem ini telah menghilangkan peran penting dari tiga pilar pembentuk generasi tangguh dan kuat yaitu peran keluarga, peran sekolah dan masyarakat, dan juga peran negara. Keluarga memiliki peran penting dalam membentuk generasi karena keluarga merupakan support system utama bagi anak.
Sayangnya saat ini, anak-anak banyak yang lahir dari keluarga broken home, fatherless, motherless dan jauh dari keluarga. Posisi Indonesia sebagai negara fatherless ketiga terbanyak di dunia menunjukkan bahwa ketahanan keluarga di Indonesia begitu rapuh. Tak begitu mengherankan jika generasi yang lahir cenderung bermental lemah.
Pilar kedua pembentuk generasi tangguh yang dihilangkan oleh sistem sekuler kapitalisme adalah peran sekolah dan masyarakat. Lembaga pendidikan yang seharusnya membentuk generasi yang kuat nyatanya hari ini justru melemahkan generasi. Kurikulum pendidikan sekuler yang menjauhkan manusia dari aturan Allah Swt. membuat generasi memiliki pemikiran dan pemahaman yang salah tentang kehidupan.
Sekuler kapitalisme membuat orientasi hidup mereka hanya berkutat pada materi dan kebahagiaan duniawi. Jika gagal mendapatkannya, mereka merasa gagal dalam hidup. Kondisi ini diperparah oleh masyarakat yang tidak memiliki empati. Ketika kondisi sosial kurang menyediakan ruang untuk saling berempati terhadap sesama, maka potensi seseorang terkena gangguan mental makin besar.
Yang terakhir peran negara, yaitu kurangnya kontrol dan pengawasan negara dalam memilah dan menyortir apa saja yang dikonsumsi oleh generasi. Pada era digital saat ini, internet menjadi sumber utama informasi yang digandrungi generasi. Kemudahan dalam mengakses internet, membuat banyaknya informasi yang salah serta sesat membanjiri gawai mereka.
Tayangan atau konten-konten bernuansa liberal dan sekuler kerap ditiru dan sering dianggap sebagai sesuatu yang hebat dan kekinian. Padahal, konten-konten atau tayangan tersebut banyak yang salah menginformasikan tentang sesuatu hal termasuk tentang bunuh diri. Minimnya pengetahuan agama dan literasi membuat mereka terkadang menelan mentah-mentah informasi yang mereka dapat.
Contohnya kasus puluhan pelajar SMP di Bengkulu yang melukai lengan kirinya dengan benda tajam karena mengikuti tren di media sosial. Di sini, peran negara sebagai institusi yang memiliki wewenang melarang, memblokir, dan menghentikan semua tayangan dan konten yang menyesatkan tidak dijalankan. Sungguh, penerapan sekuler kapitalisme membuat banyak generasi mengalami krisis identitas serta tak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang benar juga membuat negara mandul untuk bersikap tegas dan menerapkan hukum yang jelas.
Kita harus bergegas menyelamatkan generasi dengan menerapkan Islam sebagai satu-satunya solusi. Kenapa harus Islam? Karena, Islam adalah solusi segala persoalan, dan kita selalu diajarkan bahwa tak ada persoalan yang tidak bisa diatasi selagi kita berikhtiar, berusaha, serta berdo’a pada Rabbi. Selain itu, Islam memiliki mekanisme yang canggih dalam upaya mencegah bunuh diri.
Langkah pertama yang akan dilakukan negara yang menerapkan Islam adalah menanamkan akidah Islam sejak dini agar memiliki pemahaman yang benar tentang kehidupan. Negara akan membina orang tua agar bisa menjalankan fungsinya dan menjadi support system yang baik bagi anaknya.
Negara juga akan menerapkan kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam yang akan melahirkan generasi yang memiliki pemikiran Islam dan berkepribadian Islam, tak hanya kuat dan tangguh tapi juga beriman, bertakwa dan berintelektual tinggi. Selanjutnya, negara akan mengoptimalkan peran seorang ibu sebagai madrasah pertama bagi anaknya agar bisa mendidik anak dengan tenang, tanpa harus pusing dengan persoalan pemberdayaan ekonomi perempuan seperti halnya perempuan dalam sistem kapitalisme.
Kebijakan ekonomi Islam yang diterapkan negara dalam Islam, akan mampu mengatasi persoalan ekonomi yang sering menjadi pemicu orang untuk bunuh diri. Kebijakan ekonomi dalam Islam akan banyak memberdayakan kaum laki-laki dan akan membuat peran ayah dalam keluarga menjadi seimbang dalam hal pemberian nafkah lahir juga batin kepada keluarga. Sehingga, kasus fatherless bisa dihilangkan.
Hanya dengan Islam, semua persoalan akan terselesaikan. Dengan Islam pula, kesehatan mental kita terjaga dan jaminan kebahagiaan akhirat dan dunia terbentang di depan mata. Wallahualam bis shawab.


