
Suara Pembaca
Sejatinya peran ibu tidak bisa digantikan oleh siapa pun, oleh ayah sekali pun. Termasuk, oleh daycare yang menjamur saat ini. Wajar, kasus penganiayaan anak berpeluang besar terjadi di daycare. Seperti yang terjadi baru-baru ini, viral penganiayaan terhadap 2 balita oleh pemilik salah satu daycare di Bekasi.
Aksi kekerasan itu terekam kamera pengawas lalu disebarkan di media sosial oleh salah seorang oknum pegawai daycare tersebut. Polisi pun menetapkan Meita Irianty alias Tata Irianty, pemilik daycare Wensen School sekaligus influencer parenting, sebagai tersangka penganiayaan. Polisi menyebut, motifnya kesal lantaran anak rewel (06/08).
Mengejutkan, karena pelaku seorang influencer yang sering beropini tentang parenting. Sebelumnya ia juga ikut mengomentari penganiayaan yang dilakukan babysitter kepada anak seorang selebgram yang sempat viral.
Pada era kapitalisme yang sedang kita hadapi, banyak kekerasan yang diterima oleh balita dan anak-anak dari orang sekelilingnya. Sampai hari ini kasus demi kasus selalu terjadi tanpa ada penyelesaian yang pasti. Peristiwa ini seharusnya mampu mengetuk pintu hati penguasa untuk bisa lebih efektif lagi dalam pengurusan umat, mencari akar masalahnya sehingga hal-hal seperti ini tak lagi terjadi.
Islam telah menetapkan siapa saja yang bisa dititipkan pengasuhan anak setelah ibunya, yaitu nenek dari pihak ibu, lalu nenek dari pihak ayah, dan seterusnya. Bahkan ayah sekali pun, tidak mampu menggantikan peran seorang ibu dalam pengasuhan anak. Malangnya, kondisi ibu hari ini tidak memahami kepada siapa anaknya harus dititipkan. Begitupun pihak yang dititipkan, tidak merasa bertanggung jawab. Semua ini bermuara pada sistem pengasuhan yang tidak berdasarkan syariat. Islam menjunjung tinggi penjagaan hak anak, terutama pada 1000 hari pertama sampai masa mumayyis-nya.
Jika hal ini terjadi dikarenakan sistem yang salah, maka tidak ada jalan lain, kecuali ibu, masyarakat, dan negara kembali kepada sistem Islam. Sistem yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan sunnah, berisi kebaikan untuk semua pihak, khususnya seorang anak.
Riska Puspa Mentari, S.Pd.I.
Pemerhati Generasi


