
Suara Pembaca
Influencer adalah seorang figur dalam media sosial yang memiliki banyak jumlah pengikut. Biasanya hal yang mereka sampaikan dapat memengaruhi perilaku pengikutnya. Siapa yang yang tak kenal dengan Raditya Dika, Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah, Rafi Ahmad dan Nagita Slavina, mereka mempunyai jutaan banyak pengikut baik platform X, YouTube, maupun instagram.
Penggunaan Influencer sebagai sarana untuk membantu pemasaran sebuah produk kini telah menjadi pilihan yang digemari banyak kalangan. Perusahaan, mulai dari brand ambassador, paid promote sampai endorse begitu banyak dijumpai dalam media sosial kita sehari-hari (Hariyanti & Wirapraja 2018:141). Presiden Jokowi mengundang Influencer untuk melakukan kunjungan ke Ibu kota Nusantara (IKN ). Setelah kunjungan ke IKN, para influencer diharapkan menyampaikan pujiannya terhadap IKN. Mereka sepakat bahwa IKN tidak hanya menjadi simbol kemajuan, tetapi juga menawarkan potensi besar sebagai pusat inovasi dan destinasi masa depan bagi Indonesia (8/8/2024).
Bisa dipastikan pujian mereka akan dilihat oleh jutaan pengikutnya dan membawa warna baru pada opini publik tentang IKN. Hal itu bisa menaikkan citra IKN, mampu menggeser citra negatif menuju citra positif. Berbagai problem pembangunan IKN seperti tentang target pembangunan yang tidak tercapai, sulitnya air bersih, penyingkiran masyarakat adat serta masalah lainnya bisa hilang.
Jika kita melihat secara jeli, membawa Influencer ke IKN sejatinya hanya membebani anggaran negara. Langkah tersebut juga menguatkan pencitraan pembangunan IKN yang belum rampung di masa jabatan presiden. Bahkan ini mendapat kritik keras dari publik karena dinilai menghamburkan anggaran. Bisa diperkirakan pemerintah harus memberi bayaran pada masing-masing influencer, nominalnya bisa mencapai ratusan juta rupiah perorang. Itu belum termasuk transportasinya, berangkat hingga pulang. Begitu juga akomodasi selama di lokasi, seperti penginapan, konsumsi, dan lainnya.
Meski sudah menghabiskan anggaran besar, upaya pemerintah melibatkan influencer untuk mendongkrak citra positif sejatinya tetap tidak akan menaikkan citra IKN karena sejak awal pembangunannya sudah bermasalah. Pembangunan tersebut tidak berdasarkan prinsip kebutuhan rakyat dan urgensi pemerintahan, melainkan karena ketamakan penguasa dan jargon-jargonnya. APBN yang sudah di ambang sekarat masih dipaksa membiayai pembangunan IKN meski dengan utang.
Sepanjang sejarah peradaban Islam, khalifah melakukan pembangunan aneka infrastruktur seperti masjid, taman, jembatan, sekolah, kampus, perpustakaan, rumah sakit untuk seluruh rakyat yang akhirnya membuat masyarakat menjadi sejahtera dan terpenuhi semua kebutuhannya. Pembangunan infrastruktur yang dibangun khalifah dapat dimanfaatkan oleh seluruh kalangan rakyat. Anggaran yang digunakan tidak dialokasikan kepada hal-hal yang tidak berguna. Karena, penguasa memahami betul amanahnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari)
Sebagai pelaksana pembangunan infrastruktur, setiap penguasa dan pejabat dalam Khilafah dipilih dari orang-orang yang memiliki keimanan yang utuh, kapabilitas yang mumpuni, dan kredibilitas yang terpuji. Orang yang korup, fasik, dan tidak amanah akan dicegah dari memegang jabatan. Harta pejabat selalu dihitung sebelum dan sesudah menjabat sehingga diketahui jika ada penyelewengan anggaran. Anggaran pembangunan infrastruktur juga dihitung dengan teliti sehingga tidak ada pemborosan.
Dengan mekanisme yang sesuai dengan syariat ini, maka akan terwujudlah pemimpin yang mencintai rakyatnya dan rakyat pun mencintai pemimpinnya. Sebagaimana Rasullullah saw. bersabda, “Sebaik-baik pemimpin adalah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, kalian menghormati mereka dan mereka pun menghormati kamu. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun benci kepada kamu. Kalian melaknat dan mereka pun melaknat kalian.” (HR. Muslim)
Rejeyanti, S.S.
(Guru dan Aktivis Muslimah Kaffah)



Tulisan sangat membangun ya, semoga yang membaca juga terbangun pemikiran dan pemahaman nya juga. Aamiin.