
Oleh: Aisyah Ummu Shaqueena
Linimanews.id—Serangan pesawat nirawak atau drone terhadap warga Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar menewaskan puluhan orang, termasuk orang tua dan anak-anak. Beberapa saksi mata mengatakan para korban selamat terpaksa harus mencari di antara tumpukan mayat untuk menemukan dan mengenali kerabat mereka yang tewas atau terluka. Empat saksi mata, yang terdiri dari aktivis, dan seorang diplomat menggambarkan, serangan pesawat nirawak menghantam keluarga yang tengah menunggu untuk menyeberangi perbatasan ke negara tetangga Bangladesh.
Seorang perempuan yang sedang hamil tua dan putrinya yang berusia 2 tahun termasuk di antara korban serangan mematikan tersebut. Serangan tersebut merupakan yang paling mematikan terhadap warga sipil di wilayah itu dalam beberapa minggu terakhir, di tengah pertempuran antara pasukan junta dan pemberontak.
Masih dengan problem yang sama, umat Islam kembali dihadapkan dengan serangkaian kekejian yang dilakukan oleh Yahudi laknatullah. Senilai 3,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp55,8 triliun memperkuat persenjataan dan peralatan militer Israel. Departemen Luar Negeri menyampaikan Kongres AS telah menyetujui alokasi bantuan terhadap Israel selama aksi genosida ke Palestina. “Departemen Luar Negeri AS telah memberitahu Kongres AS untuk mengeluarkan dana miliaran dolar AS untuk pembiayaan militer ke Israel,” ucap pernyataan Departemen Luar Negeri AS dilansir dari Reuters pada Ahad (11/8/2024).
CNNIndonesia melaporkan mengenai rilis jumlah ini berasal dari RUU pendanaan tambahan sebesar 14 miliar dolar AS atau sekitar Rp224,8 triliun untuk Israel yang disahkan oleh Kongres AS pada April lalu. Ketegangan di Timur Tengah meningkat dan banyak yang mengkhawatirkan meluasnya perang Israel di Gaza yang telah menewaskan puluhan ribu orang dan menyebabkan krisis kemanusiaan. Kebiadaban terhadap umat Islam masih terus terjadi hingga hari ini. Muslim Rohingya yang kembali diburu dan dianiaya serta muslim Palestina yang masih terus menjadi sasaran penjajah dengan kesulitan hidup yang luar biasa.
Mirisnya, negara-negara Barat terus membela dan mendukung Zionis. Hal ini menunjukkan standar ganda yang nyata, karena umat tidak mulia dan terhina. Dari sisi kaum muslim, juga banyak diantara mereka yang menganggap bahwa masalah yang tengah terjadi saat ini, khususnya di Palestina dan Myanmar adalah masalah negara tersebut saja. Kaum muslim kini tersekat oleh nasionalisme dan kecintaan terhadap negaranya sendiri. Hal inilah yang membuat mereka abai dengan penderitaan saudara seiman mereka. Sedang Rasulullah telah bersabda, bahwa umat Islam bagaikan satu tubuh, jika satu bagian tubuh merasa sakit, bagian tubuh yang lain juga akan merasakan sakit.
Namun, nasib umat akan terus terpuruk selama Tidak ada junnah bagi kaum muslim di mana pun, sehingga kaum muslim akan selalu ditindas di mana saja. Sungguh berbeda dengan umat Islam yang mulia dan terhormat sejak Rasulullah membangun negara Islam di Madinah. Kebaikan dan kekuatannya terus berlanjut hingga saat Khilafah runtuh pada tahun 1924 H oleh Mustafa Kemal Attaturk laknatullah.
Kini, saatnya umat muslim membangun kesadaran umat, memperjuangkan kembali tegaknya daulah islam demi melanjutkan kembali kehidupan Islam seperti saat Rasulullah hidup. Islam dan umatnya hanya akan mulia dalam naungan Khilafah. Penyadaran terhadap umat ini membutuhkan keberadaan kelompok dakwah Islam yang memperjuangkan Islam ideologis.


