
Oleh: Siti Rofiqoh
Linimasanews.id—Setiap hari umat disuguhi berita yang sangat memilukan. Beberapa negeri kaum Muslim dijajah dengan tidak manusiawi. Mereka diperlakukan layaknya binatang. Bahkan dengan terang-terangan penjajah membantai kaum muslimin dan disaksikan oleh dunia.
Ada banyak muslim minoritas di beberapa negara harus terusir dari negaranya karena mempertahankan keislamannya. Banyak pula anak-anak yang tidak berdosa menjadi korban genosida. Mereka mengalami kelaparan dan kekurangan gizi. Kemiskinan merajalela. Jangankan fasilitas yang memadai, untuk mengenyam bangku pendidikan pun sulit.
Warga Rohingya telah lama menjadi korban penganiayaan di Myanmar, negara yang mayoritas penduduknya beragama Budha. Pada 2017, lebih dari 730.000 Rohingya terpaksa meninggalkan Myanmar setelah tindakan keras militer yang oleh PBB dianggap dilakukan dengan tujuan genosida (Voaindonesia.com 10/08/2024).
Lagi-lagi, warga Rohingya mendapatkan perlakuan tidak manusiawi. Mereka selalu mendapatkan teror, penganiayaan bahkan diusir dari tanah air mereka sendiri di Myanmar. Tercatat sejak 2017, sudah lebih dari 730.000 warga Rohingya terpaksa meninggalkan Myanmar. Mereka terpaksa membawa anak, istri dan keluarga, hidup terlunta-lunta di perairan tanpa ada arah tujuan. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan, tanpa ada yang memperhatikan mereka dan mau berbelas kasihan.
Padahal, jika sedikit saja kita mau berpikir, mereka itu adalah kaum muslimin. Artinya, kita adalah saudara mereka. Sebab, Rasulullah saw. bersabda, “Kaum muslimin itu ibarat satu tubuh. Jika yang satu sakit maka yang lain juga akan merasakan sakitnya.”
Namun, kini faktanya, banyak muslimin hidupnya dalam bahaya, kelaparan, dan ketakutan. Tak ada satu pun dari pemimpin negeri muslim yang mau mengulurkan tangan untuk menyelamatkan saudaranya di sana. Apakah mereka lupa?
Tidak hanya masalah Rohingya. Umat Islam di Palestina, lagi dan lagi mendapatkan serangan genosida dari laknatullah zionis Israel. Sementara itu, Amerika Serikat (AS) akan mengucurkan bantuan senilai 3,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 55,8triliun untuk memperkuat persenjataan dan peralatan militer Israel. Departemen Luar Negeri bantuan menyampaikan, Kongres AS telah menyetujui alokasi terhadap Israel selama aksi genosida ke Palestina (Republika.co.id, 11/08/2024).
Rasanya sudah cukup muak melihat tindakan mereka yang tak manusiawi, tetapi masih tetap dibenarkan oleh dunia. Mau sampai kapan kita diam melihat genosida ini? Bukalah mata kita. Yang mereka lakukan itu bukan karena kepentingan politik atau perang perebutan wilayah. Jelas itu adalah perang agama.
Jika zionis Israel saja mendapatkan dukungan penuh dari negara kafir Barat sedemikian rupa untuk membumihanguskan Palestina, negeri umat Islam, lantas masihkah kita cukup hanya mendukung Palestina dengan mengirimkan bahan pokok makanan, obat-obatan, dan bahkan mengirimkan kain kafan? Malu rasanya. Jika Israel saja mendapatkan dukungan penuh dari negara Barat, bagaimana bisa Palestina berjuang sendirian tanpa ada bantuan dari para penguasa negeri muslim? Padahal, muslimin Palestina bertahan demi menjaga kehormatan Islam. Sayangnya, umat Islam di seluruh penjuru dunia hanya diam menonton tanpa ikut berperan lebih.
Apakah masalah umat Islam saat ini hanya sebatas genosida terhadap warga Rohingya dan Palestina? Apakah di belahan bumi sana, umat Islam di negeri-negeri kaum muslim hidupnya aman dan sejahtera, tidak merasakan penjajahan dan genosida yang membinasakan umat manusia?
Jika kita sedikit saja mau berpikir lebih dalam, saat ini tidak hanya warga Rohingya dan Palestina yang membutuhkan perlindungan dan perisai (junnah). Bukan hanya warga Rohingya dan Palestina yang sedang dijajah. Bukan hanya warga Rohingya dan Palestina yang sedang terancam hidupnya dengan genosida. Umat Islam kini itu ibarat buih di lautan. Mereka banyak, tetapi tak mampu bergerak membela saudaranya.
Banyak dari umat Islam yang merasa cinta dunia sehingga takut mati (wahn). Ditambah lagi, ada paham nation state, patriotisme dan kerohanian (Islam ritual) yang dibentuk dari sistem kapitalisme-sekuler yang berhasil membungkam para penguasa negeri muslim hingga tetap diam dan tidak terlibat membela saudaranya.
Umat Islam saat ini, tak ubah seperti hidangan yang diserbu oleh musuh dari arah mana pun, tanpa mampu melawan. Hal ini dikarenakan tidak adanya perisai yang mampu melindungi mereka dari serangan kaum kafir penjajah.
Masih banyak umat muslim di dunia ini yang berada dalam penjajahan. Mereka tidak membutuhkan ulur tangan kita untuk mengirimkan bahan pokok makanan, atau mengirimkan ribuan kalimat dukungan yang kita tulis di akun media sosial. Untuk semua masalah yang dihadapi umat hari ini, tidak lain kecuali bersatunya kaum Muslim di seluruh penjuru dunia di bawah suatu kepemimpinan, yaitu kepemimpinan islam (khilafah).
Sebab, hanya khilafah yang mampu melakukan jihad, mengirimkan pasukan militer untuk membela dan mengusir penjajah Barat. Hanya dengan khilafah umat Islam di seluruh penjuru dunia akan terjaga dan terjamin hidupnya.
Umat Islam saat ini membutuhkan junnah (pelindung) bukan solusi yang digadangkan oleh PBB yang pastinya menguntungkan negara Barat. Sudah saatnya umat bersatu melawan penjajah. Sudah saatnya umat Islam bangkit dan ikut memperjuangkan tegaknya khilafah sebagai solusi tuntas permasalahan umat saat ini. Mari berjuang dan bergabung bersama kelompok aktivis pejuang ideologis.


