
Oleh: Nur Karimah Syah Putri
Linimasanews.id—Pasukan Zionis Yahudi mengubah “zona aman” di Jalur Gaza menjadi puing-puing, menyisakan hanya 9,5 persen wilayah untuk pengungsi. Berkurangnya zona aman ini memperburuk krisis kemanusiaan karena warga sipil memiliki lebih sedikit tempat untuk berlindung dari pengeboman.
Zionis Yahudi melanjutkan serangan di Jalur Gaza setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, meski ada seruan gencatan senjata dari PBB. Serangan ini menewaskan lebih dari 40.200 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 93 ribu orang. Blokade yang berlangsung menyebabkan kelangkaan makanan, air bersih, dan obat-obatan, serta menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza.
Meskipun krisis di Gaza makin parah, penjajah Zionis Yahudi tetap menolak gencatan senjata, meski ada tekanan dari AS. Sikap ini berpotensi meningkatkan jumlah korban. Di sisi lain, dunia Islam tampak abai terhadap Gaza. Arab Saudi fokus membangun stadion untuk Piala Dunia 2034 tanpa peduli pada penderita di Gaza. Mesir, yang berbatasan langsung, enggan membuka perbatasannya atau memberikan bantuan. Negara-negara Arab lainnya malah menormalisasi hubungan dengan Zionus Yahudi, sementara Turki hanya mengecam tanpa tindakan nyata.
Ketidakpedulian ini menunjukkan bahwa sentimen kebangsaan mengalahkan ikatan akidah di dunia Islam. Nasionalisme telah meracuni politik negeri-negeri muslim, membuat mereka tidak bertindak membela Palestina. Para pemimpin umat Islam seharusnya bisa berbuat lebih dari sekedar mengecam, seperti mengirim militer atau memboikot produk Zionis Yahudi dan negara pendukungnya. Namun, langkah-langkah itu tidak diambil, menunjukkan rusaknya kepemimpinan di negeri-negeri muslim.
Cinta kekuasaan menghalangi penguasa muslim untuk bersatu melawan kebrutalan Zionis Yahudi atas nama akidah Islam. Meskipun beberapa penguasa Arab dan muslim mengirimkan bantuan kemanusiaan, hal itu hanya untuk meredam kemarahan rakyat yang kecewa karena mereka tidak pernah memilih opsi militer untuk membantu Palestina dan melawan Zionis Yahudi.
Rasulullah saw. telah mengingatkan kita dalam sabdanya, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari dan Muslim)
Juga dalam hadis, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen.) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring.” Kemudian seseorang bertanya, “Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata, “Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi, kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut dalam hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian wahn.” Kemudian seseorang bertanya, “Apa itu wahn?” Rasulullah berkata, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud dan Ahmad)
Sejarah mencatat bahwa Sultan Abdul Hamid II, sebagai khalifah muslim, menolak tawaran Theodor Herzl (pencetus Zionisme) yang ingin membeli tanah Palestina. Sultan menegaskan bahwa Palestina adalah milik umat Islam, yang telah berjuang dan menumpahkan darah untuknya. Ia mengatakan bahwa selama ia hidup, ia lebih rela mati daripada melihat Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islam. Sikap tegas Sultan ini menunjukkan bagaimana seharusnya pemimpin Islam bertindak, berbeda dengan krisis kepemimpinan di dunia Islam saat ini.
Tegaknya sistem kapitalisme telah membuat negeri-negeri Islam menjadi tidak peduli. Ketidakpedulian mereka terhadap Gaza menunjukkan sikap individualistis. Padahal, Gaza membutuhkan lebih dari sekadar perhatian. Krisis Gaza bukan sekadar serangan biasa, melainkan genosida akibat sistem kapitalisme yang melahirkan dan mendukung Israel. Namun, para pemimpin muslim lebih sibuk dengan politik sekuler dan bahkan rela menjadi kaki tangan musuh Islam, menunjukkan kerusakan dalam kepemimpinan dunia Islam.
Krisis Gaza bukan hanya krisis kemanusiaan, tetapi juga perang ideologi antara kapitalisme dan Islam. Zionis Yahudi yang didukung oleh AS, merasa aman meski mendapat kecaman internasional. Negeri-negeri muslim yang mengadopsi ideologi kapitalisme mengikuti jejak AS dan Barat, gagal melihat ikatan dengan Palestina sebagai ikatan akidah. Mereka enggan memberikan bantuan strategis seperti pengiriman pasukan militer.
Sejatinya bantuan, pengiriman militer, dan pembukaan perbatasan untuk logistik adalah solusi yang harusnya dilakukan oleh negara-negara Arab yang dekat dengan Palestina. Sayangnya, ideologi Islam yang seharusnya menjadi penyeimbang kapitalisme, hanya diemban oleh individu, bukan negara. Menghadapi Israel sebagai negara kafir yang memerangi umat Islam, hanya negara yang mengemban ideologi Islam, yaitu Khilafah, yang bisa memberikan perlawanan yang setara.
Kebijakan Khilafah dalam menghadapi Zionis adalah melalui dakwah dan jihad. Penjajah Zionis yang menumpahkan darah muslim di Gaza layak untuk diperangi. Perundingan, resolusi PBB, atau upaya gencatan senjata tidak akan menghentikan kebrutalan Zionis.
Atas dasar ini, satu-satunya solusi bagi krisis Gaza dan Palestina adalah dengan tegaknya Daulah Islam. Dengan politik luar negerinya, Daulah Islam akan berperan menjadi perisai bagi kaum muslim. Ini sebagaimana tercantum dalam sabda Rasulullah saw.,
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu junnah (perisai) yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ‘alaih)
Hadis ini menjadi salah satu dalil yang menunjukkan wajibnya mengangkat khalifah dan tekanan pentingnya kedudukan khalifah sebagai pelindung (junnah). Rasulullah saw. menggambarkan khalifah sebagai perisai, yang menunjukkan pentingnya keberadaan imam (khalifah) dan bahwa hal ini merupakan perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Mengabaikan keberadaan khalifah berarti juga mengabaikan penegakan hukum syariat. Oleh karena itu, penting bagi umat untuk memiliki kesadaran dan membentuk opini umum tentang perlunya penegakan Khilafah. Wallahualam.


