
Oleh: Dini Azra
Linimasanews.id—Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani mendapat kesempatan untuk berpidato sekaligus membuka acara Forum Parlementer Indonesia Afrika (IAPF) 2024 di Nusa Dua, Bali, Minggu (1/9/2024). Dalam pidatonya tersebut, Puan mengingatkan tentang peran parlemen untuk berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan global, juga menghargai HAM dan menegakkan hukum.
Melalui forum kerjasama antara Indonesia dan Afrika itu, Puan menegaskan niatnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan mendorong perdamaian di wilayah konflik lainnya seperti perang antara Rusia dan Ukraina. Pidatonya tersebut disambut dengan tepuk tangan riuh dari para tamu undangan yang merupakan anggota parlemen negara-negara Afrika.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi juga mengungkapkan hal senada. Dia menegaskan bahwasanya parlemen memegang peran penting dalam menggunakan jaringan parlemen untuk mobilisasi tekanan publik internasional untuk mengakhiri agresi dan genosida di Palestina. Komitmen negara-negara Afrika dengan Indonesia untuk mendukung Palestina sudah berawal sejak Konferensi Asia -Afrika pada tahun 1995 (Suarabali.id., 1/9/2024).
Seruan damai dan dukungan untuk kemerdekaan Palestina dari para pemimpin negara dunia telah ada sejak lama. Seruan, kecaman, dan kutukan atas tindakan keji yang dilakukan oleh Entitas Yahudi terhadap warga Gaza, Palestina selalu terdengar di forum-forum internasional. Memang benar, hal tersebut bisa menjadi dukungan moral sekaligus bukti keberpihakan suatu negara terhadap Palestina.
Namun faktanya, sejauh ini belum ada hasil yang dicapai. Kondisi rakyat Palestina kian teraniaya, dicabut hak-haknya sebagai manusia. Mereka dipaksa untuk hidup tanpa makanan, air, rumah, sekolah bahkan keluarga dan sanak saudara pun direnggut satu-persatu dari sisi mereka. Sementara dunia hanya bisa meratapinya seolah tanpa daya untuk membela.
Palestina ibarat tubuh seseorang yang terus disiksa hingga mengalami banyak luka, kemudian orang-orang yang peduli segera membawakan obat-obatan dan merawat lukanya. Memberi makan dan apa-apa yang dibutuhkan untuk kesembuhannya. Namun, pelaku penyiksaan tetap dibiarkan karena mereka takut akan pengaruh kekuatannya. Maka penjahat itu melakukan penyiksaan lagi dan lagi, dan orang-orang akan kembali melakukan hal yang sama. Memberikan bantuan, dukungan tanpa menghilangkan penyebab masalahnya.
Begitulah gambaran kondisi Palestina dari masa ke masa. Jangankan seruan sejumlah anggota parlemen, bahkan lembaga internasional seperti PBB pun tidak digubris oleh Zionis. Percuma juga dilakukan perundingan damai, gencatan senjata, hingga solusi dua negara jika hasilnya hanya membuat Palestina semakin dirugikan. Wilayah Palestina makin mengecil akibat pendudukan Zionis Yahudi.
Hari ini, tak ada lagi tempat yang aman untuk mereka tinggali, sebab serangan membabi buta yang ingin menghabisi Gaza hingga tak bersisa. Satu-satunya pertahanan bagi warga Gaza hanyalah keimanan, keyakinan bahwa pertolongan Allah pasti akan datang. Iman mereka tidak tergoyahkan meskipun kondisi mereka yang sakit luar biasa.
Lantas bagaimana negara lain, terutama muslim membantu Palestina secara nyata, bukan basa-basi semata? Tentunya setiap negara yang mengaku mendukung kemerdekaan Palestina pasti punya tentara. Jika seluruh negara-negara muslim bersama-sama mengirimkan tentara militer mereka untuk melawan Zionis Yahudì, Palestina tidak akan berjuang sendirian. Penjajah pun akan bisa dikalahkan dengan gabungan militer tersebut.
Sayangnya, hari ini negeri-negeri muslim masih tunduk pada hegemoni kaum kafir Barat. Di antaranya Amerika Serikat yang merupakan sekutu Zionis Yahudi yang paling loyal, sampai ikut mendanai serangan Israel terhadap Palestina. Juga Inggris yang pertama membantu bangsa Yahudi mendirikan negara di tanah Palestina. Masih berharap pada PBB? Sementara hak vetonya bisa membatalkan keputusan yang disetujui mayoritas anggotanya.
Masalahnya adalah umat Islam hari ini kehilangan sosok pemimpin yang memimpin dengan sistem yang Allah ridai, yakni Khilafah. Sebab, seorang khalifah akan menjadi pelindung dan penjaga bagi seluruh umat Islam. Setiap jengkal tanah muslimin akan dipertahankan dengan sungguh-sungguh.
Dahulu, Khalifah Abdul Hamid II pada masa Kekhilafan Turki pernah ditawari oleh Herzl untuk menyerahkan tanah Palestina untuk didirikan negara Israel. Sebagai balasannya, Herzl akan memberikan uang yang sangat besar yang bisa menutupi defisit keuangan yang sedang dialami Khilafah Utsmani.
Namun, beliau menolak dengan tegas dan mengatakan bahwa beliau tidak dapat menyerahkan sejengkal tanah Palestina karena bukan miliknya, melainkan milik umat Islam. Dia menyuruh orang-orang Yahudi menyimpan uangnya saja, jika suatu saat Khilafah terpecah belah baru mereka bisa mengambil tanah Palestina secara cuma-cuma. Hal itu terbukti benar, begitu Khilafah berhasil diruntuhkan, Yahudi pun mulai menguasai Palestina hingga hari ini.
Bahkan bukan tanah Palestina saja, tetapi jiwa-jiwa kaum muslim di bawah cengkeraman sistem yang dibuat oleh Yahudi juga ikut terbelenggu, sehingga tidak bisa lagi menyerukan jihad fi Sabilillah untuk membela saudara muslimnya yang terjajah. Ikatan kebangsaan dan nasionalisme lebih diutamakan dari pada ikatan persaudaraan yang berlandaskan akidah Islam.
Agama Islam selalu mengajarkan tentang ukhuwah islamiah ini bahwa seorang muslim itu saudara bagi muslim lainnya. Kaum muslim itu diibaratkan seperti satu tubuh yang manakala satu bagian tubuhnya terluka, bagian tubuh yang lain juga merasakan demam. Ikatan nasionalisme dan batas-batas teritorial telah melumpuhkan semangat jihad kaum muslim untuk membela saudaranya yang teraniaya.
Hanya jika sistem pemerintahan Islam tegak kembali, kehidupan seluruh umat Islam akan terlindungi. Sebab, Khilafah berperan sebagai perisai dan pelindung kaum muslimin tidak akan membiarkan sejengkal tanah atau pun setetes darah muslim tertumpah oleh kafir penjajah. Caranya dengan melakukan dakwah terhadap kaum muslim mengedukasi mereka sejak dini tentang pentingnya arti ukhuwah Islamiah di dalam Islam. Sehingga, siapa pun akan memiliki kesadaran untuk saling menjaga dan melindungi saudara muslim lainnya atas dasar cinta karena Allah.
Selain menyampaikan dakwah terhadap umat Islam, Khilafah juga akan terus mengemban dakwah ke negeri-negeri di luar wilayah daulah, untuk menyebarkan Islam ke seluruh alam. Sebagaimana dakwah yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabat, terkadang dakwah juga akan menjumpai pertentangan dari kaum kafir sehingga seruan jihad pun tak bisa terelakkan. Jihad adalah bagian dari syariat Islam. Apalagi jihad dalam memerangi penjajah kafir yang telah memerangi kaum muslimin. Dengan adanya pemimpin yang tegas membela umat, bangsa lain akan segan dan takut untuk mengusik umat Islam. Wallahu a’lam bishawab.


