
Oleh: Nisa Sofia
Ipteng—Maulid Nabi Muhammad saw. merupakan momentum yang sangat istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Diperingati pada tanggal 12 Rabiul Awal setiap tahunnya, ini merupakan tanggal kelahiran Rasulullah saw. di Kota Makkah Al-Mukarramah. Tentunya hari tersebut merupakan sesuatu yang istimewa, tak terkecuali bagi masyarakat muslim di Indonesia. Maka Maulid Nabi dijadikan hari libur nasional setiap tahunnya. Tahun ini Maulid Nabi jatuh pada hari Senin, 16 September 2024.
Dengan adanya peringatan Maulid Nabi, umat Islam di negeri ini mengungkapkan rasa kegembiraan itu, mulai dari menyantuni anak-anak yatim, khitanan massal, tablig akbar, mengkaji sirah, selamatan, dan bersholawat atasnya.
Makna dan Tujuan Maulid Nabi Muhammad saw.
Makna dan tujuan dari peringatan Maulid Nabi adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw., menjadi ajang untuk mengenang perjuangan dakwah beliau serta ajaran-ajaran yang telah ditinggalkan oleh beliau. Melalui perayaan ini, seluruh umat Islam diingatkan untuk menjadikan teladan beliau sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan di dunia. Baik dalam kehidupan beragama , berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, berekonomi, hingga bernegara. Sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an surah Al-Azhab ayat 21 yang artinya,
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
Maka sudah sepatutnya meneladani beliau dalam semua aspek kehidupan, tak terkecuali dalam hal kepemimpinan yang akhir- akhir ini banyak terjadi polemik di kalangan masyarakat Indonesia terkait kebijakan dan sikap penguasa. Seperti halnya politik dinasti, mudahnya merubah konstitusi , pejabat korupsi. Bahkan, dilihat dari berita resmi statistik yang diunduh dari situs Badan Pusat Statistik (BPS), Jumat (19/7/2024), indeks perilaku antikorupsi Indonesia tahun 2024 berada di angka 3,85 pada skala 0-5.
Keteladanan Rasulullah dalam Kepemimpinan
Ada banyak pemimpin di dunia ini dengan berbagai model kepemimpinannya dan bisa dijadikan rujukan bagi para pengikutnya dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin. Namun bagi umat Islam, Nabi Muhammad adalah model pemimpin yang sempurna. Tak hanya umat Islam, model kepemimpinan Nabi Muhammad juga dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dengan beragam suku, bangsa, ras, serta agama. Michael H. Hart, seorang berkebangsaan Amerika, penganut Yahudi dan penulis buku “The 100: A Rangking of The Most Influential Person in History” bahkan dengan berani menempatkan Nabi Muhammad pada urutan teratas 100 tokoh paling berpengaruh dalam sejarah.
Michael H. Hart mengakui bahwa, Nabi Muhammad bukan hanya pemimpin agama melainkan juga pemimpin dunia. Fakta menunjukkan, pengaruh kepemimpinan politik Nabi Muhammad saw. selalu berada di posisi terdepan. Ini merupakan bukti nyata dari keberhasilan Nabi Muhammad dalam memimpin.
Keteladanan dalam Kepemimpinan
Di antara keteladanan Nabi saw. yang wajib ditiru adalah kepemimpinan beliau atas umat manusia. Rasulullah saw. bukan sekadar pemimpin spiritual tanpa kekuasaan, seperti Paus di Vatikan, tetapi juga kepala negara Islam pertama.
Rasulullah saw. menyusun Piagam Madinah. Beliau mengangkat para wali (gubernur) dan hakim. Beliau memimpin dan mengirim pasukan serta mengangkat para komandan perang. Beliau mengatur perekonomian. Beliau pun mengirim para utusan untuk menyampaikan dakwah Islam ke berbagai kabilah, termasuk ke Kekaisaran Romawi dan Persia.
Rasulullah saw. adalah pemimpin negara yang sukses. Saat beliau wafat, luas kekuasaan Islam telah meliputi seluruh Jazirah Arab. Jumlah pengikutnya terus bertambah. Pengaruh agama Islam yang beliau bawa juga terus menyebar. Tidak aneh jika kepemimpinan Rasulullah saw. mengundang pujian dari berbagai cendekiawan dan orientalis.
Di antaranya dari Dr. Zuwaimer, orientalis Kanada, dalam bukunya, Timur dan Tradisinya. Ia mengatakan, “Tidak diragukan lagi bahwa Muhammad adalah pemimpin agama terbesar. Bisa juga dikatakan bahwa ia adalah seorang reformis, mumpuni, fasih, pemberani, dan pemikir yang agung.”
Kunci Sukses Kepemimpinan Rasullullah saw.
Ada sejumlah kunci kesuksesan kepemimpinan Rasulullah saw. sebagai seorang kepala negara dan pemerintahan. Kunci kesuksesan itu antara lain:
Pertama, kepribadian beliau yang berakhlak mulia. Sebagai kepala negara, beliau menunjukkan pribadi pemimpin yang mengayomi dan mementingkan rakyatnya, bukan seperti raja yang selalu mendapat pelayanan dari rakyat. Beliau justru menjadi pelayan masyarakat, nyata hidup sederhana, bukan karena pencitraan. Beliau juga selalu bekerja keras mengurus segenap urusan rakyat dan memenuhi segala keperluan mereka. Inilah akhlak pemimpin yang sejatinya pelayan umat.
Rasulullah saw. bersabda, “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR Abu Nu’aim Al-Asbahani dari Anas ra.)
Kedua, Rasulullah saw. menjadikan akidah Islam sebagai landasan hidup bermasyarakat dan bernegara. Sebelum membangun negara dan pemerintahan di Madinah, dakwah Islam ditujukan untuk membongkar berbagai keyakinan batil yang ada di tengah masyarakat. Kemudian, Rasulullah saw. menggantikan keyakinan mereka dengan akidah Islam. Beliau mengajak umat manusia menauhidkan Allah Swt. sekaligus tunduk hanya pada syariat-Nya.
Tersebab keimanan, kaum muslim senantiasa menaati Allah dan Rasul-Nya dalam segala urusan mereka. Tidak pernah mereka berusaha menyelisihi perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS An-Nur: 51)
Ketiga, Rasulullah saw. menerapkan syariat Islam secara paripurna (kaffah). Tidak ada satu pun perintah atau larangan Allah swt. yang beliau abaikan. Setiap kali turun hukum Allah Swt. seketika hukum itu beliau berlakukan di tengah umat tanpa menunda atau mengurangi pelaksanaannya.
Rasulullah saw. tidak pernah menerapkan selain syariat Islam dalam menjalankan pemerintahannya. Beliau pun tidak pernah berkompromi dalam menerapkan hukum Allah Taala. Inilah yang Allah Swt. perintahkan,
“Hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka sesuai dengan apa yang telah Allah turunkan dan jangan engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah engkau terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan engkau dari sebagian wahyu yang telah Allah turunkan kepadamu.” (QS Al-Maidah: 49)
Keempat, Rasulullah saw. memberlakukan hukum secara adil dan konsisten. Tidak ada privilage (keistimewaan) hukum walaupun terhadap keluarga beliau sendiri. Keadilan inilah yang menjamin tegaknya pemerintahan dan hukum di tengah masyarakat. Beliau tidak pernah berkompromi dengan siapa pun saat menjalankan hukum-hukum Allah. Saat Penaklukan Makkah, Rasulullah tidak membiarkan satu berhala pun tersisa. Seluruh berhala dihancurkan oleh kaum muslim atas perintah beliau.
Rasulullah juga menegur sebagian orang yang membujuk beliau agar tidak menjatuhkan sanksi pidana potong tangan kepada seorang perempuan dari keluarga bangsawan Bani Makhzum. Beliau berkhutbah kepada kaum muslim, “Sungguh orang-orang sebelum kalian hancur lantaran jika ada bangsawan mencuri, dibiarkan; sementara itu jika ada kaum lemah mencuri, dihukum. Demi Allah, andai Fathimah putri Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya.” (HR Bukhari)
Penutup
Demikianlah keteladanan dalam hal kepemimpinan yang pernah dipraktekkan oleh Rasulullah saw. dan dilanjutkan oleh para khalifah setelahnya. Maka sudah sepatutnya, kita yang mengagumi dan mencintai Rasullullah wajib meneladani Rasulullah tidak hanya dalam masalah ibadah ritual saja namun juga dalam hal kepemimpinan negara. Kita juga harus membuktikan dengan senantiasa mengkaji syariat yang beliau bawa sambil menyampaikan kepada umat.


