
Oleh: Hermiatin, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Ipteng—Mempunyai sahabat yang sekiranya bisa memberikan manfaat kebaikan kepada kita, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat, maka kita harus memilah dan memilih sahabat yang sekiranya bisa mengantarkan kita ke surge-Nya Allah Swt. Dalam Islam, persahabatan merupakan hal yang sangat penting, hingga Allah mengabadikan dalam surat Al-Hujurat ayat 10 yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.”
Sahabat menurut Islam adalah sosok yang bisa menunjukkan dan mengajak ke jalan Allah menebar kebaikan, mengingatkan dan menasihati kita ketika salah, membersamai dalam kondisi senang dan susah, saling mendo’akan dan memberikan pertolongan ketika kita membutuhkan bantuan. Nabi Muhammad saw. adalah suri teladan bagi umat Islam. Beliau sangat pandai dalam bergaul dengan orang-orang Quraisy, beliau mampu menaklukan dan melembutkan hati orang-orang Quraisy, serta berhasil mengajak beriman kepada Allah Swt.
Bersahabat dengan orang-orang yang saleh akan ikut tertular menjadi orang yang saleh. Dalam hadis riwayat Bukhari Muslim yang artinya, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seperti seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi) adapun penjual minyak wangi jika engkau dekat dengannya maka paling tidak mendapatkan bau harum darinya, sedangkan pandai besi jika engka dekat dengannya mendapatkan bau tidak enak atau bajumu terbakar.”
Jika bersahabat dengan orang saleh bisa membimbing ke jalan Allah membantu dalam ketaatan serta amalan yang mendatangkan ridha-Nya. Jika bersahabat dengan orang yang buruk yang dapat menghalangi ke jalan Allah dan berbuat maksiat maka bisa jadi, akan menular mengikuti apa yang dia lakukan. Jika melihat fenomena saat ini, sahabat yang saleh memberikan pengaruh besar untuk menguatkan iman dan keistikamahan dalam menjalankan dakwah Islam serta amar makruf nahi munkar.
Seperti dalam hikmah menuturkan bahwasanya seseorang itu bisa dinilai dari orang yang menjadi sahabat dekatnya. Rasulullah bersabda, “Seseorang akan mengikuti kebiasaan sahabat karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi sahabat karib kalian.” ( HR. Abu Daud)
Juga seperti dalam perkataan Al-Imam Al-Ghozali Rahimahullah, “Bersahabatlah dengan orang yang zuhud, membuat kita ikut zuhud dalam masalah dunia, karena memang asalnya orang akan mencontoh sahabat dekatnya.”
Meneladani sahabat Rasul yang sudah dijamin masuk surga maka tidak diragukan lagi keimanan, ketakwaan, serta ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, juga dalam perjuangan beliau menegakkan kalimat Allah di antaranya Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, dan lain-lain.
Ketika penghuni surga telah berada di dalam surga, jika mereka tidak menemukan sahabat di dunia yang selalu bersamanya, maka mereka boleh bertanya kepada Allah Swt., “Ya Tuhanku, kenapa kami tidak melihat sahabat-sahabat kami sewaktu di dunia kami selalu bersama, kami salat bersama, puasa bersama, berjuang menegakkan agama Allah.” Maka Allah Swt. berfirman, “Pergilah ke neraka, keluarkan sahabat-sahabatmu yang dalam hatinya ada iman walaupun sekecil biji zarah.” (HR. Ibnu Mubarak dalam kitab Az-zuhd)
Mari bersama-sama memperjuangkan Islam, berdakwah, amar makruf nahi munkar. Sebanyak apa pun tantangan, rintangan, dan risiko yang kita hadapi, tetaplah istikamah berada di jalan Allah. Kita jalani dan tidak berhenti sedikit pun mengajak umat kembali ke jalan Allah untuk menerapkan syariat Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah.
Marilah senantiasa memohon kepada Allah agar kita diwafatkan dalam keadaan sedang memperjuangkan agama Allah, mentaati syariat Islam, memenuhi hak-hak Allah Swt. dan Rasul-Nya. Semoga Allah melimpahkan rahmat ridha-Nya dan semoga Allah kumpulkan kita di yaumul akhir bersama keluarga dan orang-orang saleh di surga. Aamiin yaa Robbal ‘Alamin. Wallahu a’lam bishawab.


