
Oleh: Sugiyanti Rahmawati (Aktivis Muslimah)
Linimasanews.id—Kondisi muslimin di Gaza selama puluhan tahun mengalami penderitaan akibat penjajahan Zionis Israel. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), setiap satu jam anak di Gaza tewas akibat serangan militer dari tentara Zionis Israel. Sekitar 14.500 anak Palestina telah meninggal dunia dalam serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza sejak 2023 (beritasatu.com, 25/12/2024).
Kondisi anak-anak di Gaza makin mengenaskan. Mereka tidak mendapatkan hak untuk hidup selayaknya anak-anak di negara lain. Setiap hari anak-anak di Gaza harus berhadapan dengan tentara Israel, beserta senapan-senapan dana tank-tank besar yang siap menghabisi mereka.
Pada musim dingin, anak-anak dan bayi-bayi di Gaza juga menghadapi risiko kematian yang cukup tinggi karena kurangnya perlindungan. Tidak ada tempat bagi mereka untuk berlindung. Ditambah lagi, kiriman bantuan untuk perlengkapan musim dingin seperti selimut dan kasur pun ditahan selama berbulan-bulan (republika.co.id, 29/12/2024).
Untuk menyelesaikan persoalan di Gaza, sejatinya kaum muslim tidak bisa berharap pada dunia internasional, termasuk para pemimpin negeri muslim yang kerap hanya menjadikan isu Palestina untuk pencitraan, karena mereka justru mengambil solusi atas arahan Barat.
Padahal, Barat mengusung kapitalisme yang sangat jelas memusuhi Islam. Genosida di Palestina ini bukan hanya tragedi kemanusiaan, melainkan perang ideologi, antara ideologi Barat melawan ideologi Islam. Hal itu harus disadari oleh seluruh kaum muslim di dunia.
Perlu diperhatikan bahwa sama sekali tidak ada keadilan dalam sistem kapitalisme ini. Sistem kapitalisme merupakan sistem yang berorientasi pada materi dan asasnya adalah pemisahan antara agama dari kehidupan. Sangat jelas, jika asasnya sudah pemisahan agama dari kehidupan, maka agama tidak akan mendapat ruang untuk mengatur kehidupan, khususnya umat Islam. Sistem ini nyata-nyata memberikan jalan bagi Zionis Israel laknatullah untuk menghancurkan kaum muslim Palestina.
Melihat berbagai persoalan Palestina yang tak kunjung usai, seharusnya kaum muslim punya agenda sendiri untuk menyatukan pemikiran dan perasaan, lalu menggerakkan militer negeri-negeri muslim untuk bangkit melawan segala bentuk penindasan, termasuk membebaskan Palestina dari penjajahan Israel. Untuk mewujudkan hal tersebut butuh kesadaran kolektif dari umat Islam, bukan kesadaran perseorangan semata.
Umat membutuhkan kehadiran sebuah partai politik ideologis untuk membangkitkan kesadaran kolektif tersebut sebagaimana yang dilakukan Hizbu Rasul (kelompok dakwah Rasul) di masa Rasulullah. Umat Islam saat ini membutuhkan persatuan global.
Oleh sebab itu, para pemuda muslim harus bangkit, bersatu menyingkirkan sekat-sekat nasionalisme yang selama ini mencerai-beraikan persatuan umat. Umat Islam harus sadar, satu-satunya yang layak mengikat mereka hanyalah Islam kafah dalam naungan institusi yang bersendikan Kitabullah dan sunnah Rasul, sebagaimana ketika peradaban Islam berjaya selama 13 abad dalam naungan Khilafah. Dengan jalan inilah, pembebasan Palestina niscaya bisa dilakukan.


