
Suara Pembaca
Belakangan ini, terjadi beberapa kasus kriminal yang dilakukan oleh mahasiswa seperti di Medan seorang mahasiswi bernama Sintia (21) ditangkap polisi karena berkomplot dengan pacarnya untuk mencuri sepeda motor di Jalan Jamin Ginting, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan. Tindakan kriminal lain dilakukan oleh Tagading Mangihut Silalahi (19), seorang mahasiswa di Medan, masih diperiksa polisi karena menabrak tiga pengendara sepeda motor hingga tiga orang tewas di Jalan Abdul Hakim, Kota Medan. “Saat ini, sopirnya masih diperiksa. Pengakuan sementara, dia bersama kawannya awalnya minum-minum di kedai tuak,” kata Kepala Unit Lantas Polsek Sunggal AKP Andrea Nasution kepada Kompas.com melalui saluran telepon pada Senin (13/1/2025).
Kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan yang berjalan hari ini membentuk pola pikir sekuler dan pola sikap liberal dalam diri pemuda. Alhasil tujuan hidup pemuda hanya berputar pada aspek materi atau mencari kesenangan duniawi termasuk gaya hidup hedon dan bebas. Ini juga didukung oleh media yang mengedepankan bisnis dibanding edukasi. Tayangan-tayangan media hari ini mengarahkan potensi besar pemuda pada hal-hal negatif atau kemaksiatan. Potensi besar pemuda pun tersalurkan pada kerusakan, bukan kebangkitan. Belum lagi negara yang jelas abai terhadap pembentukan kepribadian mulia pada generasi.
Pelaku kriminal yang dilakukan oleh kaum intelektual membuktikan bahwa sistem pendidikan telah gagal melahirkan generasi yang bertakwa dan berkepribadian mulia. Sebab, agama tidak dijadikan sebagai asas pendidikan sehingga kaum intelektual semakin jauh dari nilai benar dan salah. Sehingga yang menjadi standar hidup mereka adalah gaya hidup liberal. Negara, dengan kebijakan kapitalismenya, menerapkan sistem pendidikan sekuler yang justru merusak pemikiran generasi. Kebijakan-kebijakan terkait generasi pun jauh dari kebijakan yang manusiawi dan berujung pada menyia-nyiakan potensi besar pemuda.
Berbeda dengan penerapan aturan Islam secara Kaffah dalam sebuah negara berasas akidah Islam yang disebut Khilafah. Islam menetapkan negara sebagai penanggung jawab segala urusan umat termasuk pembentukan generasi berkualitas, unggul, dan bertakwa. Apalagi generasi didudukkan sebagai pembangun peradaban Islam yang mulia.
Sistem Khilafah memiliki sistem pendidikan yang akan menghasilkan generasi berkepribadian mulia yang mampu mencegahnya menjadi pelaku kriminal. Inilah tujuan utama pendidikan Islam, anak tidak hanya disiapkan untuk terjun ke dunia kerja dan mendapatkan materi, tetapi anak disiapkan menjadi generasi hebat yang mengarahkan potensinya untuk berkarya dalam kebaikan mengkaji Islam dan mendakwahkannya serta terlibat dalam perjuangan Islam.
Adapun kebijakan Khilafah terkait pemuda, ini akan menumbuhsuburkan ketakwaan dan mendorong produktivitas pemuda. Khilafah juga akan menjaga media dari konten-konten yang mengandung unsur kekerasan dan ide-ide yang bertentangan dengan Islam. Jika ada yang terlanjur tersebar, Khilafah akan bertindak cepat untuk menghilangkannya. Konten-konten media yang diperbolehkan hanyalah konten yang mengedukasi dan menguatkan ketakwaan generasi. Oleh karena itu, hanya Khilafah yang mampu menjaga para pemuda intelektual.
Fadillah Isnaini


