
Oleh: Dini Azra
Linimasanews.id—Angin segar berembus di bumi Palestina. Telah terjadi kesepakatan gencatan senjata antara pejuang Hamas dengan pihak Israel. Sebelumnya, kabinet keamanan Israel merekomendasikan gencatan senjata di Gaza dan melakukan pengembalian sandera. Perjanjian gencatan senjata tersebut mencakup jeda pertempuran selama tiga minggu dan pembebasan puluhan sandera Israel dan ratusan tahanan Palestina (Tirto.id., 18/1/2025).
Meskipun demikian, kesepakatan gencatan senjata ini sempat terancam batal. Sebab dalam rapat kabinet Israel yang membahas gencatan senjata ini ada dua orang anggota yang tidak menyetujui. Bahkan, Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben Gvir mengancam keluar jika pemerintahan menyetujui kesepakatan.
Selain itu, Israel masih saja menggencarkan serangan di Gaza yang menyebabkan puluhan orang tewas. Militer zionis mengaku telah menyerang 50 target di seluruh wilayah itu selama 24 jam. Hamas juga mengatakan bahwa serangan Israel itu telah menewaskan 80 orang dan menyebabkan ratusan orang lainnya terluka. Hamas pun mengingatkan serangan ini bisa membahayakan nyawa para sandera Israel. Bisa-bisa Israel mengubah kebebasan mereka menjadi tragedi (CNBCIndonesia.com, 17/1/2025).
Pada akhirnya, gencatan senjata disepakati oleh kedua belah pihak, dan dimulai pada hari Minggu (19/1). Tentu ini menjadi kabar gembira bagi warga Gaza yang telah mengalami genosida dan penghancuran besar-besaran selama 15 bulan. Begitu juga bagi masyarakat dunia yang turut mendukung kebebasan Palestina, termasuk Indonesia.
Hanya saja, masih ada keraguan apakah Israel akan mematuhi kesepakatan tersebut. Hal ini juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono. Menurutnya, harus dipastikan perjanjian ini dilaksanakan secara komprehensif untuk mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak. Dia juga menyampaikan bahwa Indonesia berharap gencatan senjata ini mendorong perdamaian di Palestina. Hal itu baru akan terwujud jika Palestina merdeka dan berdaulat, sesuai solusi dua negara yang telah disepakati masyarakat internasional (VoaIndonesia, 17/1/2025).
Jika harapan itu terwujud, yakni Palestina bisa merdeka dan berdaulat di atas tanah airnya sendiri, apakah artinya permusuhan selesai? Solusi dua negara yang disodorkan oleh badan dunia, justru menjadi restu bagi penjajah Israel untuk menguasai sebagian besar wilayah Palestina yang telah dicaploknya. Sedangkan rakyat Palestina hanya akan menempati sisa-sisa tanah yang telah dikuasai penjajah. Itu pun tidak menjamin jika Israel akan tetap tenang dan mematuhi kesepakatan. Sebab sudah menjadi kebiasaan bangsa ini selalu berkhianat dan melanggar perjanjian. Solusi ini tetap tidak adil bagi Palestina. Selain itu ancaman penyerangan bisa terjadi lagi sewaktu-waktu.
Tidak dimungkiri bahwa terwujudnya gencatan senjata ini menjadi pelipur lara bagi warga Palestina. Kebahagiaan terpancar dari wajah-wajah mereka. Kegembiraan itu dirayakan jalan-jalan dan di antara sisa-sisa reruntuhan bangunan di Gaza. Mereka juga bersemangat untuk membangun kembali rumah, masjid dan tempat-tempat lain dengan perlengkapan seadanya. Semangat dan kekuatan iman mereka begitu luar biasa. Hal ini tentunya membuat umat Islam di seluruh dunia turut merasa bahagia.
Keuntungan dari gencatan senjata bagi warga Palestina saat ini antara lain, ada jeda penyerangan dari kedua belah pihak. Israel menarik tentara militernya dari Gaza. Sebab Hamas memberikan syarat perjanjian agar penarikan militer zionis dilakukan secara total. Juga dilakukannya pertukaran sandera Israel dengan tahanan Palestina. Pantas bila mereka bergembira setelah setahun lebih diserang tanpa henti oleh Zionis Yahudi. Anggota keluarga yang telah lama ditahan pun akhirnya bisa pulang.
Namun perlu disadari, bagaimana kesepakatan gencatan senjata ini bisa terjadi. Mengapa Israel yang begitu brutal dan kejam tiba-tiba mengajukan perjanjian damai? Israel sebenarnya juga lelah menghadapi perlawanan pasukan muslimin. Kegigihan rakyat Palestina bersama Hamas yang begitu kuat melawan dan bertahan membuat mereka kewalahan. Ditambah lagi serangan dari kelompok militan Iran, Lebanon dan Yaman. Sedangkan Israel sudah habis-habisan mengerahkan tenaga juga biaya selama peperangan ini. Selain itu kebakaran besar yang terjadi di Los Angeles, Amerika juga ikut berpengaruh. Sebab, Amerika Serikat sebagai donatur tetap bagi Israel harus fokus membangun negaranya pasca bencana. Bisa jadi, kekurangan dana membuat penjajah terpaksa harus menyerah. Pengajuan kesepakatan gencatan senjata ini bukti bahwa sesungguhnya mereka telah kalah.
Karakter Israel yang suka berkhianat memang tidak bisa diubah. Di tengah gencatan senjata di wilayah Gaza yang dimulai pada (19/1) pasukan keamanan Israel justru melancarkan serangan di kota Jenin, tepi barat Palestina, Kamis (23/1). Serangan ini telah menewaskan 10 orang warga Palestina. Netanyahu beralasan jika serangan ini merupakan langkah baru dalam ofensif melawan kelompok militan yang didukung Iran (CNBCIndonesia.com., 24/1/2025).
Fakta tersebut membuktikan bahwa kesepakatan gencatan senjata bukanlah akhir peperangan di Palestina. Solusi dua negara juga bukan jaminan kemerdekaan bagi Palestina. Sebab keserakahan Israel tidak akan pernah puas sebelum menguasai seluruh wilayah Palestina. Warga Palestina dan para pejuang Hamas tentu akan melawan demi mempertahankan tanah mereka. Maka, satu-satunya solusi haruslah dengan mengusir Israel dari tanah Palestina secara mutlak.
Pembebasan Palestina tidak mungkin terwujud dengan jalan diplomatik. Solusi dua negara yang diusulkan dunia bukanlah )jalannya. Selama entitas Yahudi masih bercokol di sana, ancaman serangan akan tetap ada. Sudah pasti para pejuang dan rakyat Palestina akan melawan. Maka, peperangan tidak akan ada habisnya.
Palestina merupakan bagian penting bagi umat Islam. Mengingat sejarahnya dalam peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam. Al Quds juga merupakan kiblat pertama bagi umat Islam. Selain itu tanah Palestina adalah tempat menetap para Nabi terdahulu. Wilayah Palestina pernah dibebaskan oleh pasukan muslim di bawah pimpinan Umar bin Khattab dan Salahuddin al Ayubi. Setelah itu, berada di bawah naungan kekhilafahan Turki Utsmani.
Sudah seharusnya kaum muslim merebut Palestina kembali ke pangkuan umat Islam. Satu-satunya jalan hanya dengan jihad fi sabilillah. Sedangkan untuk melaksanakan jihad harus ada institusi negara yang menyatukan seluruh umat, yaitu Daulah Islamiyah atau Khilafah. Seorang khalifah akan mengerahkan tentara pilihan untuk mengusir siapa saja yang menjajah wilayah Islam. Sebab Khilafah adalah kepemimpinan umat Islam yang berfungsi sebagai perisai dan pengurus umat dengan menerapkan hukum Allah saja.
Umat Islam telah begitu lama dikuasai sistem kepemimpinan barat yang rusak. Para pemimpin dunia juga tidak akan membiarkan umat Islam bangkit dari tidur panjangnya. Sementara kaum muslim sendiri masih banyak yang belum sadar akan kondisi mereka sebenarnya. Butuh adanya kelompok dakwah yang secara terus menerus menyadarkan umat akan pentingnya kepemimpinan Islam. Hal itu bukan suatu yang mustahil atau khayalan semata. Sebab Allah dan Rasul-Nya telah mengabarkan bahwa Khilafah pasti kembali tegak di atas bumi. Saatnya umat bersatu, bebaskan Palestina segera!


