
Oleh: Ika Kusuma
(Penulis)
Linimasanews.id—Setelah lebih dari setahun terhitung sejak Badai Al-Aqsa 7 Oktober 2023 yang menyebabkan lebih dari 47.000 warga Palestina meninggal dunia, akhirnya gencatan senjata Israel dan Hamas resmi dimulai pada 19 Januari 2025 pukul 11.15 waktu setempat setelah sempat mundur 3 jam dari kesepakatan awal. Kesepakatan awal gencatan senjata pertama kali diumumkan pada Rabu (15 /01/2025) oleh mediator AS di Qatar hingga kesepakatan gencatan senjata resmi ditandatangani di Doha oleh perwakilan AS, pihak Israel dan Hamas yang dimediasi oleh Mesir di Qatar. Kesepakatan gencatan senjata ini dibagi menjadi 3 tahap sebagai berikut:
Tahap ke-1
Terhitung 42 hari pertama adalah penghentian operasi militer dan pengintaian udara di Gaza, penarikan mundur pasukan Israel dari pemukiman padat penduduk ke daerah perbatasan, serta pertukaran tawanan dari kedua belah pihak.
Tahap ke-2
42 hari berikutnya berupa penghentian total operasi militer diikuti penarikan penuh pasukan Israel serta pertukaran tawanan yang tersisa.
Tahap ke-3
Pemulangan jenasah dari kedua belah pihak, penghentian pengepungan Gaza yang dilanjutkan pembangunan kembali Gaza selama 3-5 tahun dengan dukungan internasional (bbc.com, 20/01/2025).
Ditandatanganinya gencatan senjata ini tentu menjadi sedikit angin segar bagi warga Palestina. Setidaknya ada harapan ketika ratusan truk bantuan siap masuk sebagai salah satu sarat gencatan senjata. Warga Palestina dan umat Islam pada umumnya tentu berhak bergembira atas pencapain para pejuang Gaza hingga mampu memaksa pihak Zionis menerima kesepakatan gencatan senjata meski dengan setengah hati. Seperti yang diketahui, tidak semua pejabat Israel sepakat dengan gencatan senjata hingga mereka rela meninggalkan jabatan mereka demi menolak kesepakatan. Maka tak berlebihan rasanya jika umat Islam harus tetap waspada mengingat tidak hanya sekali Israel melanggar kesepakatan perang dan kemungkinan terulang kembali.
Kekhawatiran umat pun terbukti, tak perlu menunggu lama cukup sehari setelah gencatan senjata disetujui, Israel kembali melakukan serangan terhadap Gaza. Dilansir dari Al-Jazeera, serangan udara pada Rabu malam menarget sebuah rumah dekat Gedung Serikat Insinyur di kota Gaza, utara jalur Gaza dan menewaskan 18 orang. Pertahanan sipil Palestina melaporkan 12 jenazah ditemukan di lingkungan Sheik Ridwan. Sementara di Gaza tengah juga dilaporkan 5 orang telah meninggal dunia. Total korban sedikitnya telah mencapai 82 orang dalam beberapa jam terakhir (viva.co.id, 16 /01/2025).
Kantor berita Anadolu juga melaporkan pelanggaran kesepakatan dilakukan oleh Israel. Setelah pembebasan 90 tawanan Palestina, tentara Zionis kembali menyerbu pemukiman warga di Tepi Barat dan menangkap sedikitnya 64 warga yang kemudian dibawa ke kamp militer di utara kota. Selain itu, tank-tank Israel juga telah melanggar batas zona penyangga hingga 700 meter dari zona wilayah yang disepakati di perbatasan timur Rafah (muslimahnews.net, 22/01/2025).
Perlu diingat ini bukan kali pertama Yahudi mengkhianati perjanjian gencatan senjata. Hal serupa telah terjadi sebelumnya, yakni ketika terjadi gencatan senjata pada Agustus 2014. Mereka justru melakukan serangan yang menyebabkan puluhan kaum muslim meninggal dunia. Berlanjut sejumlah pelanggaran kesepakatan sepanjang tahun 2018-2019 serta pada tahun 2021 silam.
Demikianlah, bangsa Yahudi telah tercatat dalam sejarah sebagai bangsa yang selalu ingkar janji dan tak segan melakukan kejahatan yang lebih besar lagi. Gencatan senjata yang dibagi menjadi 3 tahap nyatanya justru makin membuka celah bagi mereka untuk berkhianat. Jelas sudah, gencatan senjata bukanlah solusi utama dan bersifat sementara saja. Selama entitas Zionis Israel masih berada di bumi Palestina maka masalah umat belum terselesaikan.
Umat harus ingat bahwa akar permasalahan konflik Palestina adalah perampasan tanah dari pemiliknya, bukan konflik wilayah seperti yang dinarasikan pihak Barat. Fakta bahwa bangsa Yahudi yang dahulu terusir dari Eropa dan negeri lain telah menjadikan Palestina sebagai tanah pelarian. Namun, tanpa malu mereka justru merebut tanah Palestina dengan narasi- narasi agama dengan dukungan penuh Inggris dan Amerika.
Maka jelaslah, jika solusi 2 negara yang digaungkan bukanlah solusi karena pada dasarnya wacana ini justru memberikan sebagian besar tanah Palestina kepada pihak Yahudi dengan iming-iming jaminan keamanan yang sangat kecil bagi Palestina. Solusi dua negara yang digaungkan tak lebih bertujuan melindungi entitas Yahudi saja.
Umat harusnya sadar jika tokoh pendukung di balik Yahudi Israel adalah musuh Islam yang sejak lama ingin merebut kepemimpinan dunia dari Islam sekaligus mengokohkan penjajahan mereka di negeri-negeri muslim yang kaya akan SDA. Mereka sengaja memelihara konflik yang seolah terpusat pada permasalahan Israel dan Palestina, yang menjadikan umat Islam di dunia lupa jika konflik Palestina sejatinya adalah permasalahan umat Islam sedunia.
Sejak runtuhnya khilafah Islam terakhir, musuh Islam telah berhasil melemahkan kekuatan umat Islam dengan membagi menjadi national state. Ini juga yang menjadi alasan utama kenapa penguasa bangsa-bangsa Arab terlihat pasif menghadapi masalah Palestina. Dari awal keberadaannya negara-negara ini sengaja diciptakan bertujuan untuk memecah belah kekuatan Islam. Perlu umat ketahui, jika negara-negara ini sejak awal lahir dari rahim kolonialisme yang tentu mendukung kepentingan penjajah.
Penguasa-penguasa yang ada dimunculkan di bawah kendali ketat negara-negara imperialis. Maka seperti yang kita lihat saat ini, negeri-negeri Islam di dunia terlihat pasif dan hanya mencukupkan keterlibatan mereka sebatas politik retorika lewat kutukan dan kecaman semata, tanpa sedikitpun mengerakkan pasukan militer mereka untuk melindungi kaum muslim.
Badai Al-Aqsa harusnya sudah cukup menyadarkan umat jika masalah ini adalah masalah bersama umat muslim dunia. Masalah Palestina tidak cukup diselesaikan dengan bantuan sosial saja, namun butuh persatuan umat dan bangsa-bangsa muslim di dunia. Bukanlah solusi tepat menyerahkan penyelesaian konflik Palestina pada lembaga dunia saat ini, yang jelas keberadaanya justru diciptakan oleh musuh-musuh Islam.
Badai Al-Aqsa juga telah membuka mata dunia jika kenyataanya tentara Israel tak sekuat citra mereka selama ini, terbukti dengan mengerahkan segenap tenaga mereka tak berhasil mengusir bangsa Palestina dari tanah mereka. Hal ini sekaligus membuktikan jika umat Islam bisa bersatu seperti masa Khilafah dahulu, kekuatan besar akan tercipta dan inilah yang musuh Islam takuti selama ini, persatuan umat Islam sedunia.
Semoga keteguhan rakyat Palestina sekakin membakar semangat umat untuk mengokohkan persatuan umat Islam di dunia dan terus menyuarakan solusi tuntas pada umat hingga mampu mengetuk hati para penguasa dan pemilik kekuatan untuk bersegera mendukung kebangkitan umat Islam dunia sebagai solusi tuntas permasalahan, terkhusus Palestina dan umat dunia pada umumnya. Wallahualam bishawab.


