
Suara Pembaca
Banjir bandang terjadi lagi. Ini bukan bencana alam biasa, tetapi karena adanya kerusakan yang dibuat oleh manusia. Alih fungsi lahan dan mitigasi yang lemah menyebabkan banjir tidak tercegah. Rakyat pun hidup susah.
Peneliti ahli madya dari pusat riset limnologi dan sumber daya air BRIN, Yus Budiono menyebut, ada empat faktor penyebab banjir di wilayah Jabodetabek. Yakni, penurunan muka tanah, perubahan tata guna lahan, kenaikan muka air laut, dan fenomena cuaca ekstrem. Hasil risetnya, penurunan muka tanah berkontribusi sampai 145 persen terhadap peningkatan resiko banjir. Perubahan tata guna lahan tak terkendali meningkatkan resiko banjir sampai 12 persen, sementara kenaikan muka air laut hanya berdampak tiga persen (Tribunjabar.id, 09/03/2025).
Seyogianya, pembangunan dilaksanakan dengan paradigma yang tepat, sehingga memudahkan kehidupan manusia dan menjaga kelestarian alam. Bukan sebaliknya, pembangunan tanpa melihat keseimbangan alam.
Islam memberikan tentang cara membangun negara dengan tepat, berdampak baik bagi kehidupan masyarakat dalam jangka panjang dan pendek. Islam memosisikan penguasa sebagai raa’in (pengurus), sehingga akan terus mengurus rakyat dengan baik agar rakyat hidup sejahtera, aman, dan nyaman, termasuk terhindar dari banjir.
Dengan sistem Islam, penguasa juga akan menerapkan syariat Islam sebagai asas konsep pembangunan dan melakukan mitigasi yang kuat untuk mencegah terjadinya bencana, khususnya banjir. Sebab, dalam Islam, konsep pembangunan jauh dari tujuan hanya demi keuntungan materi, tetapi untuk kemaslahatan umat.
Laila Quni Istaini


