
Oleh: Resti Ummu Faeyza
Linimasanews.id—Konflik antara Pakistan dan India kembali terjadi. Dua negara tetangga yang terletak di wilayah Asia Selatan ini memang sudah sangat lama saling bermusuhan. Penduduk Pakistan mayoritas beragama Islam dan penduduk India mayoritas beragama Hindu. Konflik antara dua negara ini terjadi sejak kekuasaan kolonial Inggris berakhir. Wilayah yang besar itu akhirnya terbagi menjadi dua (Pakistan dan India), namun ada satu wilayah yang masih menjadi sengketa hingga saat ini, yatu Kashmir.
Setelah Inggris mengakhiri pendudukannya pada tahun 1947-1948, terjadilah perebutan wilayah geografis. Terutama yang berkaitan tentang kekayaan sumber daya di antara kedua wilayah tersebut. Hingga pada akhirnya, wilayah Kashmir yang menjadi perbatasan utara India dan Pakistan, menjadi titik konflik yang berlangsung hingga hari ini.
Serangan terbaru terjadi pada Rabu, 7 Mei 2025. India meluncurkan serangan rudal ke sejumlah wilayah di Pakistan dan Kashmir bagian Pakistan. Konflik bersenjata antara India dan Pakistan dimulai setelah terjadi serangan di Lembah Baisaran, Pahalgam, wilayah Kashmir yang berada di bawah kendali India, pada 22 April 2025. Dalam insiden tersebut, sekelompok pria bersenjata menewaskan 26 orang. India menuding Pakistan-lah yang berada di balik serangan tersebut (tempo.co,11/5/2025).
Aksi saling serang antara Pakistan dan India selama beberapa hari tersebut akhirnya reda setelah berhasil dimediasi oleh Donal Trump (Amerika Serikat). Namun, tak bisa dimungkiri, intervensi barat terhadap konflik Pakistan-India tentu saja memiliki tujuan lain, mengingat Amerika Serikat juga sedang menancapkan kekuasaan terhadap negeri-negeri di Timur Tengah, termasuk peperangan yang tak kunjung usai di Palestina.
Perlu diingat pula, pada puncak Perang Dingin, Uni Soviet menyatakan dukungannya untuk India, sementara Amerika Serikat dan China mendukung Pakistan. Bahkan, Perang Pakistan vs India tak ayal bisa menjadi ajang uji coba alutsista China.
Terlepas dari konflik berkepanjangan antara Pakistan dan India, militer Pakistan bisa disebut sebagai militer kaum muslimin yang paling kuat, baik dari sisi tentara maupun senjatanya. Militer Pakistan bahkan sangat bisa melakukan pembelaan kepada Palestina yang terjajah, mengingat sepak terjang militer Pakistan di dunia. Namun, hari ini Pakistan justru melakukan perang terhadap India dengan isu yang sama dengan perang mereka sebelumnya (Kashmir).
Seharusnya, militer Pakistan tidak terjebak pada situasi yang sama di saat saudara Muslim mereka di Palestina sedang dijajah. Mereka tampak mudah sekali untuk mengangkat senjata demi kepentingan nasionalisme yang remeh temeh, tetapi hal yang sama justru tidak dilakukan untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. Padahal, seharusnya, tentara Pakistan mengangkat senjata mereka untuk menolong saudara mereka di Palestina. Sebagaimana firman Allah dalam surah at-Taubah: 14 dan al-Baqarah: 191.
قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ
“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (QS. At Taubah: 14)
وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ۚ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّىٰ يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ ۖ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ ۗ كَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ
“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang–orang kafir.” (QS Al Baqarah: 191)
Keberanian negara Hindu dalam hal ini India, untuk menyerang Pakistan, dan keinginannya untuk mendominasi kawasan adalah akibat langsung dari ditinggalkannya jihad oleh para penguasa muslim. Ketika umat Islam tidak menaati perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya saw., serta mengabaikan hukum syariah yang jelas mengenai wilayah Muslim yang diduduki, yakni Kashmir, maka kekalahan dan kehinaan dari musuh pengecut menjadi akibatnya. Dengan menyatakan jihad sebagai “terorisme”, tunduk kepada tatanan internasional dan membelenggu tentara Pakistan dalam batas negara-bangsa, para penguasa muslim yang ada justru memperkuat negara Hindu.
Sepenting itulah hadirnya kepemimpinan yang satu bagi seluruh kaum muslimin hari ini. Karena, tanpa komando yang satu di bawah naungan syariat Islam, negeri-negeri kaum muslimin akan terus mengalami kelemahan dan kekalahan dalam menghadapi musuh-musuhnya hingga Barat bebas mengintervensi apa pun. Bahkan, kekuatan yang ada justru hanya akan dipakai untuk kepentingan negaranya sendiri saja dalam balutan nasionalisme.


