
Suara Pembaca
Kabar bahagia datang dari artis papan atas Indonesia yaitu Luna Maya dan Maxime Bouttier yang baru saja menikah. Pernikahan mereka ramai diperbincangkan oleh publik. Hal yang menjadi sorotan dalam acara pernikahan tersebut adalah tradisi Garter belt yang dilakukan di after party pernikahan mereka.
Adapun akad nikah mereka memakai konsep tradisional yakni budaya jawa. Sementara untuk resepsinya memakai konsep modern yakni budaya Eropa (10/5/2025). Tradisi garter belt sendiri berawal dari Eropa, khususnya Inggris. Di mana pengantin pria mengambil potongan kain yang terikat di bagian paha pengantin wanita menggunakan mulutnya sampai terlepas lalu dilemparkan kepada groomsmen dan bridesmaid, dan siapa yang berhasil menangkap potongan kain tersebut konon katanya akan menyusul untuk segera menikah.
Ironinya, banyak masyarakat yang memaklumi hal seperti ini karena alasan tradisi dan euforia pernikahan saja. Padahal di dalamnya tampak jelas aktivitas yang memalukan dan seharusnya tidak dipertontonkan di khalayak ramai, bahkan dianggap sebagai hal yang menyenangkan. Na’udzubillah.
Paham liberalisme (kebebasan) yang hidup dalam sistem kapitalisme memberikan ruang bagi masyarakat boleh melakukan apa saja tanpa didasarkan aturan agamanya, termasuk mencampur adukkan perkara budaya dengan agama tanpa melihat standar halal dan haram perbuatan tersebut. Padahal Rasulullah saw. telah bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari mereka”. (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Dalam Islam, pernikahan merupakan sesuatu yang sakral, salah satu ibadah untuk menggapai ridha Allah Swt. Tidak sepatutnya ikatan suci ini dinodai dengan sesuatu yang diharamkan, termasuk mengikuti tradisi Garter belt yang tidak syar’i. Sebagai kaum muslim, kita harus lebih selektif lagi dalam memilah dan memilih budaya yang kita pakai. Jangan sampai bertentangan dengan syariat Islam serta dapat mengundang murkanya Allah Swt. Tidakkah kita takut dengan azab Allah yang pedih? Atau bahkan kita tahu namun sengaja acuh demi memuaskan kebahagiaan duniawi?
Riska Puspa Mentari, S.Pd.I.
(Ibu dan Pemerhati Generas)


