
Oleh: Emmy Harti Haryuni
Linimasanews.id—“Wahai Rasulullah, janganlah engkau berikan syafaat kepada mereka karena mereka mengecewakan kami. Kami tidak akan memaafkan di dunia dan akhirat“. Demikianlah jawaban seorang ibu warga Gaza, Palestina saat ditanya apa pesannya untuk negara-negara Arab.
Kekecewaan saudara muslim Palestina yang mengalami pembantaian itu disampaikan dengan lantang. Betapa mereka sangat kecewa dengan negara-negara Arab yang hanya menonton penggalan tubuh dan darah warga Palestina yang berhamburan hingga ke awan. Makin menyesakkan dada saat mengetahui ternyata negara-negara Arab justru makin menjalin kemesraan dengan negara kafir penjajah yang mempunyai track record gemar membantai kaum muslim.
Betapa sakit perasaan umat Islam mendapati kenyataan bahwa selama 4 hari kunjungan ke Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meraup dana investasi sebanyaj 2 triliun US$, berkisar Rp33.000 triliun (kurs Rp16.500 per US $).
Penyambutan yang super lux bagaikan juru selamat yang turun dari langit makin membuat pedih hati umat Islam. Di Qatar, Trump bukan hanya disambut dengan pelayanan mewah, tetapi juga diberi hadiah istimewa sebuah pesawat jet super mewah yang memiliki kecepatan di atas 1.000 km/jam, merupakan pesawat Boeing 747 keluaran terbaru dengan julukan “Queen of the Skies.
Sementara itu, Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Muhammad Bin Salman dengan senyuman mengembang juga menyambut kedatangan Trump dengan menggelar karpet ungu kerajaan ditambah tiupan terompet dan penghormatan senjata sebanyak 21 kali. Ia memperlakukan manusia yang tangannya berlumuran darah kaum muslimin bak malaikat yang turun dari langit. Lalu, di Abu Dhabi-Uni, Emirat Arab, Trump disambut dengan armada mewah, dihibur tabuhan genderang beserta wanita-wanita dengan tarian al-ayyala yang mengibas-ngibaskan rambut (CNBCIndonesia.com, 18/5/2025).
Pengkhianatan Pemimpin Muslim Semakin Nyata
Sejatinya, kunjungan Presiden Paman Sam tersebut makin mengokohkan kekuasaan negara adidaya pada negeri-negeri muslim. Bukan sekadar kunjungan biasa, tetapi sebuah kunjungan yang menghasilkan banyak kesepakatan yang kian menguntungkan dan mengokohkan kekuasaan adidaya. Seperti, kesepakatan pembelian pesawat jet boeing oleh sebuah maskapai penerbangan Qatar dan pembelian senjata dari Amerika Serikat sebesar miliaran dolar AS. Betapa pemimpin negeri-negeri Arab yang selama ini menjadi tumpuan harapan umat, ternyata tunduk dan patuh pada penjajah.
Arab Saudi memberikan investasi dengan jumlah yang sangat fantastis untuk kerja sama di bidang kesehatan dan penelitian militer, selain membuat beberapa perjanjian perihal bisnis minyak di antara mereka. Sementara itu, Uni Emirat Arab membuat kesepakatan terkait program kecerdasan buatan (Tempo.co, 18/5/2025).
Publik menyaksikan pagelaran hina dina para punggawa kerajaan di negeri para Syaikh Arab. Mereka terang-terangan membuka brankas, mengeluarkan uangnya untuk diberikan pada pembantai saudaranya sendiri. Semua dilakukan dengan sambutan mesra dalam jamuan super mewah.
Kala kobaran genosida yang menimpa saudara muslim Palestina tak kunjung padam, bisa-bisanya para penguasa negeri-negeri Arab justru menggelontorkan hartanya kepada penjajah yang tak henti memerangi Islam dan kaum muslimin. Sungguh sebuah pengkhianatan yang mengiris hati kaum muslim.
Sejatinya para penguasa di negeri-negeri muslim adalah pihak yang memiliki kewenangan untuk memanfaatkan sumber daya umat, sumber daya manusia, kekayaan alam yang tumpah ruah, kekuatan militer dan persenjataan, yang seharusnya digunakan untuk melindungi jiwa dan raga umat Islam. Sayangnya, mengharapkan itu semua bagai punguk merindukan bulan, sesuatu yang mustahil terwujud.
Harapan Umat Hanya pada Tegaknya Khilafah
Tragedi memilukan dan memalukan tersebut adalah bukti bahwa negeri-negeri Arab bukanlah pelindung umat Islam. Kepada siapa para penguasa Arab memberikan uangnya telah menunjukkan kepada siapa loyalitas, kesetiaan, dan ketundukkannya diberikan.
Tampak jelas bahwa penguasa Arab, termasuk yang katanya sebagai penjaga dua Tanah Haram pun tidak punya kedaulatan. Mereka menyambut penguasa adidaya dengan jamuan super mewah saat kondisi muslim Palestina yang jangankan bisa makan dengan layak, minum air bersih pun sulit diperoleh. Kesepakatan yang mereka buat juga tidak sedikitpun membicarakan pengusiran penjajah dari bumi Palestina. Lalu, bagaimana mungkin bisa menjaga kedaulan kaum muslimin yang sedang dibantai?
Berganti-ganti tahta kerajaan pun para penguasa itu tetaplah tunduk pada negara adidaya. Sungguh tidak ada kata nanti, umat Islam harus bangkit dari penghinaan ini. Sejatinya umat Islam adalah umat terbaik di muka bumi ini. Tunduk dan menjadi pelayan kaum salibis dengan terpecah-belah dalam sekat nasionalisme adalah kemaksiatan besar yang mengundang kemurkaan Allah dan Rasul-Nya.
Asa yang tidak akan pernah mengecewakan umat hanyalah hidup dalam naungan kekuasaan Islam, hidup dalam aturan yang dipimpin oleh pemerintahan Islam (khilafah). Ialah sebuah sistem yang akan menyelamatkan dan melindungi umat ini dengan perlindungan secara kafah. Harapan ini tidak membuat patah hati kaum muslimin karena dalam khilafah, darah, nyawa, kehormatan, harta, agama kaum muslim wajib hukumnya dilindungi dengan sebaik-baiknya.


