
Oleh: Emil Apriani
Linimasanews.id—Situasi di Gaza-Palestina kian memprihatinkan. Seiring serangan militer Israel di Gaza, korban jiwa terus meningkat. Puluhan truk berisi bahan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan hidup lainnya tertahan di perbatasan lantaran militer Israel memberlakukan pembatasan dan blokade sejak 2 Maret 2025, di tengah serangan yang terus diluncurkan. Krisis kelaparan mulai membayangi warga Gaza. Sejumlah anak-anak sampai mengalami malnutrisi atau gizi buruk. Tak sedikit warga Gaza yang meninggal karena kelaparan.
Bencana yang terjadi di Gaza bukan sekadar sebagai krisis kemanusiaan. Sebagian besar warga hidup dalam kelaparan ekstrem. Tercatat, hampir 470 ribu orang mengalami kelaparan parah. Dalam pelaporan otoritas kesehatan Gaza pada Senin, 28 Juli 2025, lebih dari 147 warga Gaza meninggal akibat kelaparan dan malnutrisi akut, mencakup puluhan bayi dan anak-anak (metrotvnews, 1/8/2025).
Krisis kelaparan dan malnutrisi di Gaza adalah keniscayaan. Warga Gaza hidup dengan keterbatasan. Tidak hanya bantuan kemanusiaan saja yang diblokade masuk ke Gaza, namun militer Israel pun menjadikan kerumunan warga yang mengantre makanan sebagai sasaran serangan. Penembakan warga sipil yang mencari bantuan di Gaza, sudah menjadi pemandangan yang biasa dijumpai di sana.
Mirisnya, tragedi ini terus berlangsung tanpa ada yang bisa menghentikan. Tidak ada satu pun lembaga internasional, penguasa dunia, terutama penguasa Muslim yang berani melakukan pembelaan nyata terhadap Gaza. PBB hanya bisa menyebut bahwa entitas Zionis telah melakukan kejahatan perang. Para penguasa di dunia tampak memilih bungkam. Dan yang lebih menyakitkan, penguasa Muslim berkoar-koar membela Palestina dan Gaza, tapi tangan dan kaki mereka terikat perjanjian dengan Zionis Israel dan Amerika.
Mayoritas masyarakat dunia berdiri membela Gaza-Palestina. Dengan digelarnya aksi massa di berbagai negara, menunjukkan keberpihakan agar segera menghentikan penderitaan warga Palestina. Berbagai aksi boikot, bantuan dana, logistik dan yang lainnya terus berlangsung hingga saat ini. Namun, tidak cukup berhenti pada level simpati dan tergerak secara kemanusiaan saja.
Bagi umat Islam, ada perkara akidah dalam persoalan Gaza. Perasaan dan sikap atas nasib muslim Gaza menjadi salah satu barometer untuk mengukur keimanan.
Krisis kelaparan di Gaza adalah nyata dan sistemis. Maka kaum muslimin sebagai umat terbaik sebagaimana janji Allah SWT, selayaknya bersatu membangun kesadaran umat dan mendesak pembebasan Palestina dengan solusi sistematis. Yakni, mengusir penjajah Zionis Israel dari tanah Palestina seluruhnya, tidak terkecuali Gaza, dengan jihad yang dikomandoi oleh seorang pemimpin kaum Muslimin (khalifah) dalam naungan kepemimpinan Islam.


