
Oleh: Laila Quni Istaini
Linimasanews.id—Armada sipil internasional tengah berlayar di Laut Mediterania, membawa misi kemanusiaan sekaligus pesan politik. Armada tersebut berlayar untuk menantang blokade Israel atas Jalur Gaza. Inisiatif ini dinamakan Global Sumud Flotilla (GSF). “Sumud” berarti keteguhan dalam bahasa Arab. Bagi para pesertanya, istilah itu mencerminkan perlawanan damai menghadapi ketidakadilan.
Flotilla kali ini disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah gerakan serupa. Lebih dari 50 kapal dan ratusan relawan dari 44 negara bergabung, dengan latar belakang beragam (rri.co.id 02/09/2025).
Kita ketahui, genosida di Palestina belumlah usai, bahkan makin parah. Hari ini bukan hanya bom yang jadi senjata, tetapi Zionis penjajah itu memutus segala bentuk bantuan sehingga warga Gaza, tidak dapat mengaksesnya. Terjadilah kelaparan yang sangat besar. Bukan hanya bom yang membunuh mereka tapi mereka mati karena kelaparan dan kehausan.
Tiada hentinya aksi zionis laknatullah. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terus mendukung agar zionis Israel segera mengambil alih Palestina. Melihat kondisi Gaza yang sangat memperhatikan, penguasa Arab justru tidak peduli, padahal mereka dekat dan punya kuasa.
Masyarakat internasional melakukan kembali upaya untuk menolong kondisi di Palestina. Atas nama kemanusiaan, mereka ingin membuka blokade untuk datangnya bantuan. Lebih dari 50 kapal dan ratusan relawan dari 44 negara dengan latar belakang beragam bergabung dalam GSF (Global Sumud Flotilla). Meski tahu bahwa risiko yang dihadapi besar, mereka tetap maju dan bergerak. Maka, sungguh miris melihat negara negara yang pemimpinnya muslim, tetapi masih saja diam.
Misi flotilla ke Gaza bukan hal baru. Namun, sejak 2010, upaya serupa kerap berakhir dengan pencegatan Angkatan Laut Israel. Bahkan, pernah menelan korban jiwa. Tahun ini risiko terasa makin nyata. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, menyerukan agar para aktivis ditetapkan sebagai “teroris” dan kapal mereka disita.
Usaha GSF ini memang tidak bisa dianggap remeh. Bagi mereka, lebih baik gagal daripada tidak bergerak. Akan tetapi, solusi kemanusiaan tidaklah cukup dan bukanlah solusi yang sesungguhnya untuk Palestina.
Islam telah memberikan solusi yang hakiki, solusi jitu, solusi syar’i untuk Palestina. Tidak lain adalah jihad fii sabilillah. Palestina tidak akan bisa diselamatkan, kecuali dengan perang melawan zionis. Negeri-negeri muslim wajib mengirimkan militer untuk memerangi zionis.
Karena itu, seyogianya umat sadar dan terus bersuara, menuntut para penguasa muslim untuk mengirimkan militer menghentikan genosida di Gaza. Jangan sampai berita tentang Gaza padam. Karenanya, suara dan fakta tentang Gaza hari ini harus tersebar. Sebab, kita sudah melihat dan menyadari bahwa bantuan kemanusiaan saja tidak pernah cukup. Umat Islam harus terus bersatu menyuarakan jihad fii sabilillah untuk membebaskan Palestina.


