
Oleh: Naimatul-jannah (Aktivis Muslimah Asal Ledokombo-Jember)
Linimasanews.id—Fenomena fatherless atau kehilangan peran seorang ayah makin marak. Tidak sedikit anak-anak yang akhirnya tumbuh tanpa peran ayah. Pada Oktober 2025, sekitar 20,1% – 20,9% anak Indonesia mengalami fatherless, yang disebabkan oleh perceraian, kematian, atau pekerjaan ayah yang sering membuat mereka merantau. Fenomena ini melahirkan dampak serius dalam aspek psikologis, moral, dan pendidikan anak (Kompas.com).
Kapitalisme Penyebabnya
Kapitalisme menjadikan fungsi luhur seorang ayah terkikis habis. Ayah yang seharusnya menjadi seorang pemimpin dan pelindung keluarga, kini justru berjuang sendirian melawan keadaan yang tidak pernah berpihak padanya. Bukan hanya melawan kemiskinan, tetapi juga melawan kezaliman struktural yang disulap jadi “kenormalan ekonomi modern”.
Melambungnya harga kebutuhan pokok, pendidikan berkualitas hanya dienyam kalangan menengah atas, kesehatan bagi yang kaya saja, ayah jadi kehilangan kesempatan hadir dalam kehidupan anak-anaknya. Karena, hari ini seorang ayah bukan hanya menanggung tanggung jawab spritual dan sosial, tetpi juga beban ekonomi yang tak wajar. Ayah dipaksa menjadi tulang punggung, menanggung semua biaya yang seharusnya ditanggung negara, misalnya kesehatan, pendidikan, dan keamanan yang mestinya gratis bagi seluruh rakyat karena merupakan kebutuhan dasar yang wajib dijamin oleh negara.
Peran Ayah dalam Islam
Dalam Islam ayah bukan hanya sekadar pencari nafkah. Lebih dari itu, ayah sebagai pembimbing, pendidik, dan teladan dalam keluarga. Ayah adalah figur yang seharusnya menanamkan iman dan adab kepada anak-anaknya. Kehilangan sosok ini akan memutus mata rantai keteladanan dalam keluarga.
Tanggung jawab seorang kepala keluarga yang tak kalah penting adalah memberikan perhatian khusus kepada pendidikan anggota keluarganya, termasuk pendidikan agama, akhlak, pengetahuan umum, dan keterampilan praktis. Al-Qur’an menggambarkan peran ayah yang sangat luar biasa, yaitu kisah Luqman Al-Hakim yang memberikan nilai-nilai tauhid kepada anaknya.
Namun, ada yang punya peran besar yang juga tidak boleh dilupakan, yaitu peran negara. Negara memiliki peran yang sangat besar agar pengasuhan anak berjalan sesuai dengan syariat, yakni dengan menerapkan aturan Islam secara kaffah dalam kehidupan.
Penerapan sistem ekonomi Islam akan membuat negara mampu mengelola semua kekayaan alam yang dimiliki dan hasilnya akan dikembalikan kepada seluruh rakyat. Negara bertanggung jawab menyediakan lapangan pekerjaan bagi kaum laki-laki dan memastikan peran ayah berjalan dengan semestinya, yaitu sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab akan nafkah keluarganya.
Dalam Islam, para ibu tidak dipaksa bekerja demi menjalankan fungsinya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Negara akan mengingatkan ibu dan ayah agar tidak lalai terhadap tugasnya. Penerapan Islam oleh negara sudah terbukti selama kurang lebih 1300 tahun. Di dalamnya, ayah mampu menjalankan tugas dan kewajibannya sesuai syariat, ibu pun demikian. Walhasil, lahir anak-anak yang berkualitas dengan bimbingan kedua orang tuanya yang memenuhi kewajibannya sesuai tuntunan syariat.


