
Oleh: Yulia (Pegiat Pena Banua)
Linimasanews.id—Di balik senyum ceria anak-anak bangsa, banyak yang tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah, baik secara fisik maupun batin. Fenomena fatherless ini menjadi ancaman nyata bagi masa depan generasi Indonesia. Sebab, ayah bukan sekadar pencari nafkah, tetapi juga teladan, pelindung, dan pembentuk karakter. Ketika peran itu hilang, anak kehilangan arah, kehilangan rasa aman, dan bangsa pun perlahan kehilangan generasi kuat yang lahir dari rumah yang utuh.
Hasil survei tim jurnalisme menyebutkan bahwa pada bulan Maret 2024, ada 15,9 juta anak atau setara dengan 20,1 persen dari total 79,4 juta anak berusia kurang dari 18 tahun yang berpotensi mengalami fatherless. Data ini juga menyatakan, 4,4 juta terjadi karena tidak tinggal bersama ayah. Sedangkan 11,5 juta anak karena ayahnya sibuk bekerja atau separuh harinya lebih banyak bekerja di luar rumah. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan dalam keluarga sedang mengancam pertumbuhan mental ataupun masa depan anak (Kompas.id, 16/10/2025).
Berdasarkan data kualitatif pada 16 psikolog di 16 kota di Indonesia, dampak dari fatherless yaitu adanya rasa minder dan emosi/mental yang labil. Dampak lainnya adalah kenakalan remaja serta sulit berinteraksi sosial dan rendahnya motivasi akademik (Kompas.Id, 16/10/2025).
Hal ini tidak dapat dianggap remeh karena berdampak pula pada masa depan anak. Karenanya, perlu penanganan yang serius agar tidak merusak masa depan anak bangsa Indonesia. Fakta hari ini, banyak orang tua yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya hingga melupakan perannya yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan mental anak. Tekanan ekonomi keluarga juga menjadi salah satu faktor yang membuat ayah bekerja keras di luar rumah. Selain itu, tempat kerja yang tidak ada waktu libur karena mengejar target perusahaan.
Inilah fakta kehidupan sosial yang berdampak ke dalam keluarga. Sehingga dapat disimpulkan bahwa akar masalahnya adalah sistem kehidupan sekuler kapitalis yang tidak memberikan ruang untuk orang tua dapat menemani tumbuh kembang sang anak. Berbagai masalah yang ditimbulkan dari penerapan sistem kapitalis sekuler juga membuat permasalahan fatherless tidak menjadi sorotan, bahkan diabaikan.
Padahal, dampaknya hari ini tidak dapat dihindarkan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kejahatan yang dilakukan oleh anak, mulai dari bully, kekerasan fisik, hingga pembunuhan.
Keteladanan Rasulullah
Rasulullah ﷺ adalah uswatun-hasanah bagi umatnya. Beliau telah memberikan contoh terbaik menjadi pemimpin yang berintegritas di berbagai bidang kehidupan, dari menjadi kepala negara hingga kepala keluarga. Sudah seharusnya kaum muslim meneladani Rasulullah dalam setiap aspek kehidupan.
Rasulullah ﷺ adalah gambaran pemimpin ideal dalam Islam untuk mencapai kehidupan yang unggul secara menyeluruh sesuai tuntunan Islam. Pemimpin seperti Beliau akan ada secara utuh jika sistem Islam diterapkan secara kafah. Oleh karena itu, kembali kepada Islam dan menjadikan Islam sebagai ideologi kehidupan individu dan sosial adalah suatu konsekuensi bagi seorang muslim (Muslimah News, 16/10/2025).
Maka dari itu yang dibutuhkan oleh kaum muslimin hari ini adalah sebuah institusi negara yaitu Khilafah Islam yang dapat memberikan dukungan secara penuh kepada setiap sosok ayah untuk membimbing anaknya menjadi seorang pemuda yang cerdas serta calon pemimpin peradaban.
Negara Islam akan memberikan bekal kepada setiap laki-laki yang akan menjadi kepala keluarga hingga menjadi seorang ayah baik dari segi ilmu ataupun pekerjaan yang layak. Sebagaimana Allah berfirman dalam surah Luqman, “(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’ Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS Luqman: 13-14)
Berdasarkan ayat tersebut, dapat kita ketahui bahwa di dalam Islam, Allah telah mengatur peran seorang ayah, ibu, dan anak secara rinci sehingga setiap orang akan memperoleh semua kebutuhannya secara adil.
Hal ini sangat jauh berbeda dengan sistem kehidupan hari ini yang memisahkan tugas serta peran setiap individu yang mengakibatkan masalah pada mental anak. Ketiadaan negara Islam hari ini membuat kaum muslimin kehilangan arah dan tidak mengetahui perannya dalam kehidupan.
Karena itu, mewujudkan negara yang menerapkan Islam secara kafah (khilafah) adalah kebutuhan utama kaum muslimin. Bahkan adalah kewajiban bagi setiap individu untuk mewujudkannya kembali. Karenanya, dibutuhkan para pejuang yang istiqamah mendakwahkan Islam. Hanya dengan khilafah, semua syariat Allah bisa diterapkan.


