
Oleh: Ratna Kurniawati, SAB
Linimasanews.ix—Pergaulan bebas antara remaja laki-laki dan perempuan pada zaman sekarang seolah bukanlah hal yang tabu. Tindakan asusila di tempat umum yang seharusnya malu dilakukan malah menjadi hal yang lumrah atau biasa. Generasi muda sekarang makin berani melakukan tindakan tidak senonoh di depan umum tanpa rasa bersalah. Urat malu mereka seolah putus.
Unggahan akun Facebook Fir Anak’e Emak, misalnya, memperlihatkan dugaan perbuatan mesum sepasang muda-mudi yang dilakukan di taman Bundaran GKB. Unggahan tersebut menimbulkan pro dan kontra. Kepala Bidang Ops Satpol PP Gresik Hidayat menyampaikan akan ada patroli untuk mengawasi ruang publik. Selain itu, meminta masyarakat untuk turut andil dan peduli apabila melihat pelanggaran tersebut (Kabarbaik.co, 9/10/25). Sanksi berat pun akan dikenakan bagi warga yang terbukti melakukan tindakan mesum di ruang publik, mulai dari pemanggilan orang tua apabila masih di bawah umur.
Kasus tindakan asusila di tempat umum ini bukanlah yang pertama tersebar di ranah publik. Sebelumnya sempat viral video mesum yang diduga dilakukan oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2024.
Derasnya arus liberalisasi menjadikan mereka melakukan tindakan semaunya sendiri, tanpa memikirkan dampak dari perbuatan tersebut. Beginilah dampak dari kebobrokan sistem kapitalisme sekuler yang dianut oleh bangsa ini. Sekularisme ini menjadikan rusaknya pemikiran. Seseorang menjadi bergaul secara bebas dengan dalih perbuatan tersebut dilakukan suka sama suka tanpa ada pihak yang dirugikan.
Sekularisme yang menjadikan agama hanya sebagai ibadah ritual semata, tanpa mengatur kehidupan. Ini membuat kerusakan makin parah. Pemisahan agama dari kehidupan menambah parah kerusakan bangsa ini, terutama generasi muda yang seharusnya menjadi tonggak peradaban bangsa.
Kerusakan generasi ini akibat dari salahnya sistem pendidikan yang berlandaskan sekularisme. Pengaruh pola pikir dan kebebasan ala Barat membuat generasi muda muslim lupa akan jati dirinya yang seharusnya takut kepada Allah Swt agar tidak terjerumus pada kemaksiatan. Hal ini tentu berbeda dengan sistem pendidikan Islam yang dibangun berlandaskan akidah Islam. Fondasi akidah Islam inilah yang membangun generasi menjadi berkepribadian dan pola pikir islami.
Islam juga mengatur tata cara pergaulan laki-laki dan perempuan sehingga kemaksiatan bisa dicegah. Islam memerintahkan laki-laki menjaga pandangannya dari wanita dan sebaliknya. Perintah kepada laki-laki untuk menjaga pandangan disebutkan secara khusus. Allah Swt. berfirman,
قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ ذَٰلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ ٣٠
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menjaga pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka. Yang demikian adalah lebih suci bagi mereka. Sungguh Allah Mahatahu atas apa yang mereka perbuat.” (QS. an-Nur [24]: 30)
Perintah kepada wanita untuk memelihara pandangannya terhadap laki-laki disebutkan pula secara khusus. Allah Swt. berfirman,
وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ ٣١
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (biasa) tampak pada diri mereka.” (QS an-Nur [24]: 31)
Pola pikir dan kepribadian islami tersebut memberikan pengaruh akan terikatnya peserta didik pada syariat Islam, sehingga terwujudnya lingkungan pendidikan dan masyarakat islami. Mereka akan takut melakukan kemaksiatan karena adanya benteng keimanan.
Selain itu, dalam Islam, akan ditetapkan sanksi yang menimbulkan efek jera terhadap perbuatan kemaksiatan. Oleh karena itu, sudah saat kita kembali kepada Islam sebagai solusi atas permasalahan umat. Islam merupakan agama rahmatan lil alamiin yang akan mewujudkan kedamaian dan kasih sayang untuk alam semesta, bukan hanya untuk umat Islam saja.


