
Suara Pembaca
Tema Hari Santri 2025 “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.” Tema tersebut seolah menegaskan bahwa santri dan pesantren harus aktif berkontribusi dalam pembentukan peradaban global. Dalam kesempatan Musabaqah Qiroatil Qutub, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa kejayaan peradaban Islam harus diawali dari pondok pesantren. Namun, di lapangan banyak agenda prioritas di pesantren yang mengarah pada program-program ekonomi dan sosial. Suatu kecenderungan yang bisa mengaburkan fungsi utama pesantren sebagai lembaga pembentuk ulama dan pengawal syariat.
Dewan Besar Hari Santri 2025 sekilas menghadirkan semangat optimisme dan cita-cita luhur. Tema ini menggambarkan harapan agar santri dan pesantren berperan aktif dalam membangun peradaban global yang berkeadaban. Namun, dalam konteks kehidupan modern yang diwarnai pandangan sekuler dan liberal hari ini, arah semangat tersebut penting untuk dipahami secara kritis melalui kacamata syariat Islam. Dalam beberapa tahun terakhir, pesantren kerap diarahkan untuk mengambil peran-peran baru di ranah sosial dan ekonomi.
Program-program yang menempatkan santri sebagai duta budaya, motor kemandirian ekonomi atau agen perubahan sosial terus bermunculan. Meskipun langkah ini tampak progresif, terdapat potensi pergeseran fungsi mendasar Pesantren dari lembaga pencetak ulama dan penjaga kemurnian ajaran Islam, menjadi peran-peran yang lebih pragmatis sesuai dengan kerangka pembangunan versi sekuler modern. Beginilah pesantren saat ini, berada di medan pertempuran antara yang hak dan batil.
Narasi santri sebagai agen perdamaian dan pembangunan sosial pun seringkali diposisikan dalam makna yang lebih universalistik dan kurang berakar pada konsep perdamaian sejati dalam Islam, yakni rahmatan lil’alamin yang berlandaskan penerapan syariat. Semestinya, eksistensi pesantren ditujukan untuk menegaskan betapa mulianya misi pesantren sebagai penjaga ilmu, iman dan peradaban. Pesantren harus kembali pada hakikatnya sebagai pencetak generasi yang tafaqquh fiddin, yakni generasi yang berpikir dengan akidah Islam dan hidup dengan syariat Allah. Pesantren juga menjadi lembaga pengkader ulama warasat al anbiya, yakni pewaris para nabi. Peran pesantren adalah menyebarkan Islam dengan dakwah dan jihad.
Demikian seharusnya kontribusi santri dan pesantren, bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai penjaga peradaban Islam. Ia harus tetap kokoh mencetak generasi bertakwa, berilmu, dan siap memperjuangkan tegaknya syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.
Ummu Hadid


