
Oleh. Eni Yulika
Linimasanews.id—Dikutip dari detik.com (24/10), Presiden Prabowo Subianto berencana memasukkan pelajaran Bahasa Portugis di sekolah-sekolah. Menanggapi hal itu, Koordinator Nasional (Kornas) Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim menilai, seharusnya Bahasa Mandarin yang lebih diprioritaskan karena peluang mencari pekerjaan lebih terbuka. Ia menuturkan, penting juga mempelajari bahasa lokal yang terancam punah. Menurut penelitian BRIN, ada sekitar 400 bahasa daerah di Indonesia.
Seberapa penting Bahasa Portugis ini jika dibandingkan pelajaran yang lainnya? Diketahui, bahasa yang telah diajarkan di beberapa sekolah di Indonesia di antaranya: Bahasa Inggris, Arab, Mandarin, Jepang, dan Bahasa Prancis. Kebanyakan bahasa tersebut dilatarbelakangi oleh kepentingan bisnis. Dengan mempelajari bahasa tersebut, lowongan untuk bekerja di perusahaan asing terbuka lebar, baik dalam maupun luar negeri.
Salah Arah
Pendidikan hari ini hanya bisa melahirkan generasi yang siap terjun ke dunia usaha. Banyak orang tua menyekolahkan anaknya dengan harapan bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Hal ini berbeda jauh dengan tujuan pendidikan yang dibangun oleh generasi terdahulu. Bapak Pendidikan Nasional, misalnya, Ki Hajar Dewantara memandang bahwa pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia, menuntun anak sesuai dengan kodratnya, mencapai kebahagiaan dan keselamatan, baik sebagai individu dan anggota masyarakat, menyelaraskan dengan alam dan masyarakat, membentuk kepribadian yang merdeka, mengembangkan budi pekerti, kecerdasan dan kesehatan.
Menurut KH. Ahmad Dahlan, tujuan pendidikan adalah melahirkan individu yang utuh, cerdas (menguasai ilmu umum dan agama), berakhlak mulia, dan memiliki semangat pembaruan (tajdid) serta nasionalisme. Intinya, generasi harus menjadi pribadi yang mandiri, kuat, cerdas, berakhlak mulia, dan menguasai ilmu pengetahuan untuk kemajuan dirinya, masyarakat dan negaranya.
Namun, hari ini tujuan pendidikan sedikit bergeser, yaitu mendapatkan lapangan pekerjaan yang layak atau lebih dominan ke bisnis. Bukan menguasai ilmu yang diajarkan itu sendiri. Padahal, generasi hasil pendidikan hari ini menjadi harapan besar bagi kemajuan bangsa. Generasi yang unggul bisa meneruskan estafet kepemimpinan, pembaharuan, perbaikan, penemuan baru untuk kemaslahatan manusia.
Jika pendidikan berfokus kepada mendapatkan lapangan pekerjaan saja, maka sama saja kita fokus untuk mempersiapkan tenaga kerja siap pakai atau generasi buruh. Bukan melahirkan agen perubahan, pembaharuan, dan motor penggerak yang sangat diharapkan oleh masyarakat.
Wajar saja, banyak kemunduran pada generasi saat ini. Banyak yang terlibat narkoba, pergaulan bebas, geng motor, tawuran, minim akhlak dan sebagainya. Semua ini imbas dari ketidakfokusan terhadap tujuan sebenarnya dan ketidakselarasan antara tujuan dan kebijakan yang diambil.
Hasil pendidikan hari ini berbeda jauh dengan hasil didikan pada masa keemasan Islam. Pada masa kejayaan Islam, pendidikan benar-benar melahirkan generasi emas. Generasi awal Islam sangat berpengaruh. Para sahabat Rasulullah memiliki karakter kepemimpinan yang luar biasa. Salah satunya, Umat bin Khattab.
Generasi berikutnya pun banyak melahirkan ulama. Misalnya, Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Hambali. Generasi berikutnya, muncul banyak ilmuwan, seperti Al-Khawarizmi melalui konsep al-jabar-nya, Ibnu Sina dengan karya di bidang kedokterannya, dan masih banyak lagi. Sampai sekarang karya-karyanya tetap ada.
Buah tidak jauh jatuh dari pohonnya. Generasi emas hanya akan lahir dari pohon berkualitas baik. Pohon yang baik inilah seperti yang diwariskan oleh Rasulullah saw. Beliau adalah utusan untuk umat hari ini hingga akhir zaman. Tidak ada nabi yang diutus setelah Beliau. Rasulullah telah mencontohkan, sistem pemerintahan Islam-lah yang akan melahirkan generasi emas seperti dahulu. Oleh karena itu, ketika kita tidak mencontoh sistem Islam dan justru mencontoh sistem kapitalisme hari ini, lahirlah generasi yang hanya berorientasi pada bisnis dan keuntungan materi semata.


