
Oleh: Dini Azra
Linimasanews.id—Santri adalah harapan sebagai agen perubahan yang akan menjadikan Islam bangkit memimpin peradaban dunia. Sebab, di tengah gempuran pemikiran dan pemahaman sekuler-liberal yang telah menimbulkan kerusakan generasi muda saat ini, dunia pesantren adalah benteng terakhir untuk melindungi generasi dari rusaknya pemikiran Barat.
Karenanya, negara harus hadir dengan kesadaran ini, supaya pendidikan pesantren tetap terjaga kemurnian fikrahnya yakni pemikiran Islam tanpa dicampuri pemikiran asing yang bertentangan dengan ajaran Islam. Dukungan terhadap pesantren diperlukan bukan dalam bentuk moril dan materiil, tetapi juga mempercayakan urusan pendidikan sepenuhnya kepada pihak pesantren. Negara masih bisa mengawasi, tetapi bukan untuk mengintervensi, apalagi menyusupkan agenda tersembunyi.
Pesantren merupakan tempat untuk membina dan menempa generasi untuk menjadi generasi penerus yang memiliki pemahaman agama yang dalam dan mengakar. Generasi yang fakih fiddin bukan perkara aqidah, akhlak, fiqih ibadah semata, tetapi menjadikan agama sebagai sebuah ideologi, dengan fikrah dan thariqah yang benar agar ilmu agama tidak hanya dipahami melainkan juga diterapkan dalam kehidupan. Baik secara individu, bermasyarakat maupun bernegara.
Sayangnya, perayaan Hari Santri dari tahun ke tahun masih sekadar seremoni belaka. Sebagaimana diketahui, tanggal 22 Oktober selalu diperingati sebagai perayaan Hari Santri Nasional. Tahun 2025 ini, peringatan Hari Santri bertajuk “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”. Dalam momen ini Presiden Prabowo Subianto melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menekankan agar para santri tidak hanya dibekali dari sisi akhlak dan ilmu keagamaan saja, tetapi juga berbagai macam ilmu pengetahuan dan keterampilan. Tujuannya agar para santri memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, termasuk ilmu-ilmu ekonomi (Setneg.go.id., Rabu, 22/10/2025).
Selain itu, dalam video yang ditayangkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, pada Jumat (24/10/2025) ia juga menyinggung terkait kontribusi santri dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Merujuk pada momen Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dipelopori oleh KH. Hasyim Asy’ari, menurutnya, Resolusi Jihad ini masih relevan hingga hari ini untuk menjaga keutuhan bangsa dengan ilmu dan keimanan. Menurutnya, santri bukan hanya penjaga moral bangsa, tetapi juga pelopor kemajuan yang menguasai ilmu agama dan ilmu dunia, yang berakhlak dan mampu bersaing.
Hari Santri ini menjadi momentum untuk menghormati dan mengapresiasi dunia pendidikan di pesantren. Hanya saja, rangkaian pujian dan penghargaan bagi santri seolah hanya basa-basi. Resolusi Jihad yang dinukil dari sejarah perjuangan kemerdekaan seakan dibelokkan dari makna sebenarnya. Dahulu, para ulama beserta santrinya berjihad melawan penjajah, dengan semangat juang Islam. Sebab, mengusir penjajah yang ingin merebut tanah air adalah kewajiban bagi setiap muslim. Maka, seruan jihad fi sabilillah dikumandangkan hingga kemerdekaan berada dalam genggaman.
Setelah merdeka, para ulama masih berjuang supaya negeri yang baru merdeka ini diatur dengan syariat Islam. Namun, apa daya, kewajiban mulia itu harus kalah di bawah kesepakatan yang dipaksakan. Lalu, hari ini, Resolusi Jihad kembali diangkat, tetapi bukan melanjutkan perjuangan ulama untuk penerapan syariat Islam. Melainkan, dialihkan demi melanggengkan negara kesatuan, nasionalisme, dan kebangsaan dalam naungan sistem kufur demokrasi-kapitalis yang dasarnya adalah sekularisme, pemisahan agama dan kehidupan.
Alhasil, keberadaan pesantren sering kali dimanfaatkan untuk kepentingan politik, misalnya mendukung calon tertentu atau sekadar dijadikan alat pendongkrak mencari dukungan umat. Ada juga pesantren yang menerima dana dari pemerintah, tetapi pemerintah juga memberikan arahan agar kurikulum pendidikan agama sejalan dengan moderasi beragama, sekalipun terbukti telah mereduksi ajaran Islam itu sendiri.
Moderasi beragama merupakan agenda Barat agar umat Islam tidak lagi ‘radikal’ dalam beragama. Radikal artinya mengakar secara akidah yang nantinya akan melahirkan ketaatan terhadap syariat. Mereka menghendaki Islam menjadi moderat yang ramah terhadap perbedaan, yakni peradaban Barat. Pluralisme agama pun dijadikan acuan hingga muncul ungkapan semua agama itu setara, tidak boleh ada yang mengatakan agamanya yang paling benar.
Pendidikan Islam
Pada dasarnya seluruh generasi muslim, baik yang belajar di pesantren maupun di lembaga pendidikan lain, sama-sama berhak mendapatkan pelajaran agama Islam secara mendalam dan kaffah berbasis akidah Islam. Pendidikan Islam ini tetap tidak menafikan keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi modern sebab hal itu memang sangat dibutuhkan untuk menghadapi kemajuan zaman.
Generasi muslim memang harus dibentuk menjadi pribadi yang kuat iman, berakhlak, dan berpengetahuan tinggi supaya bisa bersaing dengan bangsa lain. Akan tetapi, bukan berarti seperti pendidikan hari ini yang kemajuan itu harus berkiblat pada peradaban Barat, hingga menyesuaikan pemikiran dan cara beragama sesuai keinginan Barat.
Khatimah
Sejarah Islam telah membuktikan bahwa Islam pernah menjadi pusat peradaban dunia selama berabad-abad lamanya. Pada masa itu, banyak terlahir ilmuwan dan penemu dari generasi muslim, yang sampai hari ini masih dirasakan manfaatnya oleh dunia.
Karena itu, sejatinya kemunduran umat hari ini bukan karena Islam anti-kemajuan, tetapi karena ajaran Islam tidak diterapkan secara keseluruhan.
Jika negara benar-benar ingin menjadikan generasi muslim bangkit, secara spiritual dan intelektual di kancah internasional, jalan satu-satunya adalah menerapkan kembali sistem Islam secara kaffah. Sebab, selama umat masih dipimpin dengan sistem Barat, selamanya hanya akan menjadi pembebek yang dikendalikan, jauh dari makna kemerdekaan sejati, yakni terbebas dari penghambaan kepada selain Allah ‘Azza Wajalla.


