
Oleh: Rosna Fiqliah (Pemerhati Sospol, Deli Serdang)
Linimasanews.id—Ribuan orang diduga tewas di Kota El-Fasher, ibu kota Negara Bagian Darfur Utara, Sudan, setelah pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) berhasil merebut wilayah tersebut dari tentara nasional Sudan (SAF) dalam kecamuk perang saudara di sana. El-Fasher jatuh pada Minggu (26/10/2025) setelah dikepung selama 18 bulan oleh RSF, sebagaimana dilansir Al Jazeera (Kompas.com, 30/10/2025).
Kota El-Fasher, ibu kota Darfur Utara kini menjadi saksi baru dari nestapa panjang rakyat Sudan. Ribuan orang diduga tewas setelah pasukan RSF merebut kota itu dari tangan SAF. Setidaknya dalam tiga hari, sekitar 2.000 warga sipil dilaporkan tewas dibantai oleh pasukan RSF. Tentara Sudan menyebut sekitar 2.000 orang tewas hingga Rabu (29/10/2025), sementara Jaringan Dokter Sudan (Sudan Doctors Network) mengonfirmasi jumlah korban terus bertambah.
Setelah dikepung selama delapan belas bulan, El-Fasher akhirnya jatuh pada Minggu, 26 Oktober 2025. Tragedi ini menambah daftar panjang penderitaan rakyat Sudan dalam perang saudara yang telah berlangsung sejak 2023, di mana dua kekuatan bersenjata saling berebut kekuasaan di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim. Namun tragedi ini bukan sekadar pertempuran dua kubu bersenjata, melainkan potret kehancuran tatanan akibat hilangnya arah kepemimpinan.
Tragedi Darfur (El-Fasher) adalah cermin dunia yang telah kehilangan nurani karena menuhankan materi. Di balik pembantaian, tercium aroma geopolitik dan ekonomi yang busuk. Amerika Serikat (AS) dan sekutunya telah lama mengincar wilayah Sudan bukan karena kasihan pada rakyatnya, tetapi karena kekayaan mineral dan posisinya yang strategis di Afrika Timur, dekat Laut Merah. Maka, perang dipelihara, konflik disuburkan, dan milisi bersenjata dibiarkan membantai, asal kepentingan kapital tak terganggu.
Lebih dari itu, tragedi ini juga menunjukkan wajah kelam dari tatanan politik sekuler yang rapuh. Pertikaian antara RSF dan SAF bukanlah pertarungan ideologi, melainkan perebutan kekuasaan dan sumber daya. Keduanya lahir dari sistem lama yang menyingkirkan peran Islam dari politik dan pemerintahan. RSF, yang dahulu dibentuk sebagai milisi oleh pemerintah pusat untuk menumpas pemberontakan di Darfur, kini berbalik mengguncang negeri sendiri.
Konflik itu pun tidak berdiri sendiri karena di belakangnya tampak jejak intervensi negara-negara asing yang menjadikan Sudan sebagai ajang perebutan pengaruh dan kepentingan ekonomi. Ketika Islam disingkirkan dari kehidupan politik, kekuasaan pun kehilangan arah dan penderitaan umat menjadi tiada akhir. Semua ini menunjukkan bahaya ketika kekuasaan tidak lagi diikat oleh akidah Islam. Tanpa hukum Allah sebagai pedoman, kepemimpinan berubah menjadi rebutan, tentara menjadi alat faksi, dan rakyat menjadi korban.
Padahal, Islam telah memberi peringatan keras tentang kemuliaan darah seorang Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda, “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim tanpa hak.”
Maka, solusi bagi Sudan tidak cukup dengan gencatan senjata atau perundingan politik buatan Barat. Perdamaian sejati hanya akan terwujud bila umat kembali menegakkan sistem Islam yang sempurna, sistem yang pernah menyatukan umat dalam satu kepemimpinan, yaitu Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.
Dalam naungan Khilafah, kekuasaan bukan sesuatu yang diperebutkan, melainkan amanah yang dijalankan dengan takwa. Tentara bukan alat kepentingan, tetapi penjaga kehormatan umat. Konflik antarsaudara tidak diselesaikan dengan peluru, tetapi dengan hukum syariah yang menegakkan keadilan. Dalam sistem Islam, sumber daya alam, seperti emas, minyak, dan tanah subur dikelola untuk kemaslahatan seluruh rakyat, bukan dijadikan rebutan milisi atau korporasi asing. Inilah satu-satunya jalan untuk mengakhiri lingkaran darah dan nestapa umat. Di bawah panji tauhid, umat Islam di Sudan, Mesir, Chad, dan seluruh negeri Muslim bersatu sebagai satu tubuh, merasakan sakit, dan berjuang bersama.
Tragedi El-Fasher bukan sekadar duka kemanusiaan, melainkan peringatan keras bagi seluruh umat Islam. Selama hukum Allah disingkirkan dari kehidupan, darah kaum Muslim akan terus tumpah dan negeri-negeri Islam akan tetap menjadi ajang konflik dan intervensi asing. Hanya dengan kembali kepada Islam secara total, menjadikan syariat sebagai dasar kehidupan, dan menegakkan kepemimpinan yang satu di bawah kalimat Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah, Sudan dan seluruh dunia Islam akan kembali menemukan kedamaian, kehormatan, dan kemuliaannya.


