
Oleh. Eni Yulika
Linimasanews.id—Kebrutalan jalanan ibu kota kembali memakan korban. Kali ini menimpa seorang remaja yang berasal dari Suku Badui Dalam yang tengah mencari nafkah. Repan (17), pemuda asal Kampung Cikeusik, Desa Kanekes, Lebak, Banten harus menelan pil pahit saat menjadi korban pembegalan sadis di kawasan Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat pada Minggu (26/10/2025).
Repan yang sedang menjajakan madu dan aksesori khas Badui, tiba-tiba dirampas uang dan barang dagangannya oleh pembegal yang mengendarai sepeda motor. Repan memberikan perlawanan, tetapi dibalas dengan kekerasan yang lebih parah. Dua rekan pelaku datang dengan motor lain sambil membawa senjata tajam jenis celurit. Repan menderita luka sabetan celurit, uang Rp3 juta, 10 botol madu dagangan, serta satu unit telepon genggamnya pun raib (suara.com, 04/11).
Beginilah nasib anak bangsa yang sulit mencari pekerjaan di negeri sendiri, apalagi bagi anak suku pedalaman. Ketika mereka berusaha mencari penghasilan, harus berhadapan dengan para pembegal jalanan. Bukan untung yang didapatkan, tetapi nasib malang dan rasa sakit.
Keamanan adalah sesuatu hal yang sangat penting untuk setiap orang, apalagi demi mencari penghasilan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Maka, keamanan harta dan jiwa harus diberikan. Lalu, mengapa hari ini hal itu sulit didapatkan? Rasa takut, was-was selalu ada. Pembegalan di mana-mana.
Semua ini tidak lepas dari rapuhnya jaminan yang diberikan oleh negara. Rapuhnya jaminan ini disebabkan oleh banyak hal. Di antaranya, sulitnya mencari lapangan pekerjaan, kemiskinan yang merajalela, tingginya biaya hidup, minimnya kesejahteraan terlebih di pedalaman.
Semua hal tersebut karena keliru dalam membangun sistem kehidupan. Padahal, Islam hadir dan membawa sistem yang memberikan kehidupan bagi manusia. Manusia hanya butuh tunduk kepadanya, apalagi bagi kaum muslim. Tetapi hari ini, banyak yang belum memahami kesempurnaan sistem Islam sebagai solusi permasalahan hidup.
Sesungguhnya Islam hadir bukan sebagai agama saja, tetapi sistem kehidupan untuk seluruh umat manusia. Bukan hanya untuk orang Islam, tetapi untuk non-muslim juga butuh dengan sistem Islam. Dalam sistem Islam, penduduk tidak dibeda-bedakan apakah orang kota, desa atau suku pedalaman. Islam menganggap mereka sebagai warga negara yang harus diberikan hak-haknya. Termasuk, hak penjagaan atas harta dan nyawa. Setiap warga negara juga berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, diberikan lapangan pekerjaan, kesejahteraan, tak terkecuali yang hidup di pedalaman. Tidak ada yang boleh terzalimi dan hidup dalam keterbelakangan.
Di zaman Nabi, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, pernah ada seorang Arab Badui yang berdiri, kemudian kencing di lantai masjid. Orang-orang pun memarahinnya. Nabi kemudian melarang para sahabat untuk memarahinya dan membiarkan ia menyelesaikan hajatnya. Kemudian, membiarkannya pergi. Nabi kemudian meminta seember air dan menyiramkannya untuk mensucikan masjid tersebut.
Dari kisah tersebut, Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tahu bahwa suku tersebut pemahaman Islamnya masih rendah. Beliau bersikap bijaksana. Beliau mengajari para sahabat untuk memperlakukan Arab Badui tersebut dengan baik. Kisah ini membuktikan bahwa dalam Islam, warga suku pedalaman pun diperlakukan dengan baik dan akan diberikan hak-haknya. Semua dilakukan dengan penuh kasih sayang. Sistem Islam adalah sistem yang dibutuhkan oleh semua orang hari ini.


