
Oleh: Dedek Nurjannah
Linimasanews.id—Terowongan demi terowongan digali di bawah kompleks suci. Zionis Israel mengklaim proyek arkeologi, padahal itulah strategi penghancuran diam-diam terhadap rumah Allah di bumi Syam. Zionis Israel terus melakukan proyek penggalian terowongan di sekitar Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua Yerusalem. Dalihnya untuk pekerjaan arkeologi, tetapi sumber di Kegubernuran Yerusalem membantahnya.
Penasihat Kegubernuran Yerusalem Marouf Al-Rifai mengatakan kenyataannya proyek tersebut bertujuan untuk menegaskan “Yerusalem adalah kota Yahudi.” Al-Rifai menyebut proyek tersebut adalah rencana politik sistematis untuk meyahudisasikan Kota Tua dan mengubah identitas historis serta geografisnya (detik.com, 22/10/2025).
Sejak pendudukan tahun 1967, Zionis Israel tak pernah berhenti menggali bumi Al-Quds. Lebih dari seratus terowongan kini menjalar di bawah kawasan Masjid Al-Aqsha, masjid yang menjadi kiblat pertama umat Islam dan tempat Isra’ Mi’raj Rasulullah ﷺ.
Mereka menamainya “proyek pelestarian sejarah.” Tetapi sejatinya, itu adalah proyek penghancuran sejarah Islam. Di bawah tanah yang diberkahi itu, mereka mengubah jalur air bersejarah menjadi museum, sinagoge, dan lorong klaim palsu. Dan perlahan, mereka sedang menggoyahkan fondasi masjid yang dimuliakan Allah.
Menggali untuk Meruntuhkan
Jangan tertipu oleh kata “arkeologi.” Apa yang dilakukan Zionis Israel adalah perang bawah tanah terhadap Islam. Dengan menggali di bawah Masjid Al-Aqsha, mereka membuka jalan bagi keruntuhan alami bangunan suci itu. Bila suatu hari masjid itu runtuh, mereka akan berkata, “Itu karena usia.” Padahal, itu karena kejahatan yang direncanakan dengan sadar.
Inilah wajah baru penjajahan modern: bukan dengan tank dan peluru, tapi dengan cangkul dan narasi sejarah palsu. Mereka ingin menghapus Al-Aqsha dari peta Islam, menggantinya dengan klaim “Kuil Sulaiman” — proyek impian Zionisme sejak awal berdirinya.
Zionisme: Musuh Abadi Risalah Islam
Zionisme bukan sekadar politik kolonial; ia adalah ideologi yang menentang Islam dan wahyu Allah. Dari Gaza hingga Al-Quds, mereka membunuh, mengusir, dan menghancurkan dengan dalih keamanan. Padahal tujuan sejatinya adalah menghapus jejak Islam dari Tanah Syam. Maka jangan berharap “solusi dua negara” akan mengakhiri kezaliman. Itu hanya fatamorgana politik untuk menenangkan dunia, sementara proyek penghancuran terus berjalan di bawah tanah dan di atas penderitaan umat.
Al-Aqsha, Amanah Umat Sepanjang Zaman
Rasulullah ﷺ telah mengabarkan keutamaan bumi Syam, dan menyebut Masjid Al-Aqsha sebagai masjid yang diberkahi. Di masa Umar bin Khattab, ia dibebaskan dari penjajahan Romawi. Di masa Shalahuddin Al-Ayyubi, ia dibersihkan dari pasukan Salib. Kini, masjid itu kembali memanggil umat ini bukan dengan suara perang, tetapi dengan jeritan tanah yang digali dari bawahnya.
Apakah kita akan membiarkan Al-Aqsha runtuh, sementara lidah kita sibuk berdebat tanpa arah? Umat Islam harus bangkit bukan sekadar dengan doa, tapi dengan kesadaran politik Islam yang menolak dominasi penjajahan dan mengembalikan kepemimpinan Islam yang melindungi tanah suci.
Al-Aqsha bukan sekadar batu dan tembok. Ia adalah saksi janji Allah bahwa kebenaran akan menang atas kebatilan. Umat Islam akan bangkit ketika kembali kepada Islam secara kaffah.


