
Suara Pembaca
Hamas mengecam atas tindakan Kazakhtan yang telah bergabung dalam Perjanjian Abraham (Abraham Accords). Hal ini dinilai sebagai langkah yang tidak bisa diterima dan merupakan tindakan yang sangat memalukan. Dikarenakan langkah ini berarti Kazakhtan membenarkan perbuatan Zionis Israel atas Gaza, Palestina, yang telah menewaskan lebih dari 68.800 warga Palestina sejak Badai Taufan Al Aqsa 7 Oktober 2023 (8/11/2025).
Presiden AS Donald Trump juga telah mengumumkan secara resmi terkait bergabungnya Kazakhtan dalam Perjanjian Abraham (Abraham Accords). Di mana perjanjian ini dibentuk oleh AS pada tahun 2020 yang bertujuan untuk memulihkan hubungan antara Israel–Arab. Adapun negara-negara yang sudah bergabung di dalamnya yaitu di antaranya Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko, kemudian disusul oleh Kazakhtan.
Jika dianalisis secara mendalam terkait bergabungnya Kazakhtan dalam Perjanjian Abraham (Abraham Accords) yakni untuk ikut menormalisasi hubungan dengan Zionis Israel, sejatinya ini merupakan bagian rencana AS untuk melanggengkan penjajahan Zionis Israel atas Gaza di Palestina.
Begitu banyak upaya yang dilakukan oleh AS untuk bisa terus mempertahankan hegemoninya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu caranya yaitu dengan cara menguasai negeri-negeri kaum muslim agar tetap berada di bawah kendalinya. Alhasil, banyak penguasa dari negeri muslim yang justru menjadi pengkhianat atas saudara seakidah mereka. Mereka hanya bisa mengecam, memboikot, ataupun mengirimkan bantuan logistik tanpa melakukan sesuatu yang bisa mengusir Israel dari bumi Palestina. Ditambah dengan adanya ikatan nasionalisme yang membuat umat Islam hari ini terpecah belah sehingga lemah dan mudah untuk dihancurkan.
Sementara solusi dua negara (two-state solution) yang selalu digaungkan serta digadang-gadang menjadi solusi pamungkas, nyatanya hanya sekadar ilusi semata. Begitu juga dengan adanya gencatan senjata yang sering dilakukan, namun lagi-lagi pihak Zionis Israel selalu melanggarnya dan membuat rakyat Palestina tetap terjajah hingga saat ini.
Untuk itu, sudah seharusnya seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia sadar dan mau bersatu padu untuk membebaskan rakyat Palestina. Kaum muslim harus melakukan aksi nyata dan bukan sekadar retorika belaka, apalagi menormalisasi hubungan dengan penjajah. Maka, hanya ada satu solusi yang hakiki untuk membebaskan rakyat Palestina dari penjajahan Israel, yaitu dengan jihad dan Khilafah.
Sesungguhnya derita rakyat Palestina adalah derita seluruh umat Islam di dunia. Umat Islam diibaratkan satu tubuh. Bila ada salah satu bagian tubuh yang terluka maka bagian tubuh yang lain ikut merasakan sebagaimana Ibnu Taimiyyah berkata, “Persaudaraan karena Allah itu seperti tangan dan mata. Jika mata menangis maka tangan akan mengusap air matanya, dan jika tangan yang sakit maka mata akan menangis mengeluarkan air mata karenanya.”
Dwi Lis
(Komunitas Setajam Pena)


