
Suara Pembaca
Kasus yang mencuat di Surabaya baru-baru ini kembali mengguncang perhatian publik. Ancaman narkoba terhadap generasi muda ternyata jauh lebih dekat dan nyata dari yang kita bayangkan. Dari hasil tes urine yang dilakukan BNNP Jawa Timur terhadap 50 siswa SMP dan SMA, ditemukan bahwa 15 pelajar positif sebagai pengguna aktif narkotika. Lebih menyedihkan lagi, pemeriksaan ini dilakukan di sekitar Jalan Kunti, kawasan yang sudah lama dikenal sebagai “Kampung Narkoba,” tempat transaksi dan pesta sabu berlangsung tanpa malu-malu.
Peristiwa ini bukan sekadar masalah sosial atau kenakalan remaja biasa, tetapi merupakan tanda melemahnya iman dan kontrol diri di kalangan anak-anak kita. Remaja yang tidak dibekali pondasi agama dan tidak memahami makna kebahagiaan sejati akan mudah terjerumus dalam pergaulan bebas dan mencari pelarian yang berbahaya. Mereka mengejar kesenangan singkat yang justru mengantarkan pada kebinasaan dunia dan akhirat.
Remaja tanpa bimbingan akhlak sangat rentan mengikuti arus. Rasulullah saw. menyampaikan bahwa ada segumpal daging dalam tubuh yang menentukan kebaikan dan keburukan manusia yaitu hati. Ketika hati tidak dijaga dengan iman, kegelapan akan menyelimutinya. Akibatnya, maksiat terasa ringan dan dosa terlihat biasa.
Fenomena kampung narkoba adalah bukti bahwa kemungkaran yang tidak dicegah akan melahirkan kerusakan yang lebih besar. Allah memerintahkan kita untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Jika lingkungan penuh maksiat dibiarkan tumbuh, maka anak-anak, bahkan yang masih polos, akan ikut merasakan dampaknya.
Tanggung jawab menjaga generasi bukan hanya berada di pundak aparat negara, tetapi merupakan tugas kolektif seluruh umat. Rasulullah saw. menegaskan bahwa setiap kita adalah pemimpin yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Orang tua adalah pemimpin dalam keluarganya, guru bertanggung jawab pada murid-muridnya, dan pemimpin negara wajib menjaga rakyatnya. Itu berarti harus ada kerja sama: dakwah dan teladan dalam keluarga, pendidikan dan pengawasan di sekolah, serta tindakan tegas dari pemerintah.
Islam mengajarkan kita untuk mencegah kemungkaran dengan tiga cara: dengan tangan, dengan lisan, atau minimal dengan hati. Narkoba adalah bentuk kemungkaran besar yang merusak akal manusia, menghancurkan masa depan remaja, dan membuka pintu kepada berbagai kejahatan lainnya. Membiarkan kampung narkoba tetap hidup sama saja dengan membiarkan generasi hancur oleh tangan sendiri.
Peristiwa ini harus menjadi cermin bagi kita semua bahwa generasi muda adalah amanah. Menguatkan iman mereka, menghadirkan lingkungan yang bersih dari maksiat, membimbing mereka dengan pendidikan agama yang benar, dan menutup celah kemaksiatan adalah bagian dari ibadah kita kepada Allah. Jika kita menginginkan umat yang kuat 10–20 tahun ke depan, maka hari ini kita harus menyelamatkan remaja dari narkoba dan segala bentuk kerusakan moral. Semoga Allah membimbing langkah kita, menjaga generasi kita, dan menumbuhkan mereka sebagai anak-anak yang bertakwa.
Luthfia Rifaah, S.T., M.Pd. – Guru


