
Oleh: Ifah Komalasari, S.Pd. (Pengajar Mapel Tsaqafah Islamiyah di Hagia Sophia ILS)
Linimasanews.id—Dalam beberapa pekan terakhir, linimasa kita lagi-lagi dipenuhi kabar pilu. Longsor di Cilacap dan Banjarnegara yang menelan korban jiwa, hingga warga yang belum terevakuasi berhari-hari (regional.kompas.com, 28/11/2025). Banjir juga melanda Kepulauan Seribu (katadata.co.id, 4/12/2025), Aceh (beritasatu.com, 27/11/2025), Sulawesi Tengah (sulsel.suara.com, 3/12/2025), sampai Sumatrra Barat (bbc.com, 27/11/2025).
Saat sebagian masyarakat masih menata hidup pascabencana sebelumnya, gelombang ujian baru kembali datang. Hati kita ikut remuk ketika membaca kabar bahwa proses evakuasi menemui kendala berat, yaitu cuaca buruk, medan sulit, dan jumlah tim yang terbatas (kompas.com, 27/11/2025).
Sebagai pendidik generasi, saya merasa terpukul. Bukan hanya karena kehilangan nyawa saudara-saudara kita, tetapi juga karena membayangkan apa yang sedang ditonton, dipelajari, dan disimpulkan oleh anak-anak kita dari rentetan tragedi ini. Mereka tumbuh di negeri yang indah tapi rapuh, kaya tapi tidak aman secara ekologis. Jika situasi seperti ini terus berulang, apa yang akan mereka warisi kelak?
Alam yang Marah atau Sistem yang Lalai?
Sering sekali bencana alam kita maknai hanya sebagai musibah dari langit. Padahal, banyak kejadian hari ini sebenarnya lahir dari ulah tangan manusia. Lebih tepatnya dari kelalaian tata kelola ruang hidup kita.
Hutan-hutan digunduli, lereng-lereng diubah menjadi pemukiman, garis pantai ditimbun demi industri, dan aliran sungai dipersempit oleh bangunan. Ketika hujan deras turun, tanah kehilangan kemampuan menahan air. Ketika angin kencang berembus, pepohonan yang harusnya menjadi penyangga sudah tak lagi ada. Maka, yang terjadi bukan lagi bencana alam semata, tetapi bencana yang diperparah oleh ulah tangan manusia.
Di sinilah luka kita makin dalam. Penanganannya pun lambat. BNPB dan BPBD yang sebenarnya bekerja keras tetap tak mampu bergerak cepat karena kekurangan personel, keterbatasan alat, hingga kebijakan mitigasi yang tidak pernah benar-benar matang. Banyak warga menunggu bantuan berhari-hari, ada jenazah yang baru ditemukan seminggu lebih, sementara keluarga korban menunggu dalam kecemasan yang tak terbayangkan.
Ini menunjukkan bahwa mitigasi bencana di negeri kita masih sangat lemah. Baik pada level individu, masyarakat, maupun negara. Padahal, sebagai negara rawan bencana, seharusnya kita punya sistem yang kokoh, bukan sekadar reaktif apalagi insidental.
Sampai kapan kita begini? Inilah pertanyaan yang terus menggema dalam hati. Berapa banyak lagi nyawa yang harus hilang sampai kita mengakui bahwa ada yang salah dalam sistem tata kelola negeri ini?
Sebagai pendidik, saya merasa terpanggil bukan hanya untuk mengajar di kelas, tetapi juga merawat kesadaran generasi agar mereka tumbuh dengan pola pikir yang benar tentang lingkungan dan sistem kehidupan. Anak-anak kita tidak hanya butuh materi pelajaran, tetapi juga butuh contoh bagaimana negara seharusnya hadir melindungi rakyatnya secara serius bukan hanya saat bencana sudah terjadi.
Mereka harus melihat bahwa kehidupan manusia itu berharga, sehingga segala kebijakan harus disusun dengan prinsip menjaga nyawa, bukan menjaga keuntungan. Namun sayangnya, realitas saat ini menunjukkan sebaliknya. Kebijakan tata ruang sering kali tunduk pada kepentingan ekonomi jangka pendek. Industri ekstraktif dibiarkan merajalela, izin pembangunan diberikan di zona rawan, dan mitigasi bencana tidak pernah jadi prioritas. Tidak heran jika setiap tahun kita dihadapkan pada berita yang sama, luka yang sama, dan air mata yang sama.
Bagaimana Islam memandang bencana?
Dalam Islam, bencana memiliki dua dimensi. Pertama, dimensi ruhiyyah: bahwa bencana adalah tanda kekuasaan Allah, ujian bagi manusia, sekaligus peringatan agar kita kembali pada ketaatan dan memperbaiki diri. Kita diajarkan untuk mengambil pelajaran, bukan sekadar berduka.
Kedua, dimensi siyasiyyah: bahwa tata kelola ruang, lingkungan, dan mitigasi bencana adalah urusan kebijakan negara. Negara wajib memastikan keselamatan rakyat, melindungi alam, dan menata ruang hidup dengan benar agar bencana tidak mudah terjadi. Merusak alam adalah dosa, dan negara tidak boleh membiarkannya.
Dalam sistem Islam, upaya mitigasi bencana dilakukan secara serius dan menyeluruh, tidak hanya pasca bencana tetapi jauh sebelumnya. Mulai dari pemetaan risiko, penataan ruang yang tegas, larangan praktik industri yang merusak, pembangunan infrastruktur penyelamat, hingga edukasi publik secara masif.
Negara juga wajib memberikan bantuan terbaik saat bencana terjadi, seperti logistik, tempat tinggal aman, layanan kesehatan, pendampingan psikologis, serta dukungan jangka panjang sampai para penyintas benar-benar bangkit.
Semua itu bukan tindakan kemurahan hati negara, melainkan kewajiban syar’i. Generasi kita butuh sistem yang lebih kuat. Kita harus jujur, anak-anak kita ke depan akan hidup dalam lingkungan yang makin tidak pasti. Iklim berubah, cuaca ekstrem meningkat, dan tekanan ekologis makin parah. Mereka membutuhkan negara yang betul-betul siap melindungi mereka, bukan yang sekadar memberi bantuan seadanya ketika bencana sudah menelan korban.
Sebagai pendidik, saya ingin generasi ini tumbuh dengan pemahaman bahwa Islam menyediakan jawaban yang komprehensif. Islam bukan hanya mengajarkan doa ketika bencana terjadi, tetapi juga menghadirkan sistem yang mencegah bencana menjadi tragedi berkepanjangan. Sistem Islam kaffah menawarkan tata kelola yang berpihak penuh pada kemaslahatan manusia dan kelestarian alam.
Saatnya berpihak pada solusi ideologis. Kita tidak bisa terus menambal sistem yang sudah rapuh. Pengalaman demi pengalaman menunjukkan bahwa penanganan bencana dalam sistem hari ini selalu lamban, tidak menyeluruh, dan tidak berkelanjutan. Kita butuh solusi ideologis, yakni solusi yang berangkat dari paradigma yang benar tentang alam, manusia, dan negara.
Islam kaffah menghadirkan itu, yakni ruhiyyah yang menumbuhkan kesadaran, siyasiyyah yang menegakkan aturan dan kebijakan yang berpihak pada keselamatan rakyat. Inilah sistem yang akan memberi jaminan terbaik bagi masa depan generasi kita. Semoga bencana-bencana ini membuka mata kita bahwa saatnya berubah. Bukan hanya berduka, tapi berbenah. Bukan hanya mengirim doa, tapi menuntut sistem yang benar demi keselamatan saudara-saudara kita hari ini dan demi masa depan anak-anak kita esok.


