
Oleh: Ummu Hanik R.
Linimasanews.id—Gelombang transformasi digital saat ini telah membuat generasi muda harus berhadapan dengan tantangan yang kompleks dan multidimensi di setiap sendi kehidupan. Hal ini karena generasi muda memiliki akses informasi luas tanpa batas dan juga berpotensi kreatif yang luar biasa. Meski begitu, mereka diuji dalam hal iman, identitas, dan peran nyata dalam kehidupan.
Membentuk generasi yang tidak hanya tangguh secara intelektual dan sosial, tetapi juga kokoh dalam ketakwaan, memerlukan lebih dari sekadar nasihat individu. Dibutuhkan sinergi dari seluruh elemen umat dalam sebuah gerakan kolektif yang sistematis dan berkesinambungan agar mampu menghadapi tantangan gelombang transformasi digital.
Tantangan pertama yang dihadapi generasi di masa sekarang adalah derasnya arus informasi digital. Untuk menghadapinya, diperlukan kemampuan menyaring dan mengelola pengetahuan. Luasnya konten tanpa batas mampu menenggelamkan nilai-nilai fundamental jika tidak diimbangi dengan fondasi cara berpikir yang kuat.
Tantangan kedua adalah adanya tingkat screen time yang tinggi. Hal ini tidak hanya berisiko pada kesehatan fisik dan mental, tetapi juga berpotensi melalaikan mereka dari peran dan tanggung jawab nyata dalam keluarga, masyarakat, dan perjuangan hidup.
Tantangan ketiga adalah adanya jebakan algoritma dunia maya. Jebakan ini mampu menciptakan echo chamber (ruang gema) yang menyempitkan wawasan, memperkuat bias, dan secara halus mengarahkan pola pikir, gaya hidup, hingga preferensi politik tanpa disadari oleh generasi muda.
Di balik tantangan-tantangan tersebut, terdapat secercah harapan. Sikap berpikir kritis terhadap kezaliman penguasa yang tumbuh di kalangan muda adalah indikasi positif kesadaran sosial-politik. Namun, kesadaran ini masih rentan jika tidak terarah dan tidak berbasis pada landasan ideologis yang sahih.
Akar Persoalan dan Ancaman yang Dihadapi Generasi Muda
Secara logika pasar, generasi muda dianggap sebagai pasar potensial produk digital. Setiap klik, tontonan, subscribe dan like adalah komoditas yang diperjualbelikan. Hal ini telah menjadikan perhatian mereka sebagai lahan bisnis yang mendatangkan keuntungan.
Tentunya ini memberikan dampak luar biasa pada kehidupan generasi muda. Seluruh konten digital yang dikonsumsi menjadi “tabungan informasi” bawah sadar yang pada akhirnya membentuk paradigma, cara berpikir, dan arah pandang hidup mereka. Inilah yang kemudian disebut the manufacturing of consent (pembuatan persetujuan) secara halus.
Melalui ruang digital itu, ide-ide sekuler-liberal dari mulai kebebasan tanpa batas, relativisme moral, hingga individualisme ekstrem, berkeliaran dan mendominasi, bahkan mampu mempengaruhi setiap kebijakan hidup yang diambil. Pada titik ini, generasi muslim muda membutuhkan benteng yang kokoh, agar tidak terkontaminasi dengan pemikiran sekuler liberal.
Benteng pertama dan utama yang harus mereka miliki adalah cara pandang sahih yang bersumber dari Sang Khalik, yakni Islam. Cara pandang inilah yang menjadi penyaring untuk menimbang setiap informasi dan ide yang masuk.
Kaum muda tidak boleh hanya berhenti pada kerinduan akan perubahan. Mereka harus mengambil arah pandang hidup yang utuh berdasarkan ideologi yang sahih. Mengambil solusi parsial (sekular) untuk masalah fundamental, hanya akan melahirkan aktivis yang prematur, mudah lelah, dan pada akhirnya rentan tergiur oleh jabatan dan pencapaian duniawi semata.
Tugas penting lainnya adalah tidak menduplikasi model aktivisme liberal, yang meski mungkin dilakukan oleh individu muslim, pada hakikatnya hanya menjadi “bemper” bagi sistem kapitalisme global yang eksploitatif. Perjuangan haruslah transformative, bukan sekadar adaptif.
Sinergi Umat Menuju Pembinaan yang Komprehensif
Mewujudkan generasi bertakwa dan tangguh memerlukan pendekatan yang menyeluruh dan langkah yang tepat. Langkah pertama, dengan cara memandang pemuda sesuai dengan fitrah penciptaannya. Generasi muda harus dibina sebagai makhluk Allah yang unik, memiliki garîzah (naluri) yang perlu diarahkan, hajatul ‘udhwiyah (kebutuhan jasmani) yang harus dipenuhi secara proporsional, dan akal yang wajib diterangi dengan ilmu dan iman. Pembinaan harus menyentuh ketiga aspek ini secara seimbang.
Langkah kedua adalah menciptakan lingkungan kondusif. Individu shaleh lahir dari lingkungan yang kental dengan suasana keimanan. Ini adalah ekosistem yang menghidupkan nilai-nilai Islam, mengamalkan, dan merayakan dalam interaksi sosial sehari-hari, dari masjid, sekolah, hingga ruang publik. Diperlukan kolaborasi yang komprehensif dan sistemis dalam menjalankannya.
Langkah ketiga adalah dengan menyinergikan seluruh elemen umat. Semua pihak harus bekerja sama dan saling tergantung satu sama lainnya. Yakni, keluarga sebagai madrasah pertama, menanamkan akidah dan akhlak; masyarakat (lembaga pendidikan, ormas, komunitas) sebagai ruang pengkondisian dan pengembangan talenta; partai politik Islam ideologis yang berperan sebagai tulang punggung pembinaan politik-ideologis; dan negara yang seharusnya menerapkan seluruh aturan Islam untuk melindungi akidah, moral, dan masa depan generasi.
Peran strategis parpol Islam ideologis sangat dibutuhkan dalam menggerakkan umat. Dalam konteks ketiadaan negara yang menerapkan Islam secara kaffah, maka peran parpol ideologis Islam menjadi krusial. Ia harus menjadi muhasabah lil hukam (pengawas/pengoreksi penguasa) yang menyuarakan kebenaran dan keadilan; ruang kolektif yang menampung dan mengarahkan energi kritis serta idealisme kaum muda dalam kerangka perjuangan ideologis yang jelas; mencerdaskan umat secara terus-menerus dan meningkatkan taraf berpikir masyarakat dan generasi muda, dari sekadar reaktif-emotif menuju analitis-ideologis agar mereka tidak mudah terbelah oleh isu sektarian dan provokasi.
Generasi bertakwa dan tangguh tidak akan lahir secara instan. Ia adalah hasil dari ikhtiar kolektif yang disengaja, berkelanjutan, dan berdasarkan metode yang sahih. Berhadapan dengan gempuran pemikiran dan gaya hidup sekuler-liberal, maka hanya dengan sinergi semua elemen umat, dimulai dari keluarga yang kuat, didukung masyarakat yang peduli, di-backup oleh partai ideologis yang konsisten, dan pada puncaknya nanti oleh negara yang menerapkan Islam, maka mimpi melahirkan generasi “khaira ummah”, pemimpin peradaban masa depan, bukanlah khayalan. Ia adalah tujuan yang dapat diwujudkan dengan kesungguhan, keikhlasan, dan kerja sama kita semua.


