
Oleh: Ita Ummu Maiaa
Linimasanews.id—Sistem ekonomi kapitalisme diterapkan hampir di seluruh negeri. Sistem ini menjadikan segala sesuatu dinilai dengan materi. Berbagai cara ditempuh untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya karena hal tersebut dianggap sebagai kebahagiaan dalam sistem ini. Manusia sebagai makhluk yang mulia hidup bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan materi saja. Ada ruang nonmateri yang mesti terpenuhi pula, seperti kasih sayang, pemikiran, kemanusiaan, dan sebagainya.
Islam memadukan pemenuhan kebutuhan materi dan nonmateri tanpa mengabaikan salah satunya. Islam menempatkan nilai dalam setiap aktivitas sehingga jelas nilai yang melandasi aktivitas yang dilakukan.
Jeratan Sistem Kapitalisme
Meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya, demikianlah slogan yang sering digaungkan. Kehidupan hedonis di era digital menggiring Gen Z ke arah kehidupan yang materialistis.Kemudahan yang ditawarkan untuk meraup materi sebesar-besarnya kerap hadir di ruang digital mereka.
Internet menyajikan berbagai hal yang diinginkan, baik positif maupun negatif. Gen Z yang terkungkung dalam sistem kapitalisme hidup dalam arus materialistis, hedonis, serta individualistis. Sering kali standar hidup mereka disesuaikan dengan tren di dunia maya sehingga menghalalkan berbagai cara untuk memenuhi gaya hidupnya.
Riset Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menemukan bahwa 58 persen Gen Z memanfaatkan pinjaman online (pinjol) untuk kebutuhan gaya hidup serta hiburan. Temuan tersebut disampaikan oleh Ketua Program Studi Magister dan Doktor Fakultas Ekonomi Unpar, Dr. Vera Intanie Dewi (Kompas.com, 28/11/2025).
Kecanggihan teknologi yang dibangun atas dasar sekuler-kapitalis mengarahkan manusia jauh dari rasa kemanusiaan. Pola algoritma hanya berlandaskan nilai manfaat dan materi semata, jauh dari nilai agama. Konten gaya hidup hedon, flexing, judol, dan pinjol berseliweran di media sosial.
Sementara itu, Gen Z saat ini masih menjadi konsumen sehingga, disadari atau tidak, mereka mesti mengikuti algoritma media sosial yang membentuknya. Dengan demikian, dibutuhkan pengaturan yang tepat dari hulu ke hilir agar kecanggihan teknologi menjadi alat yang memuliakan manusia. Teknologi seharusnya menjadikan manusia tetap berada dalam fitrahnya tanpa keluar dari nilai-nilai agama, sosial, serta kesehatan fisik dan mental.
Islam Solusi Hakiki
Kemajuan teknologi merupakan bukti berkembangnya pemikiran manusia. Akal yang dimiliki manusia mampu melahirkan berbagai penemuan yang memudahkan kehidupan. Islam sangat mengapresiasi akal dan penemuan-penemuan berupa kemajuan teknologi. Namun, Islam juga menjaga akal manusia agar kemajuan teknologi tetap menjadikan manusia berada dalam fitrahnya.
Fitrah manusia sebagai makhluk yang memiliki kebutuhan fisik dan naluri, yang keduanya membutuhkan pemenuhan. Mengabaikan salah satu dari keduanya akan menimbulkan konsekuensi yang dirasakan. Kebutuhan fisik berupa rasa lapar dan haus dipenuhi dengan makan dan minum, rasa kantuk dipenuhi dengan tidur, dan sebagainya. Kebutuhan naluri, seperti mempertahankan diri, akan melahirkan pembelaan diri, sementara rasa kasih sayang akan melahirkan sikap rela berkorban, dan sebagainya.
Setiap aktivitas yang dilakukan seseorang dengan landasan takwa, yaitu keinginan untuk mendapatkan rida Allah Swt., menjadikan cara pemenuhan kebutuhan fisik maupun naluri harus sesuai dengan aturan-aturan Allah Swt.
Teknologi digital adalah produk kemajuan berpikir manusia yang semestinya selaras dengan kemajuan peradaban manusia. Islam sebagai landasan yang melahirkan berbagai aturan memiliki konsep dan mekanisme yang jelas dalam menyelesaikan setiap permasalahan manusia.
Dari hulu, para pemegang kebijakan memberikan fasilitas agar warganya mampu menciptakan server sendiri, melakukan langkah-langkah strategis, serta menerapkan aturan yang jelas terkait konten yang boleh dikonsumsi publik, yakni konten yang bersifat edukatif. Di hilir, para kreator konten didorong untuk hanya membuat konten-konten yang berfaedah. Masyarakat pun menjadikan ruang digital bukan sekadar sarana hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi, informasi, dan edukasi.
Aturan-aturan Islam mengembalikan manusia pada fitrahnya tanpa mengekang kreativitasnya. Dengan akalnya, manusia senantiasa berkembang untuk menghadirkan kebaikan-kebaikan yang bermanfaat bagi kehidupan. Dengan ketakwaannya, manusia bisa membatasi setiap perilaku yang dapat menghadirkan berbagai kemudharatan. Tentu saja ini semua hanya akan berjalan di bawah naungan sistem kehidupan yang memang menjaga dan menjadi pelindung bagi umat yang tidak lain adalah sistem kehidupan Islam. Wallahualam.


