
Oleh: Ria Nurvika Ginting, S.H., M.H. (Dosen-FH)
Linimasanews.id—Pascabencana Sumatra masih menyisakan luka dikarenakan penanganan bencana masih setengah hati yang dilakukan oleh pemerintah. Beberapa wilayah masih terisolir sehingga sulit untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari. Penyakit dan kelaparan pun melanda korban bencana. Di tengah kesediahan ini, Presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa material lumpur pasca bencana di Sumatra, khususnya di Aceh dilirik swasta. Material lumpur tersebut diminati oleh swasta. Prabowo mempersilahkan jika pemerintah daerah ingin menjualnya dan hasil penjualan diserahkan kepada daerah (Kompas.com, 1/1/2026).
Prabowo menyampaikan kepada Gubenur dan Bupati untuk semangat dengan adanya ketertarikan swasta tersebut. Pernyataan ini disampaikan ketika menyetujui usulan normalisasi sungai pasca bencana yang dilakukan mulai dari muara melalui jalur laut. Dia bahkan meminta seluruh jajaran pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mengerahkan seluruh kemampuan dalam penanganan dampak bencana dan normalisasi sungai (Kompas.com, 1/1/2026)
Inilah wajah sistem kapitalisme-sekuler yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat saat ini. Seluruh lini dijadikan ladang bisnis. Ketika bencana melanda seharusnya negara dengan sigap dan cepat untuk memberikan bantuan pokok bagi yang terdampak. Negara seharusnya menuntaskan permasalahan pascabencana bukan sibuk dengan adanya peluang bisnis. Sifat kapitalisme yang mengutamakan materi menjadikan sesuatu yang menguntungkan adalah hal yang penting. Negara pun dapat berlepas tangan karena dengan adanya pemasukan dari swasta yang melirik lumpur pasca bencana dapat memberikan pemasukan buat daerah untuk berbenah sendiri pasca bencana.
Fakta ini menunjukkan bahwa dalam sistem ini negara hanya sebagai regulator (pembuat aturan) bukan sebagai pengurus (peri’ayah) umat. Sehingga ketika ada peluang bisnis dari swasta langsung disambut. Inilah solusi pragmatis yang ditawarkan negara saat ini sehingga swasta dapat mudah untuk mengeksploitasi SDA karena yang berkuasa adalah para kapital (pemilik modal). Hal ini tentu berbeda dengan sistem shahih yang akan mensejahterakan masyarakat baik dalam keadaan bencana maupun tidak yakni sistem Islam.
Sistem Islam Menangani Bencana
Sistem pemerintahan Islam menerapkan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh) dalam sebuah institusi Daulah Khilafah yang dipimpin seorang khalifah. Dalam kekhilafahan, ketika terjadi bencana maka negara akan tanggap dan sigap dalam menanggapi bencana tersebut. Khilafah akan menanggung seluruh kebutuhan korban hingga beraktivitas normal kembali. Khilafah akan menurunkan bantuan dana dari baitul mal tanpa adanya syarat dari bencana tersebut.
Mobilisasi aparat negara baik dari nakes, aparat keamanan, dan sebagainya yang dibutuhkan wilayah yang terdampak akan disegerakan. Hal ini pernah dilakukan oleh Khalifah Umar pada masanya. Beliau memerintahkan seluruh gubenur provinsi untuk menyalurkan logistik ke Madinah ketika terjadi paceklik. Khalifah juga akan membuka posko darurat dan melakukan evakuasi ke daerah yang aman bagi para korban.
Pada masa Utsmaniyah, ketika terjadi gempa di wilayah Anatolia maka evakuasi dan tempat pengungsian disiapkan oleh sipahi (militer lokal). Setelah itu, Khilafah akan melakukan pendataan korban dan PSU (Prasarana, Sarana, dan Utilitas) yang terdampak agar dilakukan penanganan pasca bencana. Penyediaan kebutuhan hidup menyeluruh hingga tidak terjadi kelaparan. Kebutuhan pokok korban bencana tetap dapat terpenuhi. Pada masa Umar bin Khattab, beliau mengimpor gandum dari Mesir untuk didistribusikan secara gratis untuk korban bencana.
Inilah sistem pemerintahan Islam yang menerapkan syariat Islam di seluruh lini kehidupan sehingga individu-individu dan pejabat yang lahir merupakan individu yang taat dan bertanggung jawab dikarenakan adanya rasa takut akan pertanggungjawaban yang akan diminta oleh sang Khaliq kelak. Para pejabat peri’ayah umat sesuai syariat bukan sebagai regulator bagi para kapital dan oligarki. Pemimpin masyarakat adalah pengurus dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya. Sudah saatnya kita campakkan sistem yang membuat kita menderita dan mengambil sistem Islam sebagai sistem yang akan mengatur hidup kita diseluruh lini kehidupan sehingga kesejahteraan akan kita rasakan dari langit maupun bumi.


