
Oleh: Eni Yulika
Linimasanews.id—Publik kembali terusik. Sebelumnya, siswa SD kelas 6 di Medan (12 tahun) membunuh ibunya sendiri. Kali ini, anak SD kelas 4 di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan bunuh diri (bundir) di dahan pohon cengkeh di sebelah rumahnya. Sungguh teriris hati yang mendengarnya.
Korban diduga nekat mengakhiri hidup akibat kecewa pada ibunya karena tidak dibelikan pulpen dan buku tulis untuk keperluan sekolah. korban sempat menulis surat disertai gambar seorang anak yang sedang menangis.
“Kertas tii Mama Reti (Surat untuk Mama Reti). Mama galo zee (Mama pelit sekali). Mama molo ja’o galo mata mae rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal, Mama jangan menangis). Mama jao galo mata nae woe rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee). Molo Mama (Selamat tinggal mama),” isi surat pilu korban (detik.com, 3/2/2026).
Beginilah nasib satu dari anak yang hidup di garis kemiskinan. Ini menjadi tamparan keras bagi negeri yang baru saja membayar iuran yang sangat besar dalam dewan perdamaian (board of piece). Belum lagi, negara harus mengeluarkan uang untuk MBG yang harus memangkas dana-dana kebutuhan yang lain, khususnya dana untuk pendidikan.
Ini membuktikan bahwa kita sudah salah dalam memandang permasalahan negeri ini. Alhasil, solusi yang diberikan tidak menyelesaikan kasus kemiskinan yang merajalela seperti hari ini.
Niat bunuh diri yang muncul dari kalangan anak-anak ini patut menjadi pertanyaan besar. apakah anak-anak pantas merasakan kesulitan yang ini? Seharusnya, masa keemesan anak menjadi masa yang penuh kasih sayang, perhatian, terpenuhi kebutuhan pendidikan dan perlindungan mental serta psikologisnya.
Sudah berapa banyak anak, selain korban di NTT yang memiliki niat yang sama untuk bunuh diri atau menghilangkan nyawa ibu atau ayahnya karena marah dengan mereka? Padahal, orang tua seharusnya menjadi rumah bahagia untuk setiap anak.
Kemiskinan yang merajalela ini bukanlah dikarenakan malas bekerja, bukan karena takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan. Akan tetapi, kemiskinan ini turun-temurun dikarenakan sistem yang diterapkan telah melahirkan kemiskinan sistemis yang sulit untuk dilepaskan.
Kemiskinan sistemis ini terjadi karena kesalahan dalam mengelola kekayaan negeri ini. Apa yang kurang dari negeri kita? Kekayaan alam, tambang, laut, hutan, peneliti, juga sumber daya manusia banyak. Jika benar dalam mengelolanya, akan lahir generasi berkualitas.
Namun, faktanya semua itu tidak mampu menyejahetrakan karena dikelola oleh swasta. Hampir semua dikuasai pihak lain: swasta, asing, dan aseng mengatasnamakan investasi. Padahal, kerusakan yang ditimbulkan menjadi beban masyarakat, seperti banjir bandang yang hingga hari ini sangat mengkhawatirkan karena terus terjadi silih berganti akibat alih fungsi hutan secara besar-besaran tanpa memperhatikan bahaya bagi makhluk hidup di sekitarnya.
Semua itu mengakibatkan beban hidup masyarakat makin tinggi. Lapangan pekerjaan sempit dan sulit menghidupi keluarga menjadi hal yang makin banyak ditemukan hingga berakibat fatal bagi anak-anak. Anak menanggung beban mental dan psikologis hingga kecewa berujung maut.
Karena itu, sudah saatnya memutus rantai kemiskinan dengan kembali kepada sistem yang sudah pasti benar, yakni Islam. Sistem Islam telah terbukti selama 13 abad melahirkan peradaban mulia dan agung, kasus kemiskinan sedikit dan bisa diselesaikan, tidak berlarut-larut. Anak pun bahagia karena mendapatkan orang tua yang bahagia dengan terpenuhinya kebutuhan hidup dan keimanan yang selalu disuburkan dalam sistem Islam.
Dalam sejarah keemasan Islam, di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tidak satu pun warga mau menerima harta zakat karena cukup. Negara sampai bisa membebaskan rakyat yang memiliki utang, membantu yang tidak mampu menikah, juga sampai membantu ke luar wilayah daulah khilafah ketika itu. Itu semua bukan hanya faktor kehebatan pemimpin, tetapi juga keadilan Islam yang diterapkan yang mampu memutuskan rantai kemiskinan.


