
Oleh: Ika kusuma
Linimasanews.id—Perkembangan konflik Gaza dan Zionis Israel sejak ditandatanganinya kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025 lalu telah membawa pada babak baru, yakni pembentukan “Dewan Perdamaian” yang digagas oleh Donald Trump. Donald Trump menilai PBB telah gagal menghadirkan perdamaian dalam konflik Gaza dan pembentukan Dewan Perdamaian dinilai mampu mengganti peran tersebut.
Dalam seremoni penandatanganan Dewan Perdamaian inilah tercetus proyek pembangunan New Gaza. New Gaza disebut sebagai sebuah visi rekontruksi bersekala besar dengan membangun 180 gedung tinggi di kawasan pesisir Gaza. Gedung ini nantinya akan menjadi bangunan multifungsi, sebagai hunian, hotel, ruang usaha, dan fasilitas komersial.
Ide pembangunan New Gaza lahir dari gagasan menantu Donald Trump sekaligus penasihat dekatnya, Jared Kusher, seorang penasihat real estate, yang memilih pembangunan ekonomi, alih-alih negosiasi kedaulatan dan batas wilayah dalam menanggapi isu perdamaian Timur Tengah.
Sementara itu, Smotrich, menteri Israel, secara terbuka justru menyerukan penghancuran Gaza dan pengusiran paksa rakyat Gaza (mediaindonesia.com, 23 Januari 2026).
Pertanyaannya sekarang, untuk siapa sebenarnya proyek New Gaza dan apa tujuan di balik dibentuknya Dewan Perdamaian oleh AS? Kita tahu AS dan Zionis Israel sangatlah berambisi untuk menguasai Gaza. Besar kemungkinan pula terbentuknya Dewan Perdamaian dan proyek New Gaza tak lebih hanya untuk menghapus jejak genosida yang mereka lakukan.
Dewan Perdamaian Gaza ditujukan untuk memperkuat posisi kendali internasional AS dengan merangkul negeri-negeri muslim. Semua ini jelas terbaca sebagai siasat AS untuk berkuasa penuh dan mengendalikan Gaza secara total.
Konflik berkepanjangan ini sejatinya adalah bentuk penjajahan dan perampasan wilayah Gaza Palestina oleh Zionis. Palestina adalah tanah milik umat Islam yang direbut oleh Israel. Sudah seharusnya kaum muslim mempertahankannya. Namun sayangnya, negeri-negeri muslim justru diam dan bahkan berkhianat dengan ikut bergabung ke dalam Dewan Perdamaian yang jelas lebih memihak pada kaum penjajah. Padahal Allah jelas melarang umat Islam tunduk kepada penjajah.
Allah memerintahkan kita memerangi kaum kafir yang jelas memusuhi umat Islam seperti dalam surat At-Taubah ayat 123, “Wahai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir di sekitarmu dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
Namun hari ini, jangankan memerangi, yang ada negeri-negeri muslim justru duduk bersama para penjajah. Umat Islam yang menjadi mayoritas nyatanya tak punya daya untuk melawan penjajah. Bukan karena umat tak bisa, namun tak ada yang bisa menyatukan kekuatan umat Islam hari ini. Kekuatan besar yang dimiliki umat Islam telah dipecah belah dengan sekat bangsa-bangsa.
Konflik Gaza dan konflik umat Islam di dunia hari ini butuh penyelesaian lebih dari sekadar bantuan individu berdasar nilai kemanusian. Urgensi adanya Khilafah sebagai pemersatu umat adalah hal nyata yang tak bisa dimungkiri. Kenyataannya, tak ada yang bisa menyatukan umat Islam di bawah satu konstitusi dan satu komando selain Khilafah. Umat Islam akan menjadi kekuatan besar ketika bersatu karena itulah musuh-musuh Islam tak ingin hal tersebut terwujud.
Ini terbukti dari kegigihan mereka memecah belah umat dengan segala cara hingga pada puncaknya khilafah terahir mereka hancurkan pada 1924. Sejak itulah perisai umat Islam telah hilang.
Sejarah membuktikan ketika Khilafah ada, tak ada satu pun yang berani mengusik kaum muslim. Khilafah menjadi pelindung tak hanya kaum muslim namun juga berbagai umat beragama yang hidup damai berdampingan. Namun, ketika perisai umat itu hancur, tak ada lagi kedamaian hakiki bagi umat. Tak ada lagi pemersatu umat, hingga umat harus tercabik-cabik kehidupannya oleh keserakahan para penjajah.
Jelas sudah, Dewan Perdamaian bukanlah solusi, sebab hal tersebut justru sebagai alat kaum penjajah untuk memegang kendali penuh dunia. Keberadaan AS, Israel dan anteknya juga telah menimbulkan banyak konflik di dunia saat ini. Maka tak ada pilihan lain selain menyatukan umat untuk bisa melawan mereka sebagai solusi mendasar. Selama umat masih terpecah belah dalam sekat bangsa-bangsa, maka mustahil persatuan itu bisa terwujud.
Hanya Khilafah yang mampu menyatukan kekuatan umat dalam satu konstitusi, dan menciptakan perdamaian hakiki sesuai syariat Allah Swt. Hal ini sudah dibuktikan oleh ketegasan Sultan Abdul Hamid II yang secara tegas menolak permintaan Hertzl agar memberikan Palestina untuk Yahudi. Sultan bersumpah bahwa mereka baru bisa merebut tanah Palestina ketika khilafah runtuh. Apa yang disampaikan Sultan Abdul Hamid II benar terbukti. Ketika khilafah runtuh, Zionis berhasil menguasai Palestina dan mengusir penduduknya. Maka tugas kita hari ini adalah ikut andil mengembalikan institusi pemersatu umat dalam naungan khilafah dengan menumbuhkan kesadaran umat melalui dakwah pemikiran.Wallahualam bisawab.


