
Oleh: Zahidah
Linimasanews.id—Dalam kitab “Mafahim Siyasiyah” karya Al-‘Alamah Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dijelaskan tentang politik. Politik adalah pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri. Politik dilaksanakan oleh negara dan umat, karena negaralah yang secara langsung melakukan pengaturan secara praktis, sedang umat mengawasi negara dalam pengaturan tersebut.
Memahami politik luar negeri adalah perkara yang penting untuk menjaga institusi negara dan umat, dan merupakan perkara mendasar agar mampu mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Politik luar negeri merupakan aktivitas yang harus ada untuk mengatur hubungan umat Islam dengan umat lainnya dengan benar.
Akan halnya Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian sebuah manuver politik global atas Palestina yang dijadikan sebagai solusi “damai” bagi konflik Gaza. Nama dan kemasan terdengar indah peach atau perdamaian tetapi jika itu adalah bentukan penjajah seperti AS dan Zionis pasti akan menguntungkan penjajah. Amerika Serikat (AS) memiliki rekam jejak panjang sebagai penjajah besar, melakukan invasi, kudeta, dan penghancuran negeri-negeri muslim.
Tujuan BoP diklaim untuk mengelola transisi Gaza pascakonflik yaitu menjaga stabilitas dan mencegah kekerasan berulang. Akan tetapi, strukydan kewenangan justru mengarah pada pengambilalihan kendali Gaza oleh pihak asing. Ironis memang, kaum penjajah tampil sebagai juru damai bagi umat Islam. Padahal Allah Swt. telah mengingatkan dalam Qur’an surat An Nisa’ ayat 141 yang artinya, “Allah sekali-kali tidak akan pernah memberikan jalan bagi kafir untuk menguasai kaum mukmin.”
Dengan firman Allah ini, seharusnya kaum muslim terutama penguasa negeri-negeri muslim memahami posisi AS dan Zionis dalam konstelasi politik dunia, bahwa AS adalah kampium utama pengemban ideologi kapitalisme sekuler dan Zionis adalah anak asuhan dari AS. Ideologi kapitalisme berasaskan materi/modal/keuntungan, dikolaborasikan dengan memisahkan agama dari pengaturan kehidupan. Ketika ideologi ini dijadikan sebagai solusi permasalahan dunia maka kerusakan yang dirasakan umat manusia, karena aturan kapitalis akan menguntungkan pemilik modal dan jauh dari kata adil.
Oleh karena itu, kaum muslim harus paham bahwa kekuatan negara besar seperti AS dan anak asuhnya Zionis bisa dilawan dengan kekuatan negara juga, dengan menyatukan negeri-negeri muslim dibawah naungan khilafah. Kesatuan umat dalam politik dan kepemimpinan sangat dibutuhkan untuk melawan penjajah.
Khilafah akan mengkomando melakukan jihad membebaskan tanah Palestina dan menjaga semua tanah kaum muslimin yang telah dicaplok penjajah. Sikap umat harus tegas terhadap narasi gencatan senjata dan perdamaian kosong yang dipromosikan AS-Zionis, bahkan tidak akan bergabung hanya demi propaganda semu “perdamaian” nyatanya perampasan tanah dan genosida penduduk Gaza.


