
Suara Pembaca
Ada yang berbeda di gelaran tahunan Bogor Street Fest Cap Gomeh (CGM) tahun ini. Pesta perayaan Imlek yang dilakukan di hari ke-15 ini dilaksanakan di Vihara Dhanagun, Jalan Suryakencana, Kota Bogor dengan memberikan santunan dan buka puasa bersama ratusan anak yatim (2/3/2026).
Tidak hanya dihadiri oleh Wali Kota Bogor Dedi A. Rachim, acara umat keagamaan ini juga disaksikan langsung oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, Ketua DPRD Kota Bogor Adityawarman Adil, unsur Forum Koordinasi Pemimpin Daerah (Forkopimda), para pemuka agama, dan tokoh masyarakat sekitar. Para tokoh yang diundang sepakat mengatakan bahwa acara ini bukan sekadar seremoni budaya, melainkan simbol kuatnya ikatan sosial antarumat beragama dan untuk membangun toleransi yang kuat. Mereka juga berharap nilai-nilai kebersamaan yang sudah lama mengakar di Kota Bogor ini tetap dipertahankan.
Istilah toleransi dan kebersamaan antarumat beragama kerap digaungkan oleh para tokoh penting. Baik tokoh agama maupun masyarakat dalam hal menjaga dan merawat kerukunan umat beragama yang ada di negeri ini, yaitu Islam, Kristen, Budha, Hindu, dan lainnya. Harapannya supaya toleransi yang terjalin antara umat agama yang berbeda itu berjalan selaras tanpa merasa ada agama yang paling benar dan saling menghormati dalam melaksanakan dan merayakan hari besar keagamaan masing-masing.
Namun, toleransi yang saat ini banyak digaungkan oleh pemuka agama Islam, bukanlah toleransi Islam, tetapi toleransi ala liberal yang lahir dari sejarah konflik agama di Barat. Saat itu, untuk menghentikan perang, Barat memisahkan agama dari kehidupan dan menilai semua agama sama secara kebenaran. Konsep itulah yang sekarang dipaksakan kepada kaum Muslim walaupun kontradiktif dengan akidah tauhid. Walhasil, umat Islam digiring untuk menerima pembauran simbol, ritual,ucapan, dan perayaan hari keagamaan lain atas nama kebersamaan.
Seperti yang dilakukan oleh Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia Nassarudin Umar. Sejak tahun 2024 hingga 2026 ia aktif menyampaikan ucapan Selamat Natal kepada umat Kristiani dan mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kerukunan, persaudaraan, dan toleransi umat beragama. Ia mengatakan kerukunan sejati adalah tentang saling menghargai dan memberi ruang beribadah. Meski demikian, Menag memastikan bahwa toleransi tidak semestinya mencampuradukan keyakinan. Batasan keyakinan diserahkan kepada pemahaman masing-masing umat.
Berangkat dari situ, maka banyak ditemukan setiap momen perayaan agama lain, kaum Muslim didorong untuk ikut merasakan suasana Natal dengan mengucapkan selamat Hari Natal. Bahkan, pegawai yang beragama Islam dipaksa untuk memakai atribut Natal. Tak jauh berbeda dengan perayaan Imlek di Kota Bogor, para pejabat setempat mendorong umat Islam untuk menghormati dan ikut berpartisipasi dalam perayaannya, dalam hal ini, anak-anak muslim diundang ke pelataran Vihara dengan dalih untuk menerima santunan.
Apa yang disampaikan oleh Menteri Agama tentang toleransi beragama sangatlah keliru karena Islam memiliki aturan yang jelas dalam menjaga kesucian iman, tidak ada jalan tengah dalam akidah. Sehingga, toleransi tidak boleh merusak akidah, dan menjaga kemurnian akidah merupakan kewajiban, bukan pilihan bagi muslim. Maka, umat Islam dituntut untuk cerdas dalam membedakan antara toleransi dan pencampuradukan akidah.
Kaum muslim harus paham bahwa toleransi dan kebersamaan yang dipropagandakan kepadanya selama ini adalah konsep toleransi liberal dari negeri kafir Barat dengan akidahnya adalah sekularisme, yakni pemahaman bahwa agama harus dijauhkan dari kehidupan, terutama dalam politik bernegara.
Sementara dalam Islam, toleransi memiliki konsep tersendiri yang berasal dari Al-Qur’an dan as-sunah. Allah Swt. menegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Kafirun ayat 6,
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ
“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa toleransi berdiri di atas kemurnian iman, bukan perpaduan keyakinan. Islam mengajarkan umatnya untuk hidup berdampingan dengan kaum mana pun tanpa meminggirkan batas akidah. Maka dari itu, kaum muslim harus cerdas sehingga bisa membedakan antara toleransi yang sesuai tuntutan syara dengan toleransi ala Barat.
Nurmilati


