
Oleh: Anita Guayemo
Linimasanews.id—Amerika Serikat tengah menunjukkan gejala keruntuhan dari dalam. Gelombang demonstrasi besar bertajuk “No Kings” yang melibatkan jutaan warga di Amerika Serikat pada akhir Maret 2026 menjadi sinyal kuat adanya retakan serius dalam tubuh negara adidaya tersebut. Aksi yang tersebar di berbagai negara bagian ini bukan sekadar ekspresi kekecewaan terhadap satu kebijakan, melainkan akumulasi ketidakpuasan terhadap arah politik, ekonomi, dan militer yang dijalankan pemerintah.
Di saat yang sama, kondisi ekonomi Amerika makin mengkhawatirkan. Utang nasional yang menembus angka fantastis, mencapai puluhan triliun dolar, menunjukkan rapuhnya fondasi sistem kapitalisme yang selama ini diagung-agungkan. Lonjakan utang yang dipicu oleh pembiayaan konflik global, termasuk keterlibatan dalam ketegangan geopolitik di Timur Tengah, semakin membebani rakyatnya sendiri. Bahkan, jika dihitung, setiap individu di Amerika kini secara tidak langsung menanggung beban utang dalam jumlah yang tidak masuk akal yakni 19,3 M (dalam rupiah).
Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari ambisi global Amerika yang terus dipaksakan melalui kekuatan militer dan aliansi politik. Dukungan terhadap agresi dan konflik di berbagai wilayah, termasuk keberpihakan pada kepentingan tertentu di Palestina, memperlihatkan bagaimana. politik luar negeri Amerika sering kali mengorbankan keadilan demi dominasi. Hal ini justru membuka mata masyarakat dunia, bahkan warga Amerika sendiri, bahwa hegemoni yang dibangun selama ini sarat dengan kepentingan dan ketimpangan.
Lebih jauh, realitas ini juga menyingkap peran sebagian penguasa di negeri-negeri Muslim yang justru bersekutu dengan kekuatan besar tersebut. Alih-alih melindungi kepentingan umat, kebijakan yang diambil sering kali justru memperkuat ketergantungan dan memperpanjang konflik. Umat Islam menjadi korban dari politik adu domba yang sistematis, sementara kekayaan dan potensi dunia Islam terus dieksploitasi.
Dalam konteks ini, menjadi penting untuk mendorong kesadaran politik umat. Bahwa kerusakan yang terjadi hari ini bukan semata kesalahan individu atau pemimpin tertentu, melainkan buah dari sistem global yang bertumpu pada kapitalisme dan sekularisme. Sistem ini telah melahirkan ketimpangan, konflik berkepanjangan, serta krisis moral dan kemanusiaan di berbagai belahan dunia.
Oleh karena itu, upaya edukasi dan penyadaran harus terus digencarkan. Umat perlu memahami bahwa Islam tidak hanya mengatur aspek ibadah, tetapi juga memiliki sistem politik dan pemerintahan yang komprehensif. Sebuah sistem yang berlandaskan keadilan, keseimbangan, dan tanggung jawab, bukan sekadar kepentingan ekonomi, eksploitasi dan kekuasaan.
Di tengah krisis global yang makin nyata, gagasan untuk menghadirkan kembali kepemimpinan Islam menjadi makin relevan untuk didiskusikan, bukan sebagai romantisme sejarah, melainkan sebagai tawaran solusi atas kegagalan sistem yang ada saat ini. Dunia membutuhkan tatanan baru yang mampu menghadirkan keadilan hakiki, bukan sekadar stabilitas semu. Sistem itu harus hadir sebagai alternatif nyata atas kegagalan sistem global saat ini.
Retaknya hegemoni Amerika seharusnya menjadi momentum refleksi bagi dunia, khususnya umat Islam. Bahwa perubahan besar tidak hanya mungkin terjadi, tetapi juga menjadi kebutuhan mendesak demi masa depan yang lebih bermartabat. Ketika pusat kekuasaan dunia mulai goyah, pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan akan terjadi, tetapi siapa yang siap menggantikan dengan sistem yang lebih adil.


