
Oleh: Wening Satriyati
Ipteng—Sebagian isi kandungan Al-Qur'an kebanyakan memuat tentang sejarah umat terdahulu. Kisah yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah kisah mengenai orang-orang yang mendapatkan kejayaan akibat taat kepada Allah Swt., serta ada juga yang mengalami kebinasaan akibat ingkar terhadap Allah Swt. Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sebaiknya kita mengambil pelajaran atau ibrah yang baik-baik dari sejarah masa lalu ini.
Kisah Nabi Ibrahim tertulis di dalam Al-Qur'an sebagai utusan Allah Swt. untuk menyebarkan tauhid dan mengajak manusia untuk menyembah Allah semata. Nabi Ibrahim dikisahkan sebagai seorang pemuda yang menghancurkan berhala.
Selain Nabi Ibrahim, dikisahkan pula nabi Yusuf a.s. Seorang pemuda yang digoda oleh wanita. Nabi Yusuf dengan darah muda dan hasrat mudanya yang menggelora, telah Allah tutup pintu-pintu godaan itu karena ketaatannya kepada Allah Swt.
Dalam kisah yang lain diceritakan kisah Yusya bin Nun. Seorang pemuda yang membersamai Nabi Musa yang di masa depannya menjadi nabi sepeninggal Nabi Musa dan Nabi Harun. Seperti kita ketahui, selain 25 Nabi yang kita kenal, Allah juga mengutus banyak nabi yang tidak tercatat namanya, seperti Yusya bin Nun yang memimpin bani Israil berjihad memasuki Palestina 40 tahun tersesat.
Selain para nabi yang dikisahkan masa mudanya di dalam Al-Qur'an, dapat pula kita temui fakta sejarah lain. Yakni, sejarah para pemuda sahabat nabi Muhammad saw. Mereka yang ditempa secara langsung oleh Nabi Muhammad saw. berperan besar dan produktif dalam meriwayatkan hadits. Ada sekitar lebih dari 60% hadist yang sampai kepada kita disampaikan oleh sahabat nabi yang berusia muda. Di antara nama-nama sahabat Nabi Muhammad saw. tersebut adalah Abu Hurairah, Ummul Mukminin Aisyah r.a, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Abu Sa'id bin Khudri, Jabir bin Abdillah.
Tidak sampai di situ saja, sejarah mencatat kegemilangan anak-anak muda Islam. Masih banyak data dan fakta yang bisa kita temukan sebagai teladan. Kelebihan anak-anak muda adalah sebagai generasi yang paling banyak menyambut panggilan Allah dan Rasul-Nya. Adapun dari kalangan orang tua, di masa masyarakat Quraisy atau masa generasi awal umat muslim, kebanyakan dari mereka tetap mempertahankan agama kemusyrikannya dan tidak masuk Islam, kecuali hanya sedikit.
Dalam sejarah generasi awal kepemimpinan Nabi Muhammad saw., tidaklah peradaban dipikul kecuali oleh generasi muda. Sepuluh sahabat Nabi Muhammad saw. yang dijamin masuk surga, merupakan orang-orang awal. Mereka adalah Abu Bakar, Ustman bin Affan, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zubair, Talhah,Abu Ubaidah, Sa'id bin Al Ash.
Berdasarkan fakta-fakta sejarah yang telah diuraikan di atas, maka pertanyaan besar diajukan kepada para ayah di era saat ini. Gadget yang melalaikan, kesenangan yang melenakan, menghabiskan waktu dalam kesia-siaan, bahkan untuk kemaksiatan adalah sederet dosa besar yang takkan mampu dijawab oleh para ayah sebagai pertanggungjawaban kepada Allah Swt. kelak. Ini adalah renungan besar bagi para generasi muda. Untuk apakah usia dihabiskan?
Usia muda adalah usia khusus yang akan ditanyakan oleh Allah Swt. Usia muda adalah usia di antara kelemahan. Usia muda adalah kekuatan. Usia muda lekat dengan kebangkitan sebuah generasi. Perlu kita pahami bahwa Islam saat ini sedang berebut, bertarung dengan kebatilan. Kebatilan yang menyasar anak-anak muda, butuh peran Islam untuk melawannya.
Jangan biarkan generasi muda kita, generasi Islam diambil direbut oleh kebatilan dikarenakan diamnya kita. Jika yang batil saja siap berlelah-lelah, maka kita pun harus siap berlelah-lelah. Mari kita keluarkan harta kita untuk membangun generasi muda Islam yang lebih kuat. Karena, kebatilan pun rela menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk menghancurkan generasi muda kita.
Jangan mengeluh dengan lelah demi generasi kita. Mereka para dedengkot kebatilan yang berusaha menghancurkan generasi Islam pun merasa lelah, sakit, dan penat. Akan tetapi, bersyukurlah karena kita masih punya harapan di sisi Allah Swt., sedang mereka yang menghancurkan generasi Islam tidak memiliki hal itu. Kita harus berani dan merebut kembali generasi kita dari tangan orang-orang yang memperjuangkan kebatilan dan merusak. Semua demi kebesaran Islam dan tegaknya kembali kehidupan Islam yang rahmatan lil 'alamiin.


