
Suara Pembaca
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) kembali mengabarkan perkembangan terkini di Gaza, Palestina. Pemerintah saat ini telah mengungsikan 90% dari 2,1 juta penduduk. Perlu disadari bahwa perang antara umat Islam Palestina dan Yahudi yang begitu panjang dan telah menelan ratusan ribu jiwa, bukanlah peperangan biasa. Sejatinya, peperangan ini merupakan perang ideologi, penjajahan yang terstruktur, sistematis, dan masif yang dilakukan oleh Zionis Yahudi atas umat Islam di Palestina.
Hal ini dapat terlihat jelas bagaimana Zionis Yahudi didukung oleh negara adidaya, Amerika Serikat. Zionis Yahudi adalah anak emas yang dipelihara oleh negara pemimpin ideologi kapitalisme ini. Zionis Yahudi juga sengaja ditanam di Timur Tengah untuk senantiasa menjadi pemicu gejolak di Timur Tengah.
Semenjak 7 Oktober 2023, serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 40.000 warga Palestina, dan sebagian besarnya adalah perempuan dan anak-anak. Sementara, obat-obatan dan bahan makanan sulit mereka dapatkan.
Sistem negara bangsa telah membuat seluruh pemimpin negeri muslim membiarkan persoalan peperangan Palestina ini berlarut-larut. Bahkan, secara tidak langsung mereka telah mendukung penyerangan Zionis Yahudi atas Palestina. Mesir telah membangun tembok besar di Rafah, yaitu tembok pembatas yang tidak bisa dilewati oleh orang-orang Palestina yang mengungsi. Mereka tidak mengerahkan tentaranya dan rudal-rudal untuk membantu Palestina melawan Zionis.
Sampai kapan Palestina harus melawan penjajahan ini sendiri? Sampai kapan umat Islam tertahan untuk dapat membantu membebaskan saudaranya dari penyerangan biadab Israel? Selama negeri-negeri muslim masih tersandera oleh politik kapitalisme demokrasi, maka mustahil Palestina akan mendapatkan pembelaan nyata.
Palestina membutuhkan persatuan umat Islam di bawah kepemimpinan seorang pemimpin muslim yang berani mengumandangkan seruan jihad. Pemimpin yang hanya takut kepada Allah swt dan tidak takut terhadap ancaman Amerika dan juga Eropa. Hanya saja, karakter pemimpin seperti ini akan terwujud dalam kekhilafahan Islam.
Miftahul Jannah
(Aktivis Muslimah, Komunitas Kalam Santun)


