
Oleh: Luthfia Rifaah (Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Remaja)
Linimasanews.id—Setiap tanggal 5 Oktober dunia memperingati Hari Guru, sebuah momen untuk menghargai peran penting para pendidik dalam membentuk generasi masa depan. Peringatan tahun ini mengangkat tema “Valuing teacher voices: towards a new social contract for education” atau “menghargai suara guru: menuju kontrak sosial baru untuk pendidikan.” Tema ini menekankan pentingnya suara para guru dalam proses pendidikan dalam upaya pembinaan dan pengembangan potensi terbaik dari setiap siswa, yang sering kali terabaikan dalam kebijakan dan praktik pendidikan.
Peringatan Hari Guru Sedunia sudah dilakukan sejak tahun 1994, bertepatan dengan penandatanganan Rekomendasi UNESCO/ILO 1966 tentang Status Guru. Rekomendasi tersebut menetapkan hak serta tanggung jawab guru dan standar internasional untuk persiapan awal serta pendidikan lanjutan mereka sebagai pengajar. Konferensi yang diadakan di Paris ini melibatkan 76 perwakilan negara dan 35 organisasi internasional, yang membahas pentingnya pengakuan dan perlindungan bagi profesi guru. Tanggal konferensi tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Guru Sedunia oleh UNESCO, menjadi momen untuk menghormati kontribusi guru di seluruh dunia.
Meski tema tahun ini menggarisbawahi pentingnya suara guru, realitas di lapangan sering kali menunjukkan sebaliknya. Di Indonesia, banyak guru menghadapi berbagai tantangan yang menghalangi mereka untuk berfungsi secara optimal. Gaji yang tidak memadai, kurikulum yang membingungkan, dan tekanan hidup yang tinggi membuat banyak guru merasa tidak dihargai. Mereka kerap dipandang sebagai faktor produksi belaka, bukan sebagai individu yang berperan penting dalam pembentukan karakter dan pengetahuan anak didik.
Selain itu, pengaruh sekularisme dalam pendidikan juga mempengaruhi jati diri guru. Dalam beberapa kasus, kita menyaksikan tindakan buruk yang dilakukan oleh oknum guru, seperti kekerasan fisik dan seksual terhadap siswa. Guru harus pemutus kultur kekerasan di sekolah, bukan menjadi pelaku. Tindakan semacam ini tidak hanya merusak kepercayaan siswa terhadap pendidikan, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang tidak aman dan merugikan perkembangan mental dan emosional anak. Ini adalah fenomena yang sangat mengkhawatirkan dan menunjukkan perlunya revitalisasi dalam sistem pendidikan kita.
Bagaimana Pendidikan dalam Islam?
Islam memiliki pandangan yang sangat tinggi terhadap peran guru. Dalam sistem pendidikan Islam, guru diharapkan memiliki kualifikasi yang tinggi, tidak hanya dalam hal pengetahuan, tetapi juga dalam akhlak dan spiritualitas. Tugas seorang guru dalam perspektif Islam bukan hanya sekadar mengajar, tetapi juga membentuk syaksiyah Islamiyah dalam diri siswa. Oleh karena itu, guru diharapkan menjadi teladan dalam perilaku dan akhlak.
Dalam Islam, penghormatan kepada guru tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk perlunya memberikan gaji yang layak. Hal ini penting agar para guru dapat fokus pada tugas mereka tanpa terbebani oleh masalah ekonomi. Dalam konteks ini, Islam menekankan bahwa calon guru harus memenuhi kriteria tertentu, karena tugas mereka sangat berat, yaitu mendidik dan membentuk karakter generasi penerus.
Para guru seharusnya dipandang sebagai pembimbing dan penuntun yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk mendidik siswa secara holistik. Ayat Al-Qur’an yang yang menjelaskan tentang Pendidikan, “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)
Hal ini menunjukkan betapa mulianya posisi seorang guru dalam Islam. Selain itu, Sunnah Rasulullah saw. mengajarkan pentingnya keteladanan dalam mendidik. Rasulullah sebagai guru utama tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menunjukkan akhlak yang baik dan bijaksana.
Berdasarkan perspektif pendidikan Islam, revitalisasi guru menjadi keharusan untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki akhlak yang baik dan berkarakter. Penghargaan terhadap guru harus diwujudkan melalui kebijakan yang menjamin kesejahteraan mereka, seperti gaji yang layak dan fasilitas yang memadai.
Selain itu, pemerintah perlu menyediakan program pelatihan dan pengembangan profesional untuk meningkatkan kompetensi guru. Dengan langkah-langkah ini, guru akan merasa dihargai dan termotivasi dalam melaksanakan tugas mereka dengan penuh dedikasi untuk membentuk kepribadian siswa dengan nilai-nilai yang islami.
Dengan menciptakan lingkungan yang mendukung dan menghargai guru, negara tidak hanya berinvestasi dalam pendidikan, tetapi juga membangun fondasi yang kuat kepribadian Islam untuk masa depan yang cemerlang. Generasi yang dididik oleh guru-guru yang dihargai akan lebih siap menghadapi tantangan zaman dan berkontribusi positif bagi bangsa. Mari bersama-sama mendorong langkah-langkah yang mendukung guru agar mereka dapat menjalankan peran pentingnya dalam pendidikan yang Islami.


