
Oleh: Ummu Alila Arkan
Linimasanews.id—Generasi muda seharusnya menjadi generasi harapan masa depan sebuah bangsa. Namun, kini mereka seolah-olah terjebak dalam lingkaran setan sistem kapitalisme yang menghancurkan mentalitas dan karakter. Sistem ini pun membuat mereka kehilangan identitas dan tujuan hidupnya.
Kondisi Remaja Saat ini
BKKBN melaporkan bahwa ada 15,5 juta remaja Indonesia, atau 34,9% dari total remaja, mengalami masalah kesehatan mental yang serius, termasuk depresi, kecemasan, dan stres. Wakil Menteri Kependudukan, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menyatakan bahwa generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang semakin serius. Di antaranya isu kesehatan mental, yang tentu berdampak pada kualitas hidup dan masa depan mereka. Menurutnya, hal ini menjadi keprihatinan bersama, mengingat penduduk Indonesia merupakan modal dasar pembangunan negara. Sementara kesehatan mental yang baik sangat penting untuk mencapai tujuan pembangunan tersebut (tempo.co, 15/2/2023).
Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para remaja. Medsos menawarkan berbagai manfaat seperti konektivitas, akses informasi, dan ekspresi kreatif. Akan tetapi, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat membawa risiko signifikan. Seperti, paparan terhadap standar kecantikan yang tidak realistis, cyberbullying, dan kecanduan digital yang dapat memengaruhi kesehatan mental remaja.
Menurut Hastuti Wulanningrum, Ketua Tim Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, risiko tersebut disebabkan oleh eksposur berlebihan terhadap standar sosial yang tidak realistis. Hal ini dapat menyebabkan remaja menjadi ketergantungan dengan media sosial dan terpengaruh dengan konten-konten yang mereka lihat. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran dan memahami penyebab-penyebab yang memengaruhi kesehatan mental remaja dalam konteks media sosial (Kompas.com, 13/2/2025).
Akar Masalah yang Terjadi
Banyak remaja yang menderita penyakit mental menunjukkan bahwa negara belum berhasil dalam mempersiapkan generasi muda. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, maka cita-cita memiliki generasi emas 2045 yang cerdas dan berdaya saing akan sulit terwujud. Negara harus segera mengambil tindakan untuk mengatasi masalah ini, karena kualitas generasi muda akan menentukan kemajuan bangsa di masa depan.
Negara ini menerapkan sistem kapitalisme dan sekulerisme, yang memiliki dampak signifikan dalam mewarnai kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek, termasuk pendidikan. Sistem pendidikan sekuler yang diterapkan negara telah memisahkan agama dari proses belajar mengajar. Inilah yang membentuk remaja, sehingga berperilaku liberal dan gagal memahami jati dirinya.
Pendidikan sekuler adalah suatu sistem pendidikan yang tidak sama sekali memprioritaskan nilai-nilai agama dan spiritual. Melainkan lebih fokus pada pengetahuan dan keterampilan yang bersifat materialistis. Hal ini dapat menyebabkan remaja kehilangan identitas dan nilai-nilai yang seharusnya menjadi dasar bagi kehidupan mereka.
Negara ini gagal memahami penyelesaian yang shahih atas segala persoalan kehidupan. Dampaknya membuat remaja rentan terhadap masalah mental. Mereka seperti berjalan di tengah badai tanpa kompas. Tidak tahu harus ke mana atau bagaimana menghadapi tantangan.
Kurangnya pemahaman tentang nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang benar membuat remaja tidak memiliki pedoman yang jelas. Mereka seperti mencari jalan keluar dari labirin tanpa peta. Akibatnya, remaja menjadi lebih rentan terhadap stres, kecemasan, dan depresi. Mereka seperti berada di tepi jurang, siap jatuh kapan saja. Oleh karena itu, sangat penting bagi remaja untuk memahami penyelesaian yang shahih atas segala persoalan kehidupannya. Dengan begitu, mereka dapat menghadapi tantangan kehidupan dengan lebih percaya diri dan seimbang.
Islam Solusi Komprehensif
Islam memiliki visi yang jelas tentang kepemimpinan, yaitu melahirkan generasi yang cemerlang dan berkualitas. Allah Swt. berfirman, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (TQS Ali imran: 110)
Ini berarti, pemimpin Islam tidak hanya fokus pada kekuasaan dan kepentingan pribadi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk membentuk generasi yang akan datang. Mereka harus menerapkan sistem kehidupan yang sesuai dengan syariat Islam, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial, hingga politik. Tujuannya adalah untuk menciptakan generasi yang memiliki akhlak yang baik, berpengetahuan, dan berdaya saing. Kepemimpinan dalam Islam bukan hanya tentang memegang kekuasaan, tapi salah satu tentang membentuk generasi terbaik.
Islam mengharuskan negara untuk membangun sistem pendidikan yang kuat dan berbasis aqidah Islam. Ini bukan hanya tentang mengajarkan agama, tetapi juga tentang membentuk generasi yang memiliki mental kuat. Termasuk berakhlak mulia, dan siap membangun peradaban Islam yang gemilang.
Negara juga harus mempersiapkan orang tua dan masyarakat untuk menjadi partner dalam proses pendidikan ini. Mereka harus dilengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mendukung proses pembentukan generasi yang kuat dan beriman.
Dengan demikian, negara, orang tua, dan masyarakat harus bekerja sama untuk menciptakan generasi yang tidak hanya pintar dan berpengetahuan, tapi juga lebih dari itu. Yakni memiliki akhlak yang mulia, bermental kuat, dan siap membangun masa depan yang cerah dan gemilang. Ini adalah tanggung jawab bersama yang harus diemban dengan serius dan penuh tanggung jawab.
Negara juga akan mengambil langkah serius untuk melindungi remaja dari pengaruh pemikiran yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Pemikiran yang salah dan menyesatkan ini dapat menyebabkan remaja kehilangan arah dan mengalami kesulitan dalam menghadapi tantangan kehidupannya. Negara juga akan berusaha untuk menjauhkan remaja dari pengaruh negatif yang dapat mempengaruhi perkembangan mereka.
Kebijakan ini akan difokuskan pada upaya pencegahan dan pendidikan yang berkarakter islami, Memperbanyak kajian-kajian Islam, serta memberantas sosial media yang hanya memberikan dampak negatif bagi para remaja. Langkah ini dilakukan semata-mata untuk menyelamatkan generasi agar tidak kehilangan arah dan menjadikan generasi Rabbani generasi yang takut akan Rabb-nya. Semua hal itu tidak akan terwujud apabila negara ini masih memakai sistem kapitalisme sekuler. Hanya sistem Islam kaffah yang dapat mewujudkan itu semua. Wallahualam.


