
Oleh: Ari Sofiyanti
Linimasanews.id—Momen ujian masuk perguruan tinggi negeri (PTN) lumrah dianggap sebagai pintu penentu masa depan. Mirisnya, momen penting ini tiap tahun diwarnai kecurangan, tak terkecuali tahun ini.
Ketua Umum Penyelenggara SNPMB 2025, Eduart Wolok menyatakan temuan 14 kasus kecurangan dalam ujian Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2025 di tanggal 23 dan 24 April (Kompas.com, 25/4/2025).
Meskipun panitia seleksi selalu memperbarui sistem dan meningkatkan pengamanan, serta mengumumkan penalti bagi pelaku kecurangan, tetapi ternyata tidak cukup untuk menghentikan perbuatan tercela ini. Bahkan, modus-modusnya tiap tahun makin canggih. Dahulu di masa ujian nasional, kecurangan dikoordinasi oleh pihak sekolah dengan memberi kunci jawaban kepada siswa. Kini tidak hanya menggunakan cara-cara konvensional, tetapi juga teknologi seperti hardware, software, handphone hingga recording desktop. Ada kamera yang dipasang di behel gigi, ada yang di kuku, ikat pinggang, bahkan di kancing.
Panitia UTBK SNBT 2025 merasa resah. Mereka telah meningkatkan pengawasan dengan menggunakan metal detector, namun ternyata ada yang menggunakan teknologi yang tak terdeteksi metal detector (Detik.com, 3/5/2025).
Modus kecurangan lain yang ditemukan adalah adanya kerja sama dengan pihak lembaga bimbel, seperti di Yogyakarta. Ditemukan 50 orang peserta yang melakukan kecurangan dan 10 orang joki. Saat menyelidiki berbagai perilaku curang UTBK SNBT tahun ini kita semakin dibuat tercengang dengan temuan bahwa mayoritas peserta yang curang adalah peserta yang memilih Fakultas Kedokteran. Memang, fakultas ini adalah fakultas favorit setiap ujian masuk PTN.
Kecurangan menjadi problem yang belum berhasil dilenyapkan, padahal kurikulum sekolah mengajarkan kejujuran. Di buku-buku teks sekolah pun telah disajikan materi tentang kejujuran. Anak-anak didik telah khatam membaca materi itu dan mampu mengerjakan soal-soal tentang kejujuran dengan nilai yang baik. Namun, mengapa semua itu seolah tidak berpengaruh dan tidak banyak mengubah keadaan?
Para siswa telah hidup dalam sistem yang memerangkap mereka dalam arti kesuksesan secara materi duniawi. Mereka terbiasa memahami bahwa kekayaan dan prestige sebagai hal yang terpandang. Ketika anak-anak sekolah, nilai akhir dianggap lebih penting daripada proses. Sementara, nilai akhir itu terkadang hanyalah sebuah angka. Hal ini hanya akan menghasilkan generasi yang suka sistem kebut semalam. Mereka belajar secara instan tanpa rasa cinta terhadap ilmu.
Ditambah lagi, orang tua kerap berharap anak lulus dengan nilai sempurna, lalu masuk kampus ternama, dan mendapat pekerjaan yang memuaskan. Demikian pula tuntutan kehidupan sosial yang memandang keberhasilan hanya sekadar materi. Seseorang dinilai sukses ketika tampak kekayaan materi dan jabatan tingginya.
Dorongan berbuat curang juga tidak lepas dari faktor impitan ekonomi. Kesulitan hidup dalam sistem hari ini telah memaksa anak-anak didik untuk berkompetisi dan berambisi secara ugal-ugalan demi nasib yang lebih baik. Para peserta didik ini takut mengalami kegagalan, sehingga mereka menghalalkan segala cara.
Inilah sistem cacat bernama sekuler kapitalisme yang menjerat kehidupan hari ini. Ngerinya, generasi yang terbentuk dengan cara-cara curang ini nantinya adalah generasi yang mengisi peradaban. Mereka yang ‘berhasil’ curang bisa berprofesi sebagai dokter, hakim, guru, polisi, tentara, dan sebagainya. Bahkan, bisa jadi mereka berada di posisi pejabat negara atau kepala negara.
Ketidakjujuran yang dianggap wajar selama masa pendidikan sekolah ataupun perguruan tinggi, bisa menjadi budaya yang berlanjut hingga mereka menjalankan kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Tentu kita khawatir akan kezaliman dan ketidakadilan yang akan timbul nanti.
Budaya curang seharusnya urgen ditangani dengan membuang sistem cacat sekuler kapitalisme ini, kemudian menerapkan sistem sempurna (Islam). Islam adalah satu-satunya jalan agar nilai kejujuran benar-benar dihidupkan dalam masyarakat. Islam dapat mewujudkan nilai kejujuran yang tidak dapat diwujudkan oleh sistem sekuler.
Lantas, apa istimewanya sistem Islam dibandingkan sistem sekuler dalam mewujudkan kejujuran? Pertama, landasan dalam perbuatan. Dalam Islam, perbuatan dilandasi oleh sebuah fondasi akidah Islam. Semua kaum muslim menjalankan kehidupan di atas dasar keimanan.
Untuk membentuk generasi yang jujur dan amanah, negara Islam mengadakan sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam. Nilai kejujuran diajarkan dengan alasan iman kepada Allah dan hanya untuk mengharap rida Allah. Maka, sekalipun sikap jujur terkadang lebih menyakitkan, seorang muslim tetap konsisten menjalankannya.
Sedangkan dalam sistem sekuler, landasan perbuatan adalah manfaat menurut manusia. Nilai kejujuran ditanamkan sebagai nilai universal dengan pertimbangan untung rugi. Kurikulum sekolah mengajarkan kejujuran dengan alasan membawa manfaat, misalnya agar dihormati, disukai orang lain, dipercaya orang lain atau atasan kerja, menjaga image baik terhadap opini publik atau agar terhindar dari sanksi sosial saja. Padahal, alasan-alasan tersebut bisa lenyap jika berhadapan pada realitas lain. Karena, terkadang beberapa kejujuran dan kebenaran malah dibenci orang lain.
Kedua, aturan kehidupannya. Berdasarkan akidah Islam, negara wajib menerapkan hukum-hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah. Sistem pendidikan Islam menerapkan kurikulum yang mencetak generasi mulia. Dengan standar aturan Allah dan halal haram sesuai syariat, maka segala sesuatu yang bertentangan dengan aturan Allah merupakan kemaksiatan yang harus ditinggalkan.
Allah juga memerintahkan agar sistem pendidikan diurusi dengan serius oleh negara. Instansi sekolah atau perguruan tinggi dibangun secara merata, di setiap wilayah negara dengan fasilitas yang sama-sama bagus. Bahkan, negara Islam wajib menyediakan pendidikan secara gratis yang dibiayai oleh Baitul Mal. Ini menyebabkan peserta didik bisa memilih sekolah di mana pun mereka mau, tanpa khawatir kualitas buruk dan biaya yang mahal.
Sedangkan dalam sistem sekuler, sumber hukum tertinggi adalah konstitusi buatan manusia. Hukum-hukum sekuler disusun sesuai kepentingan pihak-pihak yang berkuasa. Sistem pendidikannya pun sekuler, mencetak generasi yang pintar namun kosong akhlaknya. Sekolah-sekolah tidak merata dan ketimpangan fasilitas karena korupsi di mana-mana. Belum lagi biaya mahal tak terkira.
Ketiga, budaya masyarakat. Islam telah berhasil meningkatkan pemikiran dan kesadaran masyarakat menuju titik yang mulia. Standar hidup masyarakat adalah rida Allah. Mereka menjadi kaum yang peduli sehingga tercipta kebiasaan ta’awun (tolong-menolong) dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah dari keburukan) karena itu kewajiban dari Allah.
Sementara sistem sekuler kapitalisme memandang dunia di antara untung dan rugi. Kecurangan adalah hal yang wajar dan bisa dimaklumi selama diri sendiri tidak merasakan kerugian. Bahkan, kecurangan telah menjadi bisnis yang menguntungkan. Apalagi jika pelaku kecurangan adalah pihak elite tertentu, tentu mengusutnya jadi makin sulit.
Demikianlah, sistem Islam yang sempurna adalah satu-satunya yang dapat mewujudkan akhlak mulia. Kejujuran akan mewarnai perbuatan manusia yang hidup sesuai syariat, termasuk jujur dalam menjalani proses pendidikan.


