
Oleh: Dini Azra
Linimasanews.id—Penderitaan warga Palestina yang hingga hari ini masih mengalami genosida, mengundang simpati dunia. Suara dukungan untuk kemerdekaan Palestina terus bergema. Apalagi saat ini penduduk Gaza, Palestina sedang diblokade dan mengalami kondisi kelaparan yang parah.
Awal Juni lalu sebuah kapal Madleen yang diisi oleh 12 aktivis kemanusiaan berlayar menuju Gaza. Mereka bertujuan untuk mengirimkan bantuan makanan dan obat-obatan melalui jalur laut. Namun, para aktivis tersebut diculik di perairan internasional sebelum akhirnya dideportasi oleh pasukan Israel.
Setelah itu dunia kembali dikejutkan dengan aksi yang lebih besar lagi bertajuk Global March to Gaza (GMTA). GMTA adalah aksi jalan kaki internasional sejauh 50 kilometer menuju Gerbang Rafah, yang merupakan pintu masuk ke wilayah Gaza. Aksi ini diikuti oleh ribuan aktivis dan individu dari 80 negara. Aksi yang dimulai 15 Juni 2025 ini juga menuntut dibukanya blokade Gaza.
Namun, pemerintah Mesir menghambat mereka dengan mendeportasi lebih dari 30 aktivis di hotel dan Bandara Internasional Kairo. Alasannya, karena mereka tidak mengantongi izin yang diperlukan. Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan, peserta GMTA harus mengantongi izin terlebih dahulu. Menurutnya, pemerintah Mesir berhak melakukan tindakan untuk menjaga keamanan nasional. Termasuk meregulasi keluar masuk dan pergerakan individu di wilayahnya, khususnya daerah perbatasan yang sensitif (Kompas.tv.com, 19/6/2025).
Aksi solidaritas ini adalah murni lahir dari rasa empati atas penderitaan warga Gaza. Para aktivis ini ingin menunjukan bahwa mereka tidak hanya diam menyaksikan aksi genosida yang terjadi di Gaza, Palestina. Aksi ini sama sekali tidak ditunggangi kepentingan politik atau ideologi apa pun. Mereka menuntut agar blokade kembali dibuka, sehingga rakyat Gaza yang sedang kelaparan bisa mendapatkan bantuan. Mereka juga berusaha menyuarakan tuntutan untuk menghentikan perang dan penjajahan yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Maka seharusnya, negara-negara muslim di sekitar Palestina mendukung aksi global ini, bukan malah menghalangi.
Ironi, tapi itulah fakta yang terjadi hari ini. Di saat para aktivis dunia yang sebagian besar bukanlah muslim rela bertaruh nyawa demi membantu warga Gaza, pemerintah negeri muslim justru mempersulit mereka. Tampak jelas bahwa mayoritas masyarakat dunia saat ini pro Palestina. Namun, semua rezim yang berkuasa memilih bersikap netral atau berpura-pura mengecam tindakan brutal Israel, sembari diam-diam menjalin hubungan baik dengan Zionis dan tak berkutik di hadapan Amerika karena berbagai alasan.
Hubungan antarnegara dalam sistem kapitalis ini hanya berlandaskan manfaat semata. Mereka terikat dengan hubungan yang dianggap saling menguntungkan. Padahal, Amerika Serikat (AS) lebih dominan kekuasaannya di atas negara lain.
Selama ini AS telah menancapkan hegemoni kekuasaannya ke seluruh dunia. Sehingga semua pemimpin negara termasuk negara muslim tunduk pada setiap arahannya karena adanya ketergantungan di berbagai bidang terhadap negara adidaya tersebut. Oleh karenanya, para pemimpin muslim hanya bisa mengecam dan menawarkan solusi dua negara. Tidak mungkin menyerukan jihad dan mengirimkan pasukan melawan Israel.
Memang, dukungan moral dan material terus mengalir. Namun, itu hanya solusi sementara yang tidak menyentuh akar permasalahan sebenarnya. Buktinya, berbagai macam bantuan logistik, obat-obatan, tenaga medis hingga relawan datang ke Palestina, namun serangan Israel terus merajalela. Bahkan, bantuan makanan, air, obat-obatan diblokir tak bisa masuk ke wilayah Gaza.
Diplomasi dan perundingan di forum dunia pin terus dilakukan. Akan tetapi, tak ada hasil nyata yang membuat Israel jera. Aksi solidaritas setiap hari berlangsung di seluruh penjuru dunia, tetapi sampai hari ini Palestina tetap dibombardir senjata. Umat Islam tidak berdaya meskipun jiwa mereka meronta-meronta menyaksikan derita rakyat Palestina.
Hal ini dikarenakan fanatisme kebangsaan yang telah memecah-belah persatuan umat. Persaudaraan sesama muslim yang diibaratkan oleh Rasulullah bagaikan satu tubuh, sat ini tidak lagi dipegang teguh. Sebab, para pemimpin muslim memilih jadi pengecut, berusaha mencari aman daripada membela muslimin di negara lain yang terzalimi.
Orang-orang non-muslim melakukan aksinya karena dorongan rasa kemanusian. Meski begitu, mereka berani bertaruh nyawa, mengorbankan hartanya demi Palestina. Seharusnya, ini bisa menjadi pemantik ghirah kaum muslim, termasuk para pemimpinnya bahwa ikatan persaudaraan atas dasar akidah itu jauh lebih kuat dari itu.
Umat juga harus paham, walau akhirnya aksi GMTA berhasil menembus Gerbang Rafah, ini hanya membawa perasaan lega untuk sementara. Sebab, bantuan yang masuk tidak memadai dengan jumlah penduduk di sana. Hal itu bisa jadi menimbulkan chaos di saat warga berebut bahan makanan. Sementara itu, Israel bisa sewaktu-waktu melakukan serangan di lokasi pembagian bantuan.
Tetap saja, empati dan aksi heroik para aktivis ini patut diapresiasi. Karena rasa peduli itu tulus dari dalam hati mereka. Hanya saja, umat Islam tidak boleh hanya memfokuskan diri pada solusi parsial seperti ini. Melainkan harus bangkit kesadarannya demi mewujudkan solusi hakiki.
Umat harus diberikan pemahaman terkait akar masalah dari penjajahan di Palestina, dan di negeri-negeri muslim lainnya. Penyebab dari semua ini adalah hilangnya kepemimpinan Islam yang sebelumnya telah ada selama ratusan tahun sejak diutusnya Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam hingga runtuhnya Daulah Islam terakhir di Turki.
Hari ini umat Islam telah kehilangan rumahnya. Rumah permanen yang mampu menaungi mereka dalam satu kesatuan dan aturan. Rumah yang dibangun berlandaskan syariat Islam. Rumah yang menjadi pelindung dari berbagai serangan dan ancaman bahaya. Rumah yang kokoh yang membuat musuh-musuh Islam segan untuk mengusiknya.
Setelah rumah bernama Khilafah Islamiah itu runtuh, umat Islam terpecah belah dan kehilangan arah. Akhirnya, rela menerima uluran tangan Barat yang menawarkan ide nasionalisme kebangsaan. Ide ini seolah menjadi sistem pembaharuan modern yang merdeka dan berdaulat. Namun faktanya, umat Islam terus dikendalikan dan diperalat.
Doktrin nasionalisme, patriotisme telah berhasil menyusup ke dalam jiwa-jiwa kaum muslimin. Sehingga, peristiwa apa pun yang terjadi di dunia Islam, dalam mengambil tindakan harus mementingkan urusan negaranya terlebih dulu. Inilah yang menjadikan umat Islam sulit bersatu dan menghimpun kekuatan untuk berjihad melawan kezaliman Israel.
Satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk mengembalikan maruah umat Islam hanyalah dengan mengupayakan tegaknya Khilafah Islamiah. Khilafah bukan sekadar kebutuhan untuk menyelesaikan masalah. Namun, ini adalah kewajiban bagi seluruh umat Islam. Sebab, hanya dalam bingkai Khilafah, syariat Islam bisa diterapkan secara kafah. Salah satunya adalah perintah berjihad membebaskan wilayah Islam yang terjajah.
Solusi hakiki untuk membebaskan Palestina haruslah dengan berjihad fi sabilillah. Hanya seorang Khalifah yang mampu mengerahkan pasukan melawan penjajah. Dengan khilafah, tidak ada lagi rasa takut akan ancaman, tekanan dan ketergantungan pada negara lain. Sebab, dalam sistem Islam (khilafah) akan tertanam rasa ketergantungan itu hanyalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan selain-Nya.


