
Suara Pembaca
Aksi biadab Zionis Israel kembali terjadi pada Minggu (10/8). Kali ini targetnya adalah para jurnalis dengan alasan adanya dugaan salah seorang awak media, yaitu Anas Al-Syarif terafiliasi dengan Hamas (12/8/2025).
Pembantaian terhadap orang-orang media ini bukanlah hal yang baru. Durrajic mengungkapkan, ada 242 jurnalis Palestina meninggal sejak pecahnya peperangan. Tindakan tersebut menuai kecaman dari berbagai kalangan dunia. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melalui juru bicaranya mengutuk tindakan biadab Zionis Israel. Menurutnya, jurnalis dan pekerja media harus mendapatkan jaminan keamanan atas pekerjaannya (12/8/2025).
Peperangan yang terjadi di Palestina yang tak kunjung usai dan jurnalis menjadi target ini adalah upaya pemadaman media dunia tentang Gaza dari aksi biadab Zionis laknatullah. Bagaimana tidak? Jurnalis yang seharusnya mendapatkan perlindungan atas pekerjaan tanpa adanya intimidasi dan bahaya, ternyata tidak berlaku bagai Zionis. Mereka menjadi bagian dari masyarakat dan kelompok yang dianggap teroris sehingga sewaktu-waktu bisa menjadi sasaran empuk dari babi terlaknat.
Pembunuhan para jurnalis tak hanya menghilangkan nyawa seseorang, tetapi juga membunuh nyawa perjuangan rakyat Gaza. Pemberitaan terkait dengan penderitaan dan perjuangan rakyat Palestina mau dihilangkan dari media. Misi Zionis sudah jelas terlihat dari yang mereka lakukan, termasuk dengan pelanggaran-pelanggaran yang ada. Israel seolah-olah memiliki hak istimewa di dunia. Kebal hukum seolah menjadi hak prerogatif dari bangsa kera tersebut.
Aksi membabi buta yang dilakukan oleh Israel adalah bukti bahwa upaya pemadaman api perjuangan penduduk Palestina tak akan pernah padam. Karena, tanah yang mereka perjuangkan adalah tanah yang wajib dijaga, tanah para nabi, juga merupakan kiblat pertama kaum Muslim.
Kewajiban menjaga dan memperjuangkan tersebut tidak hanya untuk penduduk Palestina, tetapi untuk kaum Muslim seluruh dunia. Karena, umat Islam ini ibarat satu tubuh, sehingga kita semua seharusnya berupaya dengan sungguh-sungguh menyadarkan umat bahwa kita butuh persatuan. Dengan persatuan umat dan adanya kewajiban jihad dari seorang pemimpin Islam di bawah naungan khilafah, kita bisa membebaskan tanah yang diberkahi dari penjajah Zionis laknatullah.
Umi Salamah
DIY


