
Oleh: Noor Jannatun Ratnawati, S.Kom.I.
Linimasanews.id—Kebiadaban genosida yang dilakukan Zionis Israel di Gaza masih terus terjadi hingga hari ini. Seolah tidak ada pihak mana pun yang mampu menghentikan, kekejian Zionis sudah di luar batas akal manusia, bahkan belum pernah terjadi sepanjang sejarah dunia yang melebihi kekejaman di Gaza, Palestina. Sekalipun seluruh dunia mengecam, namun hanya bisa menyaksikan, tanpa bisa menghentikannya.
Berita dari para jurnalis pun berupaya dibungkam hingga masyarakat dunia sebagian mulai lupa. Kekejian yang menimpa Gaza pun makin parah sepanjang hampir 2 tahun sejak Oktober 2023. Kebrutalan itu tidak lagi memilah fasilitas publik ataupun masyarakat sipil.
Serangan juga menyasar tenaga medis dan jurnalis yang jelas memiliki perlindungan hukum di zona konflik. Pada 25 Agustus 2025, serangan udara ganda dari Israel kembali menyasar rumah sakit. Kali ini Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, wilayah Gaza selatan hingga menyebabkan 20 orang termasuk 5 jurnalis gugur (bbc.com, 26/8/2025).
Perdana menteri Israel sendiri Benjamin Netanyahu menyebut insiden itu sebagai kecelakaan tragis yang terus berupaya dilakukan penyelidikan menyeluruh. Padahal, belum lama berselang (10/8) juga telah terjadi serangan di depan Rumah Sakit al Shifa yang menjadikan tenda jurnalis sebagai target serangan. Akibatnya, 7 wartawan gugur. Sungguh ini adalah bukti kebiadaban yang sengaja dilakukan oleh Zionis Israel agar dunia tidak mengetahui kejahatannya di Gaza. Catatan Badan kommittee to protect journalists (CPJ) merangkum jurnalis yang menjadi korban di Gaza sejak serangan Oktober 2023 mencapai 200 orang.
Kesendirian Gaza
Dunia mengetahui genosida di Gaza. Sejumlah solusi ditawarkan, namun tidak menjadikan kemerdekaan sepenuhnya. Solusi dua negara, misalnya, artinya tetaplah membiarkan tanah Palestina dirampas oleh penjajah Zionis Israel.
Hingga saat ini, umat Islam yang jumlahnya dua miliar lebih belum bisa bersatu untuk melawan keangkuhan Israel yang didukung oleh Amerika Serikat. Pasukan militer negeri-negeri muslim masih terkungkung paham nasionalisme. Sehingga meskipun Gaza telah dalam kondisi paling buruk, tak ada kekuatan militer negeri-negeri muslim yang tampil berani menghentikan kebiadaban Israel.
Padahal, Rasulullah saw. telah menyampaikan, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh. Apabila suatu anggota badan merintih kesakitan, maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR. Muslim)
Dari abu Musa radhiallahu ‘anhu juga disebutkan, Rasulullah saw. bersabda, “Seorang mukmin dengan mukmin yang lain seperti sebuah bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan satu dan lainnya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Inilah seharusnya tanggung jawab umat Islam seluruh dunia atas persoalan pembebasan Palestina. Bantuan makanan, obat-obatan dan lainnya sangatlah dibutuhkan. Namun, sebagai solusi untuk dapat menghentikan dan membebaskan Palestina sepenuhnya dari penjajahan, hal itu bukanlah solusi hakiki.
Palestina Tanah Umat Islam
Palestina ditaklukan dengan damai oleh Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Sebelumnya, Palestina berada di bawah kekuasaan imperium Romawi. Pada tahun ke-16 Hijriyah, 16 tahun setelah wafatnya Rasulullah, Umar mewujudkan cita-cita penaklukan yang telah dirancang di masa Rasulullah. Hal itu terus berlangsung pada masa kekhalifahan yang panjang hingga masa kekhilafahan Utsmani.
Dengan demikian, sejarah dunia mencatat bahwa Palestina adalah tanah milik kaum muslim yang dirampok zionis Yahudi dengan adanya mandat dari Inggris pasca Perang Dunia I. Sejak saat itu, Palestina terus dijajah zionis hingga hari ini dengan tingkat kekejaman atas penduduknya yang luar biasa.
Tidak ada cara lain. Solusi pembebasan Palestina hanya akan terwujud melalui jihad yang dilakukan oleh negara dengan kepemimpinan seorang khalifah. Kewajiban jihad ini adalah metode dakwah yang telah ada sejak masa Rasulullah dan mampu mengakhiri penjajahan. Terbukti, Islam datang membawa rahmat dengan aturan yang berkeadilan bagi seluruh manusia.
Jika ditilik kembali, kekuatan militer negeri-negeri muslim kini jika terhimpun dalam pasukan khilafah Islam, pasti akan menjadi kekuatan yang mampu membuat Zionis enyah dari Palestina. Oleh sebab itu, perlu terus digaungkan secara massif kepada umat pemahaman akan pentingnya kewajiban umat untuk membela Palestina dengan solusi syar’i, yaitu jihad fisabilillah yang dilaksanakan umat dalam bingkai sistem Khilafah Islamiyah.


