
Oleh: Lia Ummu Thoriq (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Linimasanews.id—Polisi mengamankan tiga orang remaja yang diduga hendak tawuran di daerah Bojongsari, Depok. Mereka membawa senjata tajam. Peristiwa ini terjadi pada Selasa, 21 Oktober 2025 pukul 21.30 WIB. Ketiga remaja berinisial IS (16), IK (15), dan GR (14) itu kemudian dibawa ke Polsek Bojongsari (detik.com, 21/10/2025).
Tawuran adalah tindakan yang merugikan masyarakat. Tawuran juga akan membahayakan pelaku. Tak sedikit pelaku tawuran kehilangan nyawa. Karenanya, dunia pendidikan harus berbenah. Sebab, pelaku tawuran kerap anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah.
Mengapa tawuran pelajar makin marak? Pertama, karena pendidikan hanya dilihat dari nilai akademis. Nilai-nilai moral yang terkandung dalam pendidikan kerap tidak dijadikan pedoman dalam bertingkah laku. Pelajaran hanya sebagai hafalan, tanpa mengetahui maknanya.
Kedua, pendidikan sekuler. Sekularisme yang diterapkan di negeri ini sudah masuk dalam rahim pendidikan. Sekularisasi pendidikan menghapuskan campur tangan agama dalam dunia pendidikan. Agama yang seharusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, hanya ditempatkan mengatur masalah ibadah. Wajar tawuran makin liar. Padahal, dalam ajaran agama, tawuran haram hukumnya.
Kondisi ini diperparah dengan kurangnya kasih sayang dari orang tua. Padahal, besarnya amanah yang Allah berikan kepada orang tua tidak boleh dilalaikan. Karenanya, orang tua wajib memiliki ilmu yang mumpuni dalam mendidik anak. Jika orang tua tidak cukup ilmu dalam mendidik anak, maka tidak punya arah dalam mendidik anaknya.
Fakta hari ini, banyak orang tua tidak peduli dengan pendidikan dan perkembangan anaknya. Mereka hanya memikirkan kebutuhan pangan, tanpa memperhatikan perkembangan emosional. Pendidikan dalam keluarga tidak dirasakan oleh anak. Banyak anak kurang kasih sayang orang tua. Hal ini membuat anak melampiaskan kepada hal-hal yang negatif, salah satunya tawuran.
Masyarakat juga menyumbang peranan penting dalam pendidikan dan perkembangan anak. Namun, masyarakat saat ini cuek. Padahal, lingkungan yang ramah anak diperlukan. Masyarakat ibarat inkubator yang akan mendukung perkembangan anak.
Peran masyarakat saat ini mandul terkait dengan tumbuh kembang anak. Amar ma’ruf nahi munkar tidak berjalan dengan baik, tidak ada kontrol dari masyarakat.
Sistem Islam Solusi
Islam menjadikan sistem pendidikan berdasarkan akidah Islam. Islam memberikan bekal kepada anak, menyiapkan anak mukallaf pada saat sudah baligh. Pendidikan ini menjadi tanggung jawab semua pihak yaitu, keluarga, masyarakat, dan negara. Negara bertanggung jawab dalam menyusun kurikulum pendidikan dalam semua level. Pendidikan dalam keluarga negara juga memiliki kurikulumnya. Hal ini untuk satu tujuan, yaitu mewujudkan generasi berkepribadian islami.
Terkait dengan kasus tawuran yang marak terjadi hari ini, Islam tegas melarangnya. Ketika pelaku yang melakukan tawuran sudah baligh, maka Islam akan memberikan sanksi yang tegas pelaku. Dalam kitab Fiqhul Islam Karya Imam Syafi’i, baligh barasal dari bahasa Arab yang artinya “sampai” atau sampai dalam memasuki usia dewasa. Secara umum, baligh dapat ditandai ketika seseorang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang salah. Islam menjadikan baligh sebagai titik awal pertanggungjawaban seorang manusia. Baligh bukan hanya sekedar pubertas, namun ada taklif (beban hukum). Taklif ini berupa hukum-hukum yang terkait dengan perbuatan hamba. Anak yang sudah baligh maka mempunyai kewajiban menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Selain itu, tidak hanya sistem pendidikan formal, tetapi orang tua juga mempunyai tanggung jawab dalam mendidik anak-anak. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt., “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat di atas memberi pelajaran agar orang tua menjaga anak dari api neraka. Salah satu usaha untuk menjaga anak dari api neraka adalah menanamkan akidah Islam yang kuat. Orang tua mempunyai peranan yang penting dan tanggung jawab dalam pendidikan agama kepada anak-anaknya.
Di samping itu, masyarakat Islam menjaga dan mencetak generasi unggul dengan kontrol dan amar makruf nahi mungkar. Demikianlah mekanisme Islam mengatasi persoalan tawuran.


